RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah mengambil langkah strategis untuk memperkuat kedaulatan komoditas di pasar internasional. Hal itu dilakukan melalui penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026. Kuota produksi batubara dan nikel dipangkas.
Kebijakan ini bertujuan menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan (supply and demand), sekaligus merespons kondisi harga yang selama ini dinilai lebih banyak dikendalikan oleh pihak asing.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, kebijakan hilirisasi bagian dari swasembada energi yang menjadi salah satu pilar Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Baca juga : Flyover & Jalan Protokol Bukan Tempatnya Atribut
Langkah ini menargetkan optimalisasi sumber daya energi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan pada pihak luar, menjamin keberlanjutan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Bahlil menjelaskan, pemangkasan produksi komoditas batubara dan timah untuk menjaga kestabilan harga, serta mendorong hilirisasi untuk memperkuat perekonomian domestik.
Dia menilai, harga batubara dan timah belum sepenuhnya mencerminkan posisi strategis Indonesia sebagai salah satu pemasok utama dunia.
Baca juga : Bodo/Glimt Vs Inter Milan, Tantangan Lingkar Arktik
“Harga batubara kita dikendalikan oleh asing,” ungkap Bahlil dalam keterangannya, Minggu (15/2/2026).
Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, konsumsi batubara global mencapai sekitar 8,9 miliar ton per tahun. Namun, volume yang diperdagangkan di pasar internasional hanya sekitar 1,3 miliar ton.
Dari jumlah tersebut, Indonesia mengekspor sekitar 560 juta ton atau sekitar 43-44 persen dari total perdagangan global.
“Tapi harganya bukan kita yang kendalikan, ini kan abuleke (tukang bohong),” ucap Bahlil.
Meski kontribusi Indonesia besar, Bahlil menilai penentuan harga masih didominasi pasar global. Karena itu, Pemerintah menyesuaikan volume produksi dengan tingkat permintaan agar tercipta keseimbangan harga.
“Kalau produksi terlalu banyak, sementara permintaan rendah, harga pasti turun. Maka produksinya harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar,” ujarnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.