BREAKING NEWS
 

Program B35 dan B40 Ideal untuk Jaga Stabilitas Energi & Kesejahteraan Petani

Reporter : HENDRAWAN KOSIM WIJAYA
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Rabu, 22 Oktober 2025 12:45 WIB
Foto: Pranata UI.

RM.id  Rakyat Merdeka - Rencana pemerintah untuk mengimplementasikan program biodiesel B50 menuai banyak tanggapan dari berbagai kalangan, tak terkecuali akademisi.

Mereka menilai, kebijakan pencampuran bahan bakar nabati hingga 50 persen berpotensi menimbulkan sejumlah dampak, mulai dari terganggunya produksi, penurunan ekspor, hingga melemahkan kesejahteraan petani sawit.

Kenaikan kebutuhan minyak sawit mentah (CPO) untuk memenuhi B50 dinilai belum seimbang dengan kapasitas produksi nasional saat ini.

Hasil kajian Pusat Penelitian Pranata Pembangunan, Lembaga Penelitian Universitas Indonesia (Pranata UI) menunjukkan bahwa tingkat blending optimal CPO ke dalam biodiesel seharusnya berada di kisaran 37,8 persen atau setara dengan program B40.

Angka ini dianggap paling ideal untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi domestik, ekspor, dan stabilitas harga pangan.

Implementasi B50 tanpa perhitungan matang dikhawatirkan justru menekan pasokan minyak goreng di dalam negeri serta mempersempit ruang ekspor CPO yang selama ini menjadi sumber devisa penting.

Dr. Surjadi, S.E., M.A., Peneliti Pranata UI mengatakan, pemerintah perlu berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan energi berbasis sawit.

Baca juga : BBM Campur Etanol E10 Persen Dorong Transisi Energi Dan Kesejahteraan Petani

Ia menekankan pentingnya menjaga ketahanan energi sekaligus memastikan stabilitas harga minyak goreng, tandan buah segar (TBS), serta keberlanjutan fiskal Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Ia juga mengingatkan agar pemerintah tidak menaikkan pungutan ekspor karena kebijakan itu bisa menekan harga TBS di tingkat petani, terutama petani swadaya yang berisiko mengalami penurunan kesejahteraan akibat kebijakan tersebut.

Lebih lanjut, BPDPKS didorong untuk memperluas perannya, tidak hanya menyalurkan subsidi biodiesel, tetapi juga memperkuat program replanting, peningkatan produktivitas kebun rakyat, serta pendanaan riset dan stabilisasi harga minyak goreng.

“Petani yang akan paling dirugikan apabila kebijakan B50 tidak dipertimbangkan dengan masak,” ungkap Surjadi.

Peningkatan produksi CPO harus menjadi prioritas nasional, termasuk evaluasi terhadap regulasi yang menghambat peremajaan sawit rakyat.

Dengan demikian, keseimbangan antara kebutuhan energi, ketahanan pangan, ekspor, dan stabilitas fiskal dapat terjaga secara berkelanjutan.

Adsense

Prof. Bayu Krisnamurthi, Guru Besar IPB University menyebut investasi di sektor kelapa sawit tengah mengalami stagnasi, sejalan dengan stagnannya produksi nasional.

Baca juga : Patuhi Arahan Presiden, Mendagri Fokus Jaga Stabilitas Harga Di Daerah

Para pelaku usaha memilih bersikap hati-hati sambil menunggu kejelasan arah kebijakan pemerintah, terutama yang berkaitan dengan regulasi lahan dan perkebunan.

Padahal, proses investasi di sektor ini membutuhkan waktu panjang, sekitar 12 hingga 18 bulan sejak kebijakan diterbitkan hingga hasil mulai terlihat.

Ketidakpastian ini membuat geliat investasi baru tertahan dan berdampak pada perlambatan ekspansi industri sawit nasional.

Kondisi stagnasi ini juga berimbas pada daya saing sawit Indonesia di pasar global. Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak sawit kini tercatat sekitar US$ 300 lebih tinggi dibanding soybean oil atau minyak kedelai.

Selisih harga yang cukup besar itu membuat banyak negara konsumen utama mulai mengalihkan riset mereka ke alternatif pengganti minyak sawit.

Jika tren ini berlanjut, maka pangsa pasar internasional sawit Indonesia berpotensi semakin tertekan dan pendapatan ekspor pun menurun.

Sementara itu, rencana pemerintah untuk meningkatkan bauran biodiesel dari B40 menjadi B50 dinilai dapat memberikan tekanan tambahan terhadap industri sawit.

Baca juga : Integrated Terminal Dumai, Penjaga Pasokan Energi Di Tengah Sumatera

Kebutuhan tambahan CPO untuk mendukung program ini diperkirakan mencapai 4 juta ton, dengan tambahan subsidi sekitar Rp10–12 triliun per tahun.

Harga Tandan Buah Segar (TBS) petani juga diperkirakan turun sekitar Rp 1.700 per kilogram, sementara harga minyak goreng bisa naik sekitar Rp 1.900 per liter.

Selain itu, ekspor sawit berpotensi turun sekitar 5 juta ton per tahun. Walaupun ada penghematan impor solar hingga Rp 172 triliun, potensi kehilangan devisa akibat turunnya ekspor sawit mencapai Rp 190 triliun, sehingga bisa menimbulkan kerugian bersih devisa sekitar Rp 18 triliun.

Kenaikan harga TBS yang sempat diharapkan petani pun diprediksi tidak akan bertahan lama karena tekanan fiskal dan ekspor yang melemah.

Ia menilai, jika tidak dibenahi secara serius maka rencana penerapan B50 justru bisa menjadi ‘genta kematian bagi sektor sawit yang kini sudah kehilangan daya saing di pasar global.

“Biodiesel diperlukan pada saat harga minyak bumi sangat tinggi dan harga minyak sawit atau minyak nabatinya turun, tetapi saat ini berbanding terbalik,” tutupnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense