BREAKING NEWS
 

RI Pacu Industri Baja Hijau Untuk Tembus Pasar Ekspor Dunia

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Jumat, 10 April 2026 16:30 WIB
Foto: Kemenperin

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah mendorong transformasi industri baja nasional menuju teknologi ramah lingkungan atau green steel seiring meningkatnya tekanan global terhadap produk beremisi tinggi.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, kebijakan perdagangan internasional kini tidak hanya berbasis harga dan kualitas, tetapi juga aspek lingkungan, termasuk jejak karbon dalam proses produksi.

“Penerapan kebijakan seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) oleh Uni Eropa meningkatkan biaya masuk bagi produk baja dengan emisi karbon tinggi. Ini menuntut kesiapan industri nasional untuk bertransformasi,” ujar Agus dalam sambutannya pada pengukuhan pengurus The Indonesian Iron & Steel Industry Association di Jakarta, Jumat.

Baca juga : Cek Persiapan TKA Di Bali, Wamen Fajar: Cocok Untuk Kebutuhan Masa Depan

Menurutnya, transformasi menuju baja hijau menjadi langkah strategis agar produk baja Indonesia tetap kompetitif di pasar global, sekaligus menjawab tuntutan keberlanjutan yang semakin ketat.

Adsense

Di tengah kondisi tersebut, industri baja global juga menghadapi kelebihan kapasitas yang signifikan. Proyeksi menunjukkan kapasitas produksi dunia dapat mencapai 2,6 miliar ton pada 2027, sementara permintaan hanya sekitar 1,9 miliar ton. Ketimpangan ini berpotensi meningkatkan persaingan dan praktik dumping, termasuk ke pasar domestik.

Agus menegaskan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah strategi untuk memperkuat daya saing industri baja nasional, termasuk percepatan adopsi teknologi rendah karbon, penguatan investasi, serta perlindungan pasar dalam negeri.

Baca juga : DPR Usul Insentif Khusus Untuk 638 Ribu Guru Madrasah Swasta

“Transformasi teknologi menuju baja hijau tidak hanya menjadi kebutuhan, tetapi juga peluang untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing industri nasional,” katanya.

Selain itu, pemerintah juga mendorong sinkronisasi kebijakan lintas sektor guna mendukung transisi energi dan efisiensi produksi di industri baja, termasuk melalui pemanfaatan energi yang lebih bersih dan efisien.

Langkah ini dinilai penting mengingat posisi Indonesia yang terus menguat dalam peta industri baja global. Pada 2025, Indonesia menempati peringkat ke-13 dunia dengan produksi sekitar 19 juta ton, serta menunjukkan pertumbuhan yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir.

Baca juga : Remaja Curi Bus Untuk Antar Pacar Ke Sekolah

Dengan transformasi menuju industri yang lebih hijau, pemerintah berharap sektor baja nasional tidak hanya mampu bertahan dari tekanan global, tetapi juga menjadi pemain utama dalam rantai pasok industri berkelanjutan dunia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense