Dark/Light Mode

Konsumsi Bijak dalam Periode Mudik di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global

Senin, 16 Maret 2026 19:54 WIB
Gunawan Wicaksono (Foto: Dok. Gunawan)
Gunawan Wicaksono (Foto: Dok. Gunawan)

RM.id  Rakyat Merdeka -  

Oleh: Gunawan Wicaksono
Pengajar dan Ekonom Ahli Bank Indonesia 2023–2025

Kehidupan yang terasa berat bagi Bu Jun (bukan nama sebenarnya) seakan sirna, ketika hari besar yang dinantikan itu segera tiba. Dalam beberapa hari, Lebaran tiba kembali. Kegembiraan bertemu orang tua tercinta, sanak saudara dan handai taulan seakan menghapus semua kepenatan kerja selama setahun. Saling bertegur sapa, bermaafan dan melepaskan kerinduan seakan menghapus semua keruwetan dan kepadatan yang harus dialami selama proses mudik. Hati yang jernih dan bahagia yang akan didapat jauh lebih berharga daripada kepenatan dan kepadatan yang harus dilalui. Inilah yang terbersit dalam benak Bu Jun dan berjuta-juta pemudik lainnya.

Menko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menyampaikan bahwa jumlah pemudik tahun 2026 diprediksi mencapai sekitar 143,9 juta jiwa, atau lebih dari setengah total penduduk Indonesia. Meskipun ini sedikit menurun (1,75%) di banding tahun lalu, dampak ekonomi yang ditimbulkan dari pemudik sungguh besar. Periode mudik lebaran berlangsung sekitar 15 hari dari 14 hingga 29 Maret 2026.

Baca juga : MBG Jadi Penyelamat Ekonomi Di Tengah Krisis Global

Dengan menggunakan asumsi inflasi (BPS) Februari 2025 sekitar 4,76%, menggunakan data pengeluaran selama lebaran tahun 2025, maka rata-rata pengeluaran setiap keluarga antara Rp 3,9 juta hingga Rp 4,2 juta. Dengan asumsi 4 orang per keluarga, maka nilai ekonomi yang dihasilkan dapat mencapai hingga Rp 151 triliun.

Sayangnya, kegembiraan dan peluang itu terjadi di tengah kondisi dunia yang tidak menentu. Perang yang dipicu oleh agresi US dan Israel ke Iran telah mendorong naiknya harga minyak dunia tembus di atas 100 dolar AS/barel. Tertinggi selama beberapa tahun terakhir.

Dengan asumsi harga minyak 70 dolar AS/barel, besaran subsidi dan kompensasi energi Rp 381,3 triliun dengan dukungan ketahanan energi Rp 402,4 triliun. Dengan kenaikan harga minyak yang diperkirakan tetap akan bertahan dalam rentang 80 dolar AS/barel hingga 90 dolar AS/barel, maka pembengkakan anggaran dapat mencapai hingga Rp 75 triliun.

Pada saat periode Lebaran, terjadi perpindahan berpuluh juta manusia secara sekaligus dalam satu periode waktu yang relatif singkat yaitu sekitar seminggu sebelum dan sesudah Lebaran. Dampaknya jelas meningkatkan output sektor transportasi baik melalui jalur pesawat terbang, kereta api, bus, mobil atau motor pribadi maupun kapal laut. Itu berarti pula peningkatan konsumsi BBM yang signifikan. Di sisi lain, walaupun cadangan BBM diperkirakan mencukupi, peningkatan itu berarti pula pembengkakan subsidi yang diberikan.

Baca juga : Tinjau Arus Mudik Di Pelabuhan Merak, Kapolri Pastikan Beri Pelayanan Maksimal

Ketika defisit fiskal melebar, itu harus ditutup dengan hutang yang lebih besar. Ini memicu ekspektasi kenaikan yield obligasi pemerintah. Apalagi sebelumnya sudah terjadi penurunan rating Indonesia oleh Fitch Ratings dan Moody’s. Artinya alokasi investasi portofolio asing secara porsi akan berkurang sesuai dengan penurunan rating, sejalan dengan risiko yang dianggap meningkat.

Kalau rupiah melemah, harga impor bahan baku akan naik. Harga barang dengan bahan baku impor mengalami kenaikan. Padahal kenaikan harga BBM sendiri akan memicu kenaikan ongkos transportasi. Biaya logistik semakin mahal. Di sisi lain kenaikan produk berbasis minyak termasuk kenaikan harga pupuk akan terjadi. Ujungnya terjadi kenaikan harga-harga, termasuk kenaikan harga pangan.

Harga pangan yang meningkat akan menghantam masyarakat berpenghasilan rendah. Hal itu disebabkan komposisi pengeluaran yang didominasi oleh pangan dan kebutuhan pokok non-pangan. Semakin tinggi pangsa konsumsi pangan dan kebutuhan pokok non-pangan, semakin besar pula dampaknya bagi kesejahteraan. Data Susenas BPS beberapa tahun terakhir menunjukkan sekitar setengah pengeluaran masyarakat Indonesia dipergunakan untuk konsumsi pangan. Itu artinya, kenaikan inflasi pangan akan sangat berdampak pada kesejahteraan masyarakat.

Oleh karena itu, meskipun periode Lebaran biasanya dipergunakan sebagai momen untuk melakukan konsumsi yang lebih tinggi. Momen PDB secara siklikal akan meningkat didorong kenaikan konsumsi. Namun, saat ini, karena ketidakpastian yang tinggi, ada baiknya konsumsi bijak dilakukan.

Baca juga : Buka Puasa Bersama, MES Perkuat Sinergi Pemangku Kepentingan Ekonomi Syariah

Dimulai dengan melindungi arus kas dengan memprioritaskan pengeluaran kebutuhan pokok. Keinginan berbagi, menunjukkan keberhasilan dan pencapaian, dapat dilakukan namun dengan sangat bijak, yaitu memastikan kebutuhan likuiditas rumah tangga terpenuhi. Ini berarti memastikan adanya bantalan terhadap kemungkinan kenaikan harga pangan akibat konflik geopolitik global.

Menahan pengeluaran untuk kebutuhan tersier, yaitu membatasi pengeluaran untuk kesenangan, prestise, status sosial, dan gaya hidup. Beban finansial yang ditimbulkan dapat mengganggu aliran kas rumah tangga yang justru sangat dibutuhkan dalam kondisi ketidakpastian dan keadaan darurat

Periode Lebaran merupakan waktu membahagiakan bagi seluruh masyarakat. Namun, dalam kondisi ekonomi dunia yang tidak menentu, kita tetap perlu bersikap bijak dalam berkonsumsi. Dampak krisis geopolitik dunia akan memicu kenaikan harga-harga kebutuhan pokok di banyak negara. Harapannya, kita semua dapat bersiap diri menghadapi dampak finansial krisis geopolitik dunia dan memitigasi hantamannya terhadap ketahanan finansial rumah tangga.***

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.