RM.id Rakyat Merdeka -
Hilirisasi atau proses mengolah bahan mentah menjadi produk setengah jadi atau produk jadi yang memiliki nilai lebih tinggi melalui industrialisasi, terus menunjukkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.
Dari sisi investasi, hilirisasi sukses menjadi daya tarik investor. Terbukti, pada
Triwulan III-2025, nilai investasi hilirisasi tembus Rp 150,6 triliun atau mencakup 30,6 persen dari total realisasi investasi secara keseluruhan. Naik 64,6 persen dibanding tahun lalu, dalam periode yang sama.
Baca juga : Total Investasi Triwulan III Rp 491,4 Triliun, Target 2025 Tembus 25,8 Persen
“Kalau kita lihat, memang kontribusinya ini secara perlahan meningkat. Kalau dulu masih di level 25-26 persen dari total investasi yang masuk, sekarang sudah mencapai 30 persen. Bahkan 30,5 persen,” kata Menteri Investasi & Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (17/10/2025).
“Jadi, program yang dicanangkan pemerintah ini ternyata memang memberikan dampak yang positif, terutama dari investasi yang masuk,” imbuhnya.
Rosan menjelaskan, investasi sektor hilirisasi di Indonesia masih didominasi oleh mineral nikel. Hal ini bukannya tanpa alasan. Mengingat cadangan nikel Indonesia yang mencapai kurang lebih 42 persen, merupakan yang terbesar di dunia.
Baca juga : Investasi Swasta Tembus Rp 65 T, IKN Laris Manis
“Alhamdulillah di Indonesia ini, sudah ada ekosistem yang penuh, mulai dari tambang nikel sampai EV battery, termasuk juga recycle baterai,” papar Rosan.
Berikut rincian realisasi investasi sektor hilirisasi di Triwulan III-2025 senilai total Rp 150,6 triliun dengan kurs APBN 1 dolar Amerika Serikat (AS) = Rp 16 triliun:
Mineral (Total Rp 97,8 Triliun)
- Nikel Rp 42,0 triliun
- Tembaga Rp 21,2 triliun
- Bauksit Rp 15,6 triliun
- Besi baja Rp 9,5 triliun
- Timah Rp 1,5 triliun
- Lainnya (pasir silika, emas, perak, kobalt, mangan, batubara, aspal Buton, logam tanah jarang) Rp 8 triliun
Perkebunan dan Kehutanan (Total Rp 35,9 triliun)
- Kelapa sawit Rp 21 triliun
- Kayu log Rp 11,7 triliun
- Karet Rp 1,6 triliun
- Lainnya (termasuk pala, kelapa, kakao, dan biofuel) Rp 1,6 triliun
Minyak dan gas bumi (total Rp 15,4 triliun)
- Minyak bumi Rp 10,4 triliun
- Gas bumi Rp 5 triliun
Perikanan dan kelautan (total 1,5 triliun)
Komoditas mencakup garam, ikan TCT (tuna, cakalang, tongkol), udang, rumput laut, rajungan, dan tilapia
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.