RM.id Rakyat Merdeka - Pusat Data (Data Center) kini menjadi urat nadi kehidupan masyarakat modern, termasuk di Indonesia. Fasilitas ini berperan vital dalam menopang pelayanan publik dan swasta, arus informasi, konektivitas, transformasi digital, hingga pengembangan kota pintar (smart city).
Karena perannya yang strategis, keamanan Data Center menjadi aspek krusial yang tak bisa ditawar.
Country Manager Axis Communications Johny Dermawan menegaskan, dengan fungsi yang sangat vital tersebut, Data Center dituntut beroperasi tanpa henti alias zero downtime. Sebagai infrastruktur kritis, setiap potensi ancaman dan risiko harus diantisipasi sejak dini.
“Data Center adalah infrastruktur fisik. Tantangannya bukan hanya digital, tetapi juga material. Ancaman bisa bersifat makro maupun operasional, sehingga tim teknologi informasi dan keamanan harus selalu waspada,” ujar Johny di Jakarta, Senin (23/2/2026).
Johny merincikan, pada level makro, risiko yang dihadapi Data Center meliputi biaya pasokan listrik, inflasi, ketersediaan dan retensi talenta lokal, kondisi geopolitik, hingga perubahan rantai pasok global pascapandemi.
Sementara secara operasional, tantangan muncul dari tuntutan zero downtime, potensi gangguan sistem, akses ilegal, keselamatan karyawan, penyamaran (impersonation), hingga serangan siber.
Baca juga : Pramono: Taman Semanggi Bakal Targetkan Ikon Baru Jakarta
Jika tidak diantisipasi sejak tahap perancangan awal (commissioning), seluruh ancaman tersebut dapat menimbulkan konsekuensi serius. Risiko ini diprediksi meningkat seiring ekspansi pusat data secara global.
Berdasarkan Global Outlook Data Center 2026, kapasitas Data Center di kawasan Asia Pasifik diproyeksikan tumbuh 12 persen (CAGR), dari 32 gigawatt menjadi 57 gigawatt pada 2030.
Di Indonesia sendiri, merujuk data Kementerian Komunikasi dan Digital, saat ini terdapat 185 Data Center dengan total kapasitas 274 megawatt. Pemerintah menargetkan kapasitas tersebut meningkat menjadi lebih dari 2.000 megawatt pada 2029.
Johny menjelaskan, kunci perlindungan Data Center terletak pada penerapan sistem keamanan terintegrasi melalui pendekatan berlapis (multi-layered approach). Terdapat enam kombinasi sistem yang saling memperkuat.
Pertama, pengawasan video dengan analitik dan cakupan 100 persen. Kamera kini berfungsi sebagai sensor kaya data yang bukan hanya merekam insiden, tetapi juga mendukung pengambilan keputusan secara real-time.
Sistem ini mampu mencegah, menganalisis, sekaligus merespons ancaman internal dan eksternal. Untuk area luar dengan perimeter luas, pemasangan kamera termal dan visual multisensor yang dikombinasikan radar serta solusi audio menjadi garis pertahanan komprehensif.
Baca juga : Komisi V Desak Percepatan Perbaikan Infrastruktur Jalan
“Kombinasi ini mengoptimalkan investasi dan meminimalkan titik buta. Bahkan bisa mencapai nol titik buta,” jelas Johny.
Kamera termal juga dapat digunakan untuk memantau suhu perangkat dan rak server (heat mapping), mendeteksi lonjakan panas tidak wajar, potensi overheat pada server kritis, hingga indikasi asap dan kebakaran.
Kedua, peningkatan akurasi melalui radar. Radar menjadi pertahanan penting di dalam pagar Data Center. Sistem ini mampu melacak pergerakan di seluruh area, termasuk potensi serangan drone dari udara.
Integrasi kamera dan radar memungkinkan deteksi aktivitas mencurigakan secara cepat dan akurat, termasuk melalui kamera PTZ untuk investigasi lebih detail.
Ketiga, kontrol akses yang sangat aman (foolproof). Akses ke gedung Data Center umumnya menggunakan kombinasi kartu, PIN, dan biometrik sesuai regulasi. Kini, sistem berkembang dengan autentikasi multi-faktor.
Di ruang server, akses dapat diperketat menggunakan pemindai sidik jari atau kode QR, serta kamera sensor gerak yang mendokumentasikan setiap aktivitas.
Baca juga : Ada Perjanjian Tarif, Pemerintah Jamin Tak Tambah Kuota Impor Energi Nasional
Keempat, kamera body worn sebagai bukti forensik. Kamera yang dikenakan petugas menambah lapisan keamanan, terutama saat proses perbaikan atau instalasi. Seluruh aktivitas terdokumentasi sebagai bukti forensik berkualitas tinggi. Perangkat ini juga mampu mendeteksi benturan atau insiden jatuh, sehingga bantuan dapat segera diberikan.
Kelima, integrasi audio jaringan. Sistem audio berbasis IP melengkapi pengawasan dengan pengumuman dan peringatan otomatis, baik untuk mencegah penyusup maupun mengatur kepatuhan di area terlarang. Dalam kondisi darurat, sistem ini dapat menyiarkan instruksi evakuasi dan panduan keselamatan secara real-time.
Keenam, keamanan siber di setiap tahap. Selain pengamanan fisik, sistem keamanan siber tak kalah penting. Data Center merupakan target empuk serangan digital.
“Sebagai target serangan siber, memastikan sistem yang aman sangat vital. Solusi harus mendukung prinsip zero trust dan mematuhi standar keamanan tertinggi pada perangkat keras maupun perangkat lunak, termasuk enkripsi dan trusted execution environment,” pungkas Johny.
Dengan pengamanan berlapis dan terintegrasi, Data Center diharapkan mampu menjadi fondasi kokoh bagi ketahanan infrastruktur digital nasional di tengah lonjakan kebutuhan dan ancaman yang kian kompleks.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.