BREAKING NEWS
 

Laporan UOB: Kenaikan Inflasi Januari Bersifat Sementara

Reporter & Editor :
UJANG SUNDA
Selasa, 3 Februari 2026 14:29 WIB
Grafik kenaikan inflasi di Januari 2026. (Gambar dibuat dengan ChatGPT)

RM.id  Rakyat Merdeka - Lonjakan inflasi Indonesia pada awal 2026 dinilai bersifat sementara dan tidak mencerminkan tekanan struktural terhadap perekonomian. Laporan UOB menyebut kenaikan inflasi lebih dipicu faktor teknis, terutama efek basis rendah energi dan kenaikan harga emas, sementara permintaan domestik tetap terkendali.

Inflasi Januari tercatat 3,55 persen secara tahunan, sedikit di atas target Bank Indonesia. Namun, secara bulanan justru terjadi deflasi 0,15 persen. UOB menilai, inflasi tahunan terutama didorong kelompok perumahan, utilitas, bahan bakar rumah tangga, serta perawatan pribadi. Kenaikan harga emas global dan domestik juga ikut memberi tekanan.

Inflasi Januari meningkat 3,55 persen secara tahunan, namun secara bulanan terjadi deflasi 0,15 persen,” tulis UOB, dalam Macro Note, Selasa (3/2/2026).

Baca juga : BPJS Kesehatan Luncurkan SISCA JKN, Inovasi Layanan Berbasis AI

Tekanan terbesar datang dari komponen energi. Inflasi energi melonjak hingga 15 persen secara tahunan akibat efek basis rendah tarif listrik tahun lalu serta peningkatan konsumsi saat musim liburan. UOB menilai lonjakan ini lebih bersifat teknis dibanding sinyal tekanan permintaan yang kuat.

Adsense

“Lonjakan inflasi energi didorong efek basis tarif listrik dan peningkatan konsumsi bahan bakar selama periode liburan,” tulis laporan tersebut.

Di sisi lain, harga pangan justru menunjukkan perbaikan. Secara bulanan, harga makanan turun seiring membaiknya pasokan cabai dan bawang serta berlanjutnya diskon tarif kendaraan dari pemerintah. Hal ini membantu menahan tekanan inflasi jangka pendek.

Baca juga : Ekonom: Inflasi Januari Dipicu Low-Base Effect, Bukan Lonjakan Harga

Secara komponen, inflasi Januari dipimpin harga yang diatur Pemerintah sebesar 9,71 persen tahunan, diikuti inflasi inti 2,45 persen dan volatile food 1,14 persen. Struktur ini menunjukkan tekanan inflasi lebih banyak berasal dari faktor administratif dibanding dorongan permintaan berlebihan.

UOB menilai, kenaikan inflasi Januari kemungkinan hanya bersifat sementara. “Kenaikan inflasi Januari kemungkinan bersifat sementara dan bukan tekanan struktural,” tulis UOB.

Ke depan, UOB memperkirakan inflasi sepanjang 2026 tetap stabil dalam kisaran target Bank Indonesia 2,5 persen plus minus 1 persen. Dukungan stimulus Pemerintah serta kondisi permintaan yang masih hati hati dinilai akan menjaga risiko inflasi tetap terkendali. Rata rata inflasi 2026 diproyeksikan sekitar 2,5 persen, sedikit lebih tinggi dibanding estimasi 2025 sebesar 2,1 persen.

Baca juga : WINGS Care Kenalkan Jelita, Sabun Mandi Wangi Bernutrisi

Pandangan ini memperkuat narasi bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap relatif stabil. Deflasi bulanan Januari disebut sebagai bukti efektivitas kebijakan Pemerintah dalam menjaga pasokan dan harga, sementara tekanan tahunan lebih dipengaruhi faktor teknis.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense