RM.id Rakyat Merdeka - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu dibuka melemah lebih dari enam persen ke level 8.393,51. Pelemahan tersebut terjadi di tengah aktivitas perdagangan yang cukup tinggi sejak awal sesi.
Hingga pukul 10.45 WIB, volume transaksi tercatat mencapai 336,4 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 23,4 triliun, mencerminkan tingginya respons pelaku pasar terhadap sentimen yang berkembang.
Sejumlah analis menilai koreksi IHSG dipengaruhi oleh kebijakan terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI). Pada 27 Januari 2026, MSCI mengumumkan penerapan perlakuan sementara terhadap pasar modal Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan dalam proses peninjauan indeks.
Baca juga : Purbaya Optimistis IHSG Terus Naik, Investor Diminta Tak Ragu Investasi
MSCI menyebutkan langkah tersebut diambil untuk memitigasi risiko investability sekaligus memberikan ruang bagi otoritas pasar Indonesia dalam melakukan penguatan pada sejumlah aspek, terutama terkait transparansi struktur kepemilikan saham.
Meski demikian, analis menilai pelemahan IHSG tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional dan justru dapat dimanfaatkan sebagai peluang investasi.
Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI) David Sutyanto mengatakan pasar modal Indonesia masih memiliki fondasi yang kuat, ditopang oleh pertumbuhan jumlah investor domestik, fundamental ekonomi yang relatif solid, serta kualitas emiten yang kompetitif di tingkat regional.
Baca juga : IHSG Dibuka Turun Ke Level 8.974 Pagi Ini
“Situasi ini sebaiknya dilihat sebagai momentum perbaikan, bukan semata-mata ancaman. Tantangannya adalah memastikan infrastruktur regulasi, transparansi data, dan konsistensi kebijakan dapat mengimbangi kemajuan pasar,” ujar David dalam keterangannya, Rabu (28/1/2026).
Ia menambahkan, koreksi IHSG merupakan bagian dari proses penyesuaian pasar terhadap informasi baru dan dapat menjadi peluang untuk melakukan penguatan struktural pasar modal nasional.
“Jika dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya status Indonesia sebagai emerging market yang dapat dipertahankan, tetapi kualitas pasar modal nasional juga dapat meningkat dan semakin dipercaya investor global,” katanya.
Baca juga : Lawan Perdagangan Orang, Imigrasi Perkuat Sistem Digital
Pandangan serupa disampaikan Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji Gusta. Menurutnya, pelemahan IHSG saat ini kurang mencerminkan kondisi makroekonomi Indonesia yang masih solid.
“Secara fundamental, perekonomian Indonesia masih kuat. Oleh karena itu, penurunan IHSG ini sebaiknya tidak disikapi dengan kepanikan,” ujar Nafan.
Ia menilai kondisi tersebut justru membuka peluang bagi investor untuk menerapkan strategi investasi jangka menengah hingga panjang, seperti buy on dip, dengan tetap memperhatikan profil risiko masing-masing.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.