RM.id Rakyat Merdeka - Kebijakan Bank Indonesia menurunkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen, mengejutkan. Pertumbuhan ekonomi diharapkan bisa berlari kencang, karena penurunan suku bunga mendorong daya beli masyarakat dan menekan bunga kredit.
Chief Economist PT Bank Permata Tbk atau Permata Bank Josua Pardede mengatakan, pemangkasan bunga acuan BI tersebut di luar prediksi. Sebab sebelumnya, Josua melihat kemungkinan BI akan menahan BI-Rate, dengan pertimbangan utama untuk menjaga stabilitas rupiah.
“Namun BI melihat ruang untuk pemangkasan suku bunga acuan masih relatif terbuka lebar, karena sentimen The Federal Reserve (The Fed) yang juga memiliki ruang cukup lebar,” tutur Josua kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Josua berharap, pemangkasan suku bunga acuan ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi domestik, serta meningkatkan daya beli masyarakat dan memperkuat sektor perbankan.
Baca juga : RI Berpotensi Jadi Produsen Geothermal Terbesar Di Dunia
Namun ia mengingatkan bahwa efektivitas kebijakan ini akan sangat bergantung pada respons pasar, serta kondisi global yang masih penuh ketidakpastian.
“Untuk itu, koordinasi antara BI dan Pemerintah menjadi kunci agar stimulus moneter ini dapat berjalan optimal, tanpa mengorbankan stabilitas makroekonomi,” sarannya.
Yang tak kalah penting, imbuh Josua, adalah arah kebijakan fiskal Indonesia di bawah kepemimpinan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, akan tetap menekankan disiplin fiskal sebagaimana era sebelumnya.
“Investor global cenderung lebih berhati-hati dan memilih menunggu, untuk menilai lebih lanjut arah kebijakan fiskal Indonesia,” jelasnya.
Baca juga : Penularan Penyakit Campak Masih Wajar Dan Terkendali
Kondisi ini berujung pada terbatasnya arus modal asing masuk, sehingga memberi tekanan terhadap stabilitas rupiah.
“Untuk itu, BI juga akan cenderung bersikap lebih sabar dalam RDG (Rapat Dewan Gubernur) mendatang,” ucapnya.
Terpisah, Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro menilai, langkah penurunan BI-Rate dapat berdampak pada kenaikan harga saham perbankan.
“Pergerakan harga saham perbankan umumnya berkorelasi dengan arah suku bunga,” jelas Andry kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Baca juga : Kasus TPPU Zarof Ricar, Kejagung Sita Aset Rp 35 M
Jika Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, menurunkan suku bunga acuannya dan kemudian diikuti oleh BI, maka harga saham perbankan berpotensi naik.
“Saham perbankan biasanya memang berkorelasi dengan dari trajectory suku bunga,” katanya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.