RM.id Rakyat Merdeka - Industri hulu migas tetap menjadi salah satu penggerak utama ekonomi nasional dan daerah melalui dampak berganda (multiplier effect) yang dihasilkan dari aktivitas operasionalnya. Namun, besarnya kontribusi tersebut belum otomatis berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat di daerah penghasil.
Konvensi Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) ke-50 pun sepakat bahwa industri hulu minyak dan gas (migas) memiliki efek berganda besar bagi ekonomi daerah. Namun dampaknya terhadap kesejahteraan sangat bergantung pada pengelolaan penerimaan dan belanja Pemerintah.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pertamina Rinto Pudyantoro mengatakan, kontribusi sektor hulu migas terhadap daerah tercermin dari berbagai instrumen penerimaan. Seperti Dana Bagi Hasil (DBH), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) migas, serta Participating Interest (PI) sebesar 10 persen yang melibatkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
Baca juga : Jepang Ikut Latihan Militer Balikatan, China Ketar-ketir
Sebagai gambaran, pada 2023 Provinsi Riau menerima DBH migas sekitar Rp 3,6 triliun dan PBB migas mencapai Rp 3,9 triliun. Angka tersebut menunjukkan besarnya aliran dana dari sektor migas ke daerah.
“Seringkali muncul persepsi keberadaan industri migas tidak memberikan manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Padahal, jika dilihat secara komprehensif, industri ini justru memberikan dampak ekonomi yang sangat besar dan berlapis bagi daerah,” ujar Rinto dikutip dalam Media Education IPA, (1/4/2026).
Menurut dia, multiplier effect industri hulu migas tidak hanya berasal dari penerimaan negara, tapi juga dari aktivitas ekonomi turunan.
Baca juga : Risiko Penularan HIV/AIDS Di DKI Jakarta Masih Tinggi
Kegiatan operasional wilayah kerja migas mendorong belanja barang dan jasa, keterlibatan pelaku usaha lokal, serta membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.
Selain itu, sektor migas juga berperan dalam penyediaan energi domestik, baik untuk bahan bakar minyak maupun gas bagi pembangkit listrik dan industri. Dampak lainnya terlihat dari pengembangan industri turunan, serta pembangunan fasilitas umum di wilayah operasi.
Program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) dan pengembangan masyarakat (PPM) turut memperkuat kontribusi sosial ekonomi industri ini.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.