RM.id Rakyat Merdeka - Perang Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) berdampak pada industri pariwisata Indonesia. Pelaku usaha mengeluhkan penurunan kunjungan wisatawan akibat terganggunya jalur jumlah kunjungan.
Ketua Umum Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Hariyadi Sukamdani mengatakan, kawasan Timur Tengah (Timteng) memiliki peran strategis sebagai hub penerbangan internasional. Kondisi konflik membuat banyak maskapai menghindari wilayah udara tersebut.
“Pesawatnya tidak ada yang terbang dari dan ke negara Middle East. Kalau penerbangan tidak ada, pasti berpengaruh terhadap wisatawannya,” kata Hariyadi kepada Rakyat Merdeka, Minggu (29/3/2026).
Menurut dia, wisatawan mancanegara (wisman) dari Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Doha (Qatar) dan negara Timur Tengah lainnya merupakan pasar penting bagi Indonesia.
“Beberapa penerbangan di negara Eropa melewati langit Timur Tengah. Karena itu, perang di Timur Tengah dampaknya sangat signifikan bagi pariwisata Indonesia,” keluh Hariyadi.
Dampak konflik mulai terasa di sejumlah destinasi wisata.
Baca juga : Penginapan Sederhana & Warung Kecil Laris Manis
“Wisata di Bali mulai sepi dan terjadi cancel untuk paket wisatawan asing,” ungkapnya.
Hariyadi menambahkan, kinerja industri pariwisata pada kuartal II-2026 diperkirakan menghadapi tantangan berat akibat kondisi geopolitik global. Selain gangguan penerbangan, kenaikan harga avtur juga menjadi tekanan bagi industri. Kenaikan tersebut dipicu oleh kelangkaan minyak global.
“Bisa dibayangkan nggak bahwa avtur itu merupakan komponen 40 persen dari struktur biaya penerbangan,” tuturnya.
Dia menilai, kenaikan harga tiket pesawat akan berdampak pada pergerakan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Hariyadi mengingatkan, jika perang berlanjut, tren penjualan industri pariwisata berpotensi menurun pada kuartal II-2026.
“Dengan mahalnya transportasi udara, lalu daya beli juga nanti mungkin tergerus, nilai tukar kita juga melemah, pasti akan menimbulkan banyak biaya tinggi,” jelasnya.
Baca juga : Setan Merah Hancurkan AS
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan, sektor pariwisata sangat bergantung pada kelancaran mobilitas antarnegara.
Dia menjelaskan, Timur Tengah berperan sebagai penghubung wisatawan dari Eropa dan Amerika menuju Asia, termasuk Indonesia. Penyesuaian rute penerbangan yang menghindari wilayah perang berpotensi meningkatkan biaya perjalanan dan menekan minat wisatawan.
Sebelum terjadi perang di Timur Tengah, kinerja pariwisata Indonesia menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, jumlah kunjungan wisman mencapai 15,39 juta atau tumbuh 10,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Capaian tersebut menghasilkan devisa pariwisata sebesar 18,27 miliar dolar AS.
“Ini menunjukkan sektor pariwisata kita sedang berada pada momentum pemulihan yang sangat baik pascapandemi,” ujarnya.
Wisatawan dari Eropa, Timur Tengah dan Amerika menyumbang lebih dari 3,3 juta kunjungan atau sekitar 21,7 persen dari total wisman, dengan kontribusi devisa mencapai 34,7 persen.
Baca juga : Miami Terbuka, Sabalenka Cetak Rekor ‘Sunshine Double’
Kementerian Pariwisata memperkirakan eskalasi perang berpotensi mempengaruhi sekitar 4.700-5.500 kunjungan wisman per hari, dengan potensi dampak ekonomi sebesar Rp 157,9 miliar hingga Rp 184,8 miliar per hari.
“Dampak tersebut tidak hanya dirasakan pada tingkat nasional. Juga berpotensi mempengaruhi berbagai sektor turunan pariwisata seperti akomodasi, restoran, transportasi wisata hingga pelaku UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) di destinasi,” pungkas Widiyanti. DIR
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Senin, 30 Maret 2026 dengan judul "Pengusaha Ngeluh Perang Di Timteng Ganggu Pariwisata, Tiket Pesawat Melonjak, Paket Wisata Dibatalkan"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.