BREAKING NEWS
 

AI Ubah Standar Kemewahan, Dorong Layanan Hotel Makin Personal

Reporter : KHOIRUL UMAM
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Jumat, 14 November 2025 20:27 WIB
Co-founder The Future Laboratory, Chris Sanderson.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kemewahan dalam industri perhotelan memasuki babak baru. Jika selama ini layanan premium identik dengan fasilitas megah dan rasio staf–tamu yang tinggi, kini kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menjadi penentu baru dalam menciptakan pengalaman istimewa. 

Laporan “New Codes of Luxury: Elevating the Guest Experience in Luxury Hospitality with AI” dari The Future Laboratory dan Together Group mengungkap, 88 persen pelancong mewah menilai layanan berbasis AI akan menjadi elemen esensial dalam lima tahun ke depan.

Co-founder The Future Laboratory, Chris Sanderson menegaskan kemewahan modern tidak lagi bertumpu pada kuantitas layanan, melainkan pada relevansi dan personalisasi.

"Kemewahan masa depan bukan soal lebih banyak staf atau fasilitas, tetapi bagaimana teknologi meningkatkan makna pengalaman tamu,” kata Sanderson, dalam keterangannya, Jumat (14/11/2025). 

Menurut Sanderson, AI berpotensi besar menutup kesenjangan inovasi yang selama ini memisahkan hotel kelas menengah dari segmen ultra-mewah. Dengan AI, merek hotel dapat meningkatkan kualitas layanan secara cepat dan efisien. Bahkan, mampu menawarkan pengalaman yang sebelumnya hanya tersedia bagi tamu hotel premium.

Baca juga : Menkop dan MenPU Dorong Percepatan Pembangunan Kopdes Merah Putih

Hotel kelas menengah kini berpeluang memberikan layanan concierge personal 24 jam. Karena merancang perjalanan tamu sejak sebelum keberangkatan hingga menawarkan rekomendasi intuitif selama menginap, yang semuanya menggunakan kecerdasan buatan.

Meski menyambut teknologi, pelancong mewah tetap menaruh perhatian besar pada privasi dan kendali data. Sanderson menegaskan kunci sukses penggunaan AI terletak pada transparansi dan persetujuan.

“Tamu harus merasa tetap memegang kendali. Biarkan mereka menentukan seberapa banyak informasi yang ingin dibagikan dan jenis layanan apa yang mereka harapkan,” jelasnya.

Laporan tersebut mencatat bahwa 47 persen konsumen bersedia membayar 10 persen lebih mahal jika memperoleh pengalaman menginap yang benar-benar personal. Personalisasi yang paling berharga, kata Sanderson, mencakup layanan-layanan sederhana tapi tepat sasaran. Seperti pemesanan restoran, rekomendasi aktivitas keluarga, hingga bantuan bahasa di destinasi yang asing.

Adsense

Meskipun tamu menginginkan personalisasi, mereka tidak ingin AI terlalu mencolok. Sanderson menyebut pelancong mewah sudah terbiasa dengan layanan “invisible service”, yakni kehadiran staf yang tidak mengganggu namun selalu siap saat dibutuhkan. AI, menurutnya, harus bekerja dengan prinsip yang sama.

Baca juga : Hajar Dewa United, Borneo FC Makin Garang Di Puncak

"Ini semua tentang menjaga privasi namun tetap hadir di belakang layar. AI akan tumbuh pesat jika bisa memberikan layanan yang mulus dan tidak menginterupsi," ujarnya. 

Meski AI mengambil alih banyak tugas administratif, interaksi manusia tetap tidak tergantikan. Laporan tersebut menemukan 63 persen tamu tetap menilai sentuhan manusia sebagai bagian penting dari kemewahan.

"AI seharusnya tidak menggantikan manusia. Teknologi harus mengambil alih pekerjaan yang tidak perlu dilakukan staf, sehingga mereka dapat fokus berinteraksi dengan tamu,” sebut Sanderson.

Banyak merek hotel tradisional yang telah puluhan tahun beroperasi justru tertinggal dari merek baru berbasis teknologi. Tantangan terbesar mereka adalah data yang terfragmentasi sehingga pengalaman tamu tidak konsisten.

“Merek baru memulai dari lembaran bersih dan bergerak lebih cepat. Hotel-hotel lama perlu bertindak cepat untuk menyatukan semua elemen layanan mereka,” ujar Sanderson.

Baca juga : Indonesia Kembali Pimpin Jaringan Produsen Vaksin Dunia

Pertumbuhan pariwisata mewah di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menciptakan peluang signifikan. Wisatawan muda berpenghasilan tinggi dan digital native menuntut pengalaman yang dipersonalisasi namun tetap manusiawi.

Sanderson menilai AI akan memungkinkan wisatawan menjelajahi destinasi baru. Tidak lagi terpusat pada 10 persen destinasi populer yang dikunjungi 80 persen wisatawan. AI juga memungkinkan pengalaman premium dengan biaya lebih terjangkau, membuka peluang besar bagi pasar berkembang seperti Bali, Lombok, Labuan Bajo, hingga daerah-daerah eksotis di Kalimantan dan Sulawesi.

Ke depan, Sanderson melihat AI sebagai penghubung antara tamu dan merek, menciptakan hubungan jangka panjang yang lebih bermakna.

“Kata kuncinya adalah kesesuaian. Bagaimana teknologi digunakan secara tepat untuk memperkuat hubungan dan menciptakan komunitas tamu yang loyal,” pungkasnya. 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense