Dark/Light Mode

Negara-negara Tetangga Naikkan Harga Minyak

Bahlil: Belum Ada Opsi Naikkan Harga BBM Subsidi

Minggu, 29 Maret 2026 08:07 WIB
Pengendara sepeda motor melakukan pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jakarta. (Foto: Khairizal Anwar/RM)
Pengendara sepeda motor melakukan pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jakarta. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Keputusan negara-negara tetangga naikkan harga BBM tak membuat Indonesia latah. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan, Indonesia belum mau kerek harga BBM di dalam negeri. Pemerintah memikirkan kantong rakyat, bila harga BBM naik.

Lonjakan harga minyak dunia memaksa banyak negara mengambil langkah cepat. Per Jumat (27/3/2026), harga minyak mentah Brent melonjak 5,66 persen menjadi 108,01 dolar AS per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 4,61 persen menjadi 94,48 dolar AS per barel. Dampaknya langsung terasa. Negara-negara net importir minyak pun kelimpungan.

Malaysia, misalnya, langsung menaikkan harga BBM. RON95 naik dari 2,59 Ringgit menjadi 3,27 Ringgit atau sekitar Rp 11.500 per liter. Harga solar juga naik menjadi 4,72 Ringgit atau sekitar Rp 16.700 per liter.

Singapura lebih tinggi lagi. BBM RON95 dibanderol 3,39–3,57 dolar Singapura atau setara Rp 44.800 hingga Rp 46 ribu per liter. Thailand ikut menyesuaikan. Harga Gasohol 95 mencapai 33,05 Baht atau sekitar Rp 17.035 per liter. Solar bahkan melonjak menjadi 39 Baht atau sekitar Rp 20.101 per liter.

Vietnam tak kalah drastis. Harga solar naik lebih dari 100 persen menjadi 39.660 Dong atau sekitar Rp 25.300 per liter. RON95 juga melonjak 68 persen menjadi sekitar Rp 21 ribu per liter.

Lalu bagaimana Indonesia? Menteri Bahlil memastikan, hingga kini pemerintah belum menaikkan harga BBM subsidi, seperti Biosolar dan Pertalite. Kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar harga energi tetap terjangkau.

Baca juga : Diprediksi Tumbuh 5% di Tengah Konflik Global, Ekonomi Kita Tahan Banting

“Sampai sekarang belum ada opsi untuk menaikkan,” tegas Bahlil.

Untuk BBM nonsubsidi, harga juga belum berubah sejak penyesuaian terakhir pada 1 Maret 2026. Di wilayah Jabodetabek, Jawa, Bali, dan NTB, Pertamax dijual Rp 12.300 per liter. Pertamax Turbo Rp 13.100, Pertamax Green 95 Rp 12.900, Dexlite Rp 14.200, dan Pertamina Dex Rp 14.500 per liter.

Bahlil menegaskan, kebijakan menahan harga ini merupakan bentuk keberpihakan pemerintah kepada masyarakat kecil. Pemerintah tak ingin kantong rakyat terganggu, bila BBM dinaikkan.

Selain itu, lanjut dia, Pemerintah juga terus bergerak menjaga pasokan energi. Salah satunya dengan mencari sumber minyak alternatif, termasuk dari Amerika Serikat dan menjajaki kerja sama dengan Brunei Darussalam.

"Saya sampaikan ulangi lagi bahwa import crude kita dari Middle East itu 20 persen dan sekarang kami sudah menemukan sumber crude baru selain dari Middle East," ungkap Ketua Umum Partai Golkar itu.

Dari sisi pasokan, Pertamina memastikan kondisi masih aman. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan perusahaan terus mengelola stok secara dinamis agar distribusi tetap lancar.

Baca juga : Akibat Disiram Air Keras, Aktivis KontraS Butuh Operasi 2 Tahun

“Pertamina memastikan distribusi berjalan baik di seluruh wilayah,” ujar Baron saat dihubungi Rakyat Merdeka, Sabtu (28/3/2026).

Berbagai langkah juga dilakukan. Mulai dari optimalisasi produksi kilang domestik, diversifikasi sumber impor, hingga penguatan infrastruktur logistik dan penyimpanan. Soal kemungkinan kenaikan BBM nonsubsidi, Pertamina masih melakukan evaluasi.

“Harga nonsubsidi bersifat fluktuatif, tergantung harga minyak dunia dan kondisi ekonomi,” jelas Baron.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha bersyukur kondisi energi nasional masih terkendali. Ia menyebut, ketersediaan BBM seperti Pertalite masih aman dengan cadangan sekitar 20 hari.

“Supply masih bisa kita jaga karena pemerintah aktif mencari sumber alternatif di luar kawasan konflik,” ungkap Satya saat dihubungi Rakyat Merdeka, Sabtu (28/3/2026).

Meski begitu, kewaspadaan tetap diperlukan. Pemerintah dan DEN terus memonitor perkembangan global, termasuk konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak.

Baca juga : Kasih 5 Syarat, Iran Siap Akhiri Perang

Satya juga mengajak masyarakat ikut berhemat energi. “Gunakan transportasi publik, kendaraan listrik, atau alternatif lain agar konsumsi BBM lebih efisien,” pesannya.

Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menilai, kondisi Indonesia relatif lebih aman dibanding negara lain. Hal ini didukung oleh cadangan operasional sekitar 21 hari serta produksi minyak domestik yang mencapai 600 ribu barel per hari.

Namun, ia mengingatkan Indonesia belum sepenuhnya mandiri energi. Ketergantungan impor masih tinggi, terutama dari jalur strategis seperti Selat Hormuz.

“Kalau jalur ini terganggu, risikonya besar bagi pasokan energi kita,” kata Fahmi kepada Rakyat Merdeka, Sabtu (28/3/2026).

Alternatif impor dari AS atau Afrika bisa menjadi solusi. Namun, ada konsekuensi biaya lebih mahal dan waktu pengiriman lebih lama.

Selain itu, spesifikasi minyak belum tentu sesuai dengan kebutuhan kilang dalam negeri. Karena itu, Fahmy menegaskan pentingnya percepatan pengembangan energi baru terbarukan. “Kita tidak bisa terus bergantung pada energi fosil,” pungkasnya. [MEN/BYU]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.