RM.id Rakyat Merdeka - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa optimistis Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dapat menembus level 10.000 pada 2026. Hal itu ditopang oleh menguatnya fondasi ekonomi nasional.
Hal itu disampaikan Purbaya saat pembukaan perdagangan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Hadir juga pada acara itu di antaranya; Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu, dan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman.
Baca juga : Kedinginan Di Tenda, Bisa Mandi Air Panas Setiap Hari
Mengawali perdagangan 2026, IHSG dibuka menguat di level 8.684,069. Indeks kemudian kembali menguat 101,19 poin atau 1,17 persen ke posisi 8.748,13 pada penutupan perdagangan.
Purbaya mengatakan, sentimen positif pasar saham didorong oleh membaiknya fundamental ekonomi. “Kalau saya lihat, fondasi ekonominya sudah agak membaik sekarang, dan tahun ini akan lebih baik lagi,” ucapnya.
Menurut Purbaya, penguatan IHSG di awal tahun merupakan respons pasar atas membaiknya koordinasi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia (BI). Sinkronisasi tersebut diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca juga : IKN Fokus Ke Penguatan Fungsi Kota-Pemerintahan
“Kebijakan kita dengan Bank Indonesia sudah sinkron, seharusnya ekonomi bertumbuh lebih cepat. Jadi, pelaku pasar siap-siap saja,” tegasnya.
Mantan Ketua LPS itu menegaskan target IHSG 2026 di level 10.000 bukan hanya ditopang oleh perbaikan ekonomi, tapi juga pertumbuhan laba emiten. “Jadi, kalau investor yang jeli, jangan sampai ketinggalan,” ujarnya.
Purbaya juga menyinggung upaya pemberantasan praktik manipulasi pasar atau saham gorengan. Menurutnya, ia akan terus mencermati keseriusan Bursa dalam memberantas praktik tersebut.
Baca juga : Haryono Umar: Jangan Ada Selisih Besar Tak Dijelaskan
Lebih lanjut, Purbaya mengatakan, Pemerintah belum menerima permintaan insentif apa pun dari Bursa. “Mereka belum minta insentif. Kalau mereka minta insentif, saya akan tanya apa prestasinya? Berapa orang yang ditangkap?” ujarnya.
Terkait target IHSG tahun lalu yang tidak mencapai 9.000, Purbaya menegaskan, hal tersebut disebabkan oleh desain kebijakan yang kurang tepat. “Ke depan, dengan kebijakan yang sinkron dan ekonomi yang bagus, seharusnya IHSG naik lebih cepat,” jelasnya.
Sementara, Chief Economist IQI Global, Shan Saeed menegaskan, penguatan IHSG di awal tahun yang ditutup melonjak 1,17 persen ke level 8.748,13 merupakan sinyal kuat dari pasar. Menurut dia, prospek pasar saham Indonesia ke depan dinilai semakin menarik.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.