RM.id Rakyat Merdeka - Menjelang penyelenggaraan The 50th Indonesian Petroleum Association Convention & Exhibition (IPA Convex) 2025, sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) kembali menjadi sorotan, sebagai salah satu fondasi penting pertumbuhan ekonomi, baik di tingkat nasional maupun daerah. Melalui efek berganda atau multiplier effect, industri ini tidak hanya menghasilkan energi, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi yang luas dan berlapis.
Selama ini, kontribusi migas kerap diidentikkan dengan penerimaan negara. Namun dalam praktiknya, dampak ekonomi sektor ini jauh melampaui angka produksi dan lifting. Dana Bagi Hasil (DBH), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), hingga belanja operasional proyek migas terbukti menciptakan efek lanjutan yang signifikan terhadap perekonomian daerah, mulai dari peningkatan pendapatan hingga terbukanya lapangan kerja baru.
Kepala Divisi Formalitas SKK Migas, George N.M. Simanjuntak, menegaskan, pendekatan terhadap industri hulu migas harus dilihat secara menyeluruh. “Kontribusi sektor ini tidak hanya langsung, tetapi juga melalui berbagai instrumen ekonomi dan sosial yang menciptakan dampak berkelanjutan,” ujarnya.
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) adalah lembaga Pemerintah yang dibentuk untuk mengelola usaha hulu migas (eksplorasi dan eksploitasi) di Indonesia. SKK Migas bertugas mengawasi Kontrak Kerja Sama (KKS) agar produksi migas maksimal bagi negara.
Baca juga : Industri Hulu Migas Dongkrak Ekonomi Daerah, Dampaknya Berganda
Data menunjukkan adanya variasi penerimaan antar daerah. Provinsi Riau, misalnya, mencatat DBH migas sekitar Rp 3,6 triliun pada 2023. Sementara Kabupaten Bojonegoro mencapai hampir Rp 2 triliun pada 2025. Sedangkan Kabupaten Blora hanya menerima sekitar Rp 135 miliar pada 2024, mencerminkan ketimpangan distribusi yang masih menjadi tantangan.
Bupati Blora, Arief Rohman, dalam keterangannya pada 7 April 2025 menilai perlunya keadilan fiskal bagi daerah penghasil. “Daerah yang berkontribusi besar terhadap produksi nasional seharusnya memperoleh porsi yang lebih proporsional,” ujarnya. Pernyataan serupa kembali disampaikan pada 1 Oktober 2025, saat dia menyoroti dampak penurunan DBH terhadap program pembangunan daerah.
Fenomena ini menunjukkan, besarnya penerimaan migas tidak otomatis menjamin kesejahteraan masyarakat. Efektivitas kebijakan fiskal daerah menjadi faktor penentu dalam mengoptimalkan manfaat ekonomi tersebut.
Dosen Universitas Pertamina, Dr. Rinto Pudyantoro menegaskan, multiplier effect industri hulu migas bekerja melalui berbagai jalur, mulai dari DBH, PBB, hingga Participating Interest (PI) 10 persen yang melibatkan BUMD. Selain itu, aktivitas operasi migas turut menggerakkan sektor lain seperti jasa, perdagangan, dan industri turunan.
Baca juga : Krisis Nafta Hantam Industri, Ekonomi RI Bisa Melambat
“Dampaknya menyebar ke berbagai sektor, termasuk tenaga kerja lokal dan infrastruktur,” ujarnya di Jakarta, Rabu (1/4/2026).
Dalam perspektif global, peran sektor migas terhadap ekonomi juga diakui luas. Laporan International Energy Agency (IEA) menyebutkan, pasar minyak dunia tengah mengalami transformasi besar, namun tetap menjadi komponen penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi global dan ketahanan energi.
Bahkan dalam situasi krisis, sektor ini menunjukkan dampak sistemik yang kuat. Fatih Birol, ekonom dan pakar energi Turki, yang juga Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA), dalam pernyataannya pada Maret 2026 menyebut, pasar energi global sedang berada pada periode “sangat kritis” akibat gangguan pasokan. Dia menegaskan, betapa strategisnya industri ini bagi stabilitas ekonomi dunia.
Untuk diketahui, IEA adalah organisasi antar pemerintah otonom yang berbasis di Paris, Prancis, yang memberikan rekomendasi kebijakan, analisis dan data tentang sektor energi global. Sebanyak 32 negara anggota dan 13 negara asosiasi IEA mewakili 75 persen permintaan energi global.
Baca juga : Mudik Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi
Dari sisi akademik, sejumlah studi internasional juga memperkuat argumen tersebut. Penelitian dalam jurnal energi menunjukkan bahwa guncangan harga minyak hampir selalu diikuti perlambatan ekonomi global selama beberapa tahun. Hal ini menegaskan keterkaitan erat antara sektor migas dan pertumbuhan ekonomi.
Selain pakar, pelaku bisnis global juga menilai pentingnya keberlanjutan investasi di sektor hulu migas. Dalam laporan internasional, industri migas global bahkan menghabiskan sekitar 500 miliar dolar AS per tahun hanya untuk mempertahankan tingkat produksi akibat penurunan alami lapangan migas.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.