Sebelumnya
Sebagai perbandingan, Vietnam memiliki kapasitas penyimpanan sekitar 15 hari dan Laos sekitar 10 hari. Sementara Australia mampu menyimpan hingga 50 hari.
Adapun Jepang memiliki cadangan energi yang jauh lebih besar, mencapai sekitar 254 hari. Hal itu dilakukan karena negara tersebut tidak memiliki sumber minyak domestik yang signifikan sehingga perlu menjaga cadangan energi dalam jumlah besar.
Dengan pengelolaan pasokan yang berjalan dan distribusi yang terus berlanjut, kondisi energi nasional dinilai tetap aman dan terkendali.
Terkait wacana penghematan energi, Komaidi menilai skenario WFH bisa menjadi langkah positif untuk menekan konsumsi BBM. Menurutnya, penghematan energi merupakan langkah wajar ketika harga energi global meningkat. Ia mengatakan, sejumlah negara juga telah menerapkan penghematan energi dan sistem kerja jarak jauh untuk menjaga ketahanan energi nasional.
Baca juga : DKI Terjunkan Satpol PP Dan Petugas Kebersihan
Namun, Komaidi mengingatkan penerapan WFH perlu disesuaikan dengan karakteristik pekerjaan. Pasalnya, tidak semua sektor industri dapat berjalan optimal dengan sistem kerja jarak jauh.
“Pengalaman selama pandemi Covid-19 menunjukkan penerapan WFH mampu mengurangi kemacetan dan konsumsi BBM secara signifikan,” pungkasnya.
Senada disampaikan Direktur Program dan Kebijakan Prasasti Center for Policy Studies Piter Abdullah. Piter menilai langkah penghematan energi perlu dibarengi dengan upaya efisiensi yang lebih luas di berbagai program pemerintah. Menurut dia, yang diharapkan bukan sekadar penghematan energi, tetapi juga rasionalisasi prioritas belanja dan program pembangunan. Dengan begitu, kebijakan yang diambil dapat memberikan dampak yang lebih optimal bagi perekonomian.
“Upaya efisiensi sebaiknya dilakukan secara menyeluruh. Jika penghematan energi diterapkan, misalnya melalui kebijakan WFH, sementara di sisi lain sejumlah program tetap berjalan seperti biasa, dampaknya terhadap ekonomi nasional bisa kurang maksimal,” ujar Piter, kepada Rakyat Merdeka, Minggu (15/3/2026).
Baca juga : Jalan Arsenal Makin Lapang
Piter menjelaskan, kenaikan harga BBM yang sulit dihindari dalam situasi tekanan harga energi global berpotensi mendorong inflasi. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menahan aktivitas ekonomi jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat.
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai wacana kerja dari rumah (WFH) dan pengurangan hari kerja dapat menjadi langkah sementara untuk menekan konsumsi BBM jika terjadi tekanan harga energi global. Menurut Josua, pengurangan mobilitas pekerja kantor terutama di kota besar berpotensi menurunkan konsumsi BBM di sektor transportasi. Namun dampaknya terhadap konsumsi energi nasional secara keseluruhan dinilai terbatas.
“WFH bisa membantu menahan konsumsi BBM dalam jangka pendek, tetapi lebih sebagai bantalan sementara, bukan solusi utama,” kata Josua, Minggu (15/3/2026).
Ia menjelaskan konsumsi energi terbesar di Indonesia masih berasal dari sektor industri. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan pada 2024 sektor industri menyumbang sekitar 45,94 persen konsumsi energi, sedangkan transportasi sekitar 36,11 persen.
Baca juga : Paribas Open, Medvedev Hentikan Rekor Carlos Alcaraz
Karena itu, menurut Josua, kebijakan tersebut lebih tepat diterapkan secara sementara dan selektif, terutama untuk pekerjaan administratif di kawasan perkotaan. Langkah ini dapat membantu mengurangi tekanan impor energi ketika harga minyak dunia meningkat. [DWI/BCG]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.