RM.id Rakyat Merdeka - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus mendorong pemberdayaan UMKM berbasis perkebunan melalui program hilirisasi, pelatihan kewirausahaan, dan fasilitasi akses pasar. Upaya ini ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperkuat citra positif komoditas perkebunan nasional.
BPDP fokus mengembangkan produk turunan kelapa sawit, kelapa, dan kakao, termasuk pemanfaatan limbah sawit menjadi produk bernilai ekonomi dan berkelanjutan. Selain pendampingan, BPDP juga menargetkan peningkatan nilai penjualan agar UMKM perkebunan semakin mandiri dan memiliki daya saing tinggi.
Dukungan promosi dilakukan secara masif, salah satunya melalui partisipasi BPDP dalam INACRAFT 2026 ke-26 bertema “Exploring and Celebrating Womenpreneurs in Craft” yang digelar pada 4–8 Februari 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC).
Baca juga : UMKM Pertamina Tembus Transaksi Rp 7,5 Miliar di INACRAFT 2026
Dalam ajang tersebut, BPDP memfasilitasi tiga UMKM binaan berbasis turunan kelapa sawit, yakni Cambiacraft Indonesia yang menampilkan kriya berbahan lidi sawit, Jayanti Batik dengan batik berbahan malam dari minyak sawit, serta Smart Batik Indonesia yang menghadirkan kain, busana, hingga payung batik ramah lingkungan.
Booth UMKM binaan BPDP turut dikunjungi Gibran Rakabuming Raka. Wapres mengapresiasi produk turunan kelapa sawit yang dinilai inovatif dan ramah lingkungan, khususnya kain dan busana batik yang menggunakan minyak sawit sebagai bahan malam atau lilin batik.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP Helmi Muhansah mengatakan, keikutsertaan BPDP dalam INACRAFT bertujuan mempromosikan manfaat komoditas perkebunan kepada masyarakat luas.
Baca juga : Perkuat Akses Pasar Global, UMKM Perempuan Indonesia Ramaikan Spring Fair 2026
“Presiden menyampaikan bahwa sawit adalah miracle crop. Karena itu, BPDP akan terus mendorong pengembangan sawit bagi masyarakat, terutama UMKM berbasis perkebunan, agar manfaat ekonominya bisa dirasakan langsung,” ujar Helmi.
Sejalan dengan tema INACRAFT, pemberdayaan juga difokuskan pada pengrajin perempuan, khususnya di sektor batik. Aktivitas membatik dinilai memiliki potensi ekonomi sekaligus mendorong inovasi produk kriya yang estetis dan berkelanjutan.
Direktur Jayanti Batik Sri Nasifah menyatakan, fasilitasi BPDP melalui INACRAFT membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produknya. Menurut dia, penggunaan malam berbahan minyak sawit membuat produk batik lebih ramah lingkungan karena tidak lagi bergantung pada bahan berbasis minyak bumi.
Baca juga : PNM Optimis Pemberdayaan Jadi Penguat Usaha Ultra Mikro
Selain memperluas pasar domestik, partisipasi dalam INACRAFT juga membuka akses langsung ke pembeli internasional. Salah satunya, pembeli asal Jepang, Kodama, mengaku tertarik dengan sandal berbahan lidi sawit.
“Orang Jepang biasa memakai sandal di apartemen. Saya yakin produk ini akan disukai dan populer di Jepang,” ujarnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.