BREAKING NEWS
 

PINSAR: Merger De Heus–CJ, Ujian Besar dan Momentum Bangkit Peternak Lokal

Reporter : AHMAD LATHIF ROSYIDI
Editor : OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Kamis, 26 Februari 2026 15:38 WIB
Foto: Fraksi Golkar DPR.

RM.id  Rakyat Merdeka - Merger dua raksasa pakan ternak dunia, De Heus Animal Nutrition dan CJ Feed & Care, menjadi penanda babak baru industri perunggasan nasional.

Nilai akuisisi yang mencapai sekitar Rp 24 triliun bukan sekadar transaksi bisnis, melainkan momentum yang dapat menentukan arah keberpihakan pemerintah terhadap kebangkitan peternak lokal di tengah persaingan global yang semakin ketat.

"Bagi industri perunggasan Indonesia, langkah ini mengubah peta persaingan secara signifikan," ujar Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR), Singgih Januratmoko, Kamis (26/2/2026).

Selama bertahun-tahun, kata dia, pasar domestik didominasi tiga kelompok besar, yakni Charoen Pokphand, Japfa, dan Sierad Produce, yang menguasai rantai pasok dari hulu hingga hilir.

"Kini, De Heus hadir sebagai kekuatan baru dengan modal besar, jaringan matang, serta teknologi mutakhir," tuturnya.

Singgih menyatakan, Industri perunggasan nasional masih menghadapi persoalan mendasar. Sepanjang 2025, terjadi kelebihan pasokan (oversupply) Day Old Chicken (DOC). Produksi mencapai 3,5 miliar ekor, sementara kebutuhan nasional sekitar 3,2 miliar ekor.

Ketidakseimbangan ini memicu fluktuasi harga yang merugikan peternak. Masuknya pemain global dengan skala ekonomi besar, teknologi efisien, dan modal kuat berpotensi menekan biaya produksi pakan.

Baca juga : BPJS Ketenagakerjaan Beri Diskon Iuran 50 Persen Buat Pekerja Informal

"Jika pelaku lokal tidak mampu meningkatkan efisiensi, mereka terancam kalah bersaing di pasar sendiri," ingatnya.

Singgih mengutip Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi yang mengingatkan, persaingan tidak seimbang dapat terjadi apabila efisiensi produksi dalam negeri tertinggal dibanding produsen besar luar negeri.

De Heus juga membawa model bisnis terintegrasi, tidak hanya menjual pakan, tetapi menyediakan pendampingan teknis, genetik unggul, hingga solusi pembiayaan.

Model ekosistem ini menjadi tantangan bagi pelaku kecil dan menengah. Namun demikian, kehadiran pemain global juga dapat menjadi katalis pembenahan industri.

"Persaingan sehat akan mendorong peningkatan kualitas, efisiensi, dan inovasi," imbuh Singgih.

Di sisi hulu, pemerintah menaikkan kuota impor Grand Parent Stock (GPS) dari 578 ribu menjadi 800 ribu ekor pada 2026 guna mengantisipasi lonjakan permintaan, termasuk dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Adsense

Kebijakan ini strategis, tetapi juga mengandung risiko. Tanpa perencanaan matang, peningkatan impor GPS dapat memperparah oversupply dalam dua hingga tiga tahun mendatang saat bibit tersebut memasuki masa produksi.

Baca juga : WINGS Care Kenalkan Jelita, Sabun Mandi Wangi Bernutrisi

Dampak kebijakan hulu selalu bersifat jangka panjang dan memerlukan pengelolaan data yang presisi.

Keberpihakan pemerintah bukan berarti menutup pintu investasi asing, melainkan menciptakan level playing field yang adil sekaligus memperkuat daya saing nasional.

Pertama, pembenahan data dan tata kelola industri harus menjadi prioritas. Fluktuasi harga livebird dan oversupply DOC yang berulang menunjukkan lemahnya perencanaan di hulu.

Kebijakan culling DOC dan penetapan Harga Pokok Produksi (HPP) perlu ditegakkan secara konsisten.

Kedua, akses peternak kecil terhadap teknologi dan permodalan harus diperluas. Program MBG merupakan peluang besar. Jika peternak lokal tidak mampu memenuhi kebutuhan tersebut, risiko impor karkas atau daging ayam utuh akan meningkat.

Ketiga, pemerintah daerah perlu menjadikan perunggasan sebagai sektor strategis yang menyerap jutaan tenaga kerja, bukan sekadar komoditas biasa.

Pengawasan terhadap potensi praktik monopoli atau predator pricing pascamerger juga harus diperkuat melalui Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Baca juga : PNM Kembali ke Aceh Tamiang, Salurkan Bantuan dan Perkuat Proses Bangkit Pascabencana

Merger De Heus–CJ menjadi peringatan bahwa globalisasi industri pangan tidak dapat dihindari. Namun industri nasional masih memiliki keunggulan berupa pemahaman terhadap karakter peternak lokal, jaringan distribusi yang kuat, dan loyalitas pelanggan yang telah terbangun lama.

Penguatan koperasi dan organisasi peternak menjadi kunci untuk meningkatkan posisi tawar terhadap perusahaan pakan, baik lokal maupun multinasional.

Merger De Heus–CJ adalah ujian nyata bagi ketahanan industri peternakan Indonesia. Yang diperlukan bukan kepanikan, melainkan penguatan fondasi dari pembibitan, efisiensi pakan, hingga tata niaga yang adil.

Singgih mengingatkan, pemerintah harus hadir sebagai wasit yang tegas sekaligus fasilitator yang memperkuat daya saing nasional. Pelaku usaha pun perlu beradaptasi cepat dan bersatu.

Jika momentum ini dimanfaatkan sebagai pemacu inovasi, Indonesia berpeluang menjadi basis produksi protein hewani terkuat di Asia Tenggara.

"Namun jika lengah, bukan hanya pasar yang hilang, melainkan juga mata pencaharian jutaan peternak kecil yang menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional," tandasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense