BREAKING NEWS
 

Danantara Kawal Transformasi Garuda, Empat Dimensi Jadi Arah Perbaikan

Reporter & Editor :
BAMBANG TRISMAWAN
Jumat, 14 November 2025 16:13 WIB
Managing Director Business 3 Danantara Febriany Eddy (tengah), Managing Director Danantara Rohan Hafas (kiri), dan Senior Vice President Public Affairs Danantara Michael Reza Say (kanan) saat berbincang dengan media dalam acara coffee morning di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (14/11/2025). (Foto: BCG/Rakyat Merdeka/RM.ID)

RM.id  Rakyat Merdeka - Danantara menyatakan siap mengawal transformasi Garuda Indonesia. Empat fokus perbaikan disusun untuk memperkuat kembali operasional maskapai. Mulai dari layanan, disiplin bisnis, kinerja operasional, hingga pembenahan teknologi. Pendekatan ini diharapkan dapat mempercepat proses pemulihan yang tengah berjalan dan membawa Garuda kembali menjadi maskapai yang membanggakan.

Hal tersebut disampaikan Managing Director Business 3 Danantara, Febriany Eddy, dalam pertemuan dengan media di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (14/11/2025). Hadir dalam acara tersebut Managing Director Danantara Rohan Hafas.

Febriany menjelaskan, dari 21 prioritas kerja Danantara yang telah dibahas bersama DPR, restrukturisasi Garuda Indonesia menjadi agenda yang harus dituntaskan paling cepat. Total dana Rp23,67 triliun digelontorkan melalui dua skema. Sebanyak Rp17,02 triliun sebagai setoran modal tunai dan Rp6,65 triliun dari konversi pinjaman pemegang saham (shareholder loan).

Menurutnya, capital injection bukanlah ujung proses, melainkan awal dari perjalanan panjang penyehatan Garuda. Sebagian besar dana dialokasikan untuk perawatan pesawat Garuda dan Citilink yang selama ini banyak grounding. Kondisi itu membuat maskapai terkena double hit. Pertama, tidak memperoleh pendapatan karena pesawat tak terbang. Di saat yang sama Garuda tetap harus membayar biaya sewa pesawat setiap hari. "Karena itulah, perawatan menjadi tahap pertama yang dikawal ketat" ujarnya. 

Febriany mengatakan, return to service (RTS) menjadi pekerjaan paling mendesak. Puluhan pesawat Garuda dan Citilink masih parkir di darat menunggu perawatan. Kondisi global pascapandemi membuat dunia kekurangan slot MRO (pemeliharaan, perbaikan dan operasi) dan suku cadang.  Sehingga proses perawatan dan perbaikan harus antre. “Ini pesawat, bukan becak. Ada uang belum tentu ada barang. Setiap hari pesawat tak terbang, bolongnya makin besar,” ujarnya. 

Baca juga : Danantara Perkuat Arah Restrukturisasi Dan Transformasi Garuda Indonesia

Meski begitu, Danantara menargetkan seluruh pesawat grounded bisa kembali mengudara secara bertahap mulai tahun depan.

Menurut dia, perbaikan pesawat memerlukan waktu dan bergantung pada ketersediaan slot perawatan global. Karena itu, hasil finansial Garuda akan sangat ditentukan oleh kecepatan real time strategy (RTS).

Setelah kembali terbang, Garuda disebut harus jauh lebih disiplin. Industri penerbangan, kata Febriany, merupakan bisnis bermargin tipis. Hanya 2–7 dolar AS per kursi di Asia Pasifik. Karena itu, pemilihan rute harus lebih ketat. Proporsi rute yang menghasilkan profit mesti meningkat signifikan. Negosiasi ulang codeshare, penguatan aliansi, efisiensi biaya, hingga peningkatan porsi pendapatan kargo turut disiapkan sebagai bagian dari transformasi bisnis.

Adsense

Febriany menambahkan, ekuitas Garuda yang sehat secara konsolidasi adalah syarat agar operasional kembali normal. Setelah dana masuk, Danantara tidak berhenti hanya memberikan pembiayaan, tetapi ikut mengawal prosesnya dari dekat. “Kita akan bekerja bersama manajemen Garuda,” katanya.

Febriany juga menyoroti pentingnya transformasi kepemimpinan. Menurut dia, perubahan hanya akan berjalan jika dimulai dari pucuk pimpinan. Direktur Utama Garuda Gelnny H Kairupan menurutnya menunjukkan komitmen luar biasa. “Beliau bilang, ‘Bu, saya bersedia mati demi NKRI.’ Saya sendiri terkejut mendengar komitmen beliau. Dan artinya ini sudah tak perlu ditanyakan lagi,” ujarnya. 

Baca juga : Abdul Muti Dan Arah Baru Transformasi Pendidikan Indonesia

Glenny kemudian menunjuk Thomas sebagai wakilnya, sosok yang dinilai humble, rajin bekerja, dan cepat belajar. Dua praktisi aviasi berpengalaman, Neil Raymond Mills (Direktur Transformasi) dan Balagopal Kunduvaraikut (Direktur Keuangan dan Manajemen Resiko) bergabung memperkuat jajaran transformasi.

Sementara talenta-talenta muda internal seperti Reza Aulia Hakim (Direktur Niaga), Dani Haikal Iriawan (Direktur Operasi), Mukhtaris (Direktur Teknik), dan Eksitarino Irianto (Direktur Human Capital & Corporate Service) diberi mandat penting untuk menghindari ketergantungan pada “Garuda Way” yang selama ini membuat referensi pengelolaan kurang beragam.

Febriany menekankan pentingnya coaching dari para expert untuk mengembangkan pemimpin muda dari dalam Garuda: “Bala dan Rino sudah dikasih tugas coaching. Harapannya muncul pemimpin Garuda dari generasi muda," cetusnya. 

Menurut Febriany, transformasi Garuda adalah transformasi budaya. Pemimpin harus memberikan contoh, bukan sekadar instruksi. Ia menekankan Danantara sudah meminta agar mengurangi gimik dan seremoni yang tidak perlu. "Karena saat ini seluruh energi harus diarahkan pada kerja nyata," ujarnya.

Di saat yang sama, Febriany menjabarkan empat dimensi transformasi yang kini sedang dikejar. Empat dimensi itu adalah layanan, bisnis, operasional, dan teknologi. Untuk layanan, Danantara ingin mengembalikan standar full service Garuda yang dulu dikenal unggul, mulai dari cara awak kabin melayani penumpang hingga pembaruan hiburan di pesawat dan penyajian makanan. “Layanannya harus top notch. Dulu kru Garuda sampai menunduk agar bisa eye to eye dengan penumpang,” ujarnya.

Baca juga : Pemerintah Kebut Transformasi Digital, Startup Lokal Kian Moncer

Di aspek operasional, fokus terbesar tetap pada keselamatan, ketepatan waktu, dan RTS. Garuda juga didorong memperbaiki sistem teknologi yang dinilai masih tertinggal dan terpecah-pecah. Ketergantungan pada agen tiket yang menimbulkan komisi besar akan dikurangi untuk memperkuat pendapatan langsung maskapai.

Febriany berharap media membantu menjaga narasi positif demi keberhasilan proses transformasi. Ia menekankan bahwa ekspansi bukan fokus saat ini. Dengan antrean pemesanan pesawat global yang mencapai 7–10 tahun, pembenahan fondasi menjadi prioritas. “Get the basics right. Fondasinya beres dulu, baru bicara ekspansi,” katanya.

Danantara menargetkan Garuda mulai kembali normal pada akhir tahun depan. Setelah itu barulah rencana-rencana jangka panjang, termasuk ekspansi armada dan rute, bisa dibahas. “Kalau sekarang saya bicara ekspansi, Anda pasti tidak percaya. Jadi fokus dulu pada kerja besar tahun ini. Pesawat terbang, layanan pulih, bisnis disiplin. Baru setelah itu bicara masa depan,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense