BREAKING NEWS
 

PNM Dorong Kemandirian Nasabah, Bentengi dari Jerat Rentenir

Reporter & Editor :
OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Senin, 8 Juni 2026 20:40 WIB
Foto: PNM.

RM.id  Rakyat Merdeka - Bagi sebagian pelaku usaha ultra mikro, kebutuhan modal sering kali datang pada saat yang tidak dapat ditunda. Mulai dari membeli bahan baku, memenuhi pesanan pelanggan, membiayai pendidikan anak, hingga memenuhi kebutuhan rumah tangga yang mendesak.

Dalam situasi seperti itu, layanan pinjaman yang terlihat cepat dan mudah kerap menjadi pilihan utama.

Namun, di balik kemudahan tersebut, tidak sedikit masyarakat yang kemudian menghadapi beban pembayaran yang berat dan berkepanjangan sehingga mengganggu keberlangsungan usaha mereka.

Fenomena rentenir dan praktik pinjaman informal masih menjadi tantangan bagi masyarakat yang belum sepenuhnya memiliki akses terhadap layanan keuangan formal.

Keterbatasan dokumen, agunan, skala usaha, hingga rendahnya literasi keuangan sering kali menjadi hambatan bagi kelompok masyarakat yang belum bankable untuk memperoleh pembiayaan yang aman dan terarah.

Akibatnya, solusi yang dianggap cepat pada awalnya justru dapat berkembang menjadi persoalan yang menghambat pertumbuhan usaha dan kesejahteraan keluarga.

Di tengah kondisi tersebut, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) melalui program PNM Mekaar hadir sebagai akses pembiayaan yang lebih inklusif bagi perempuan prasejahtera pelaku usaha ultra mikro.

PNM Mekaar menyediakan pembiayaan tanpa agunan berbasis kelompok yang disertai pendampingan melalui Pertemuan Kelompok Mingguan (PKM).

Baca juga : PGN Dorong Akses Kesehatan Mata, 300 Siswa dan Warga Ikuti Pemeriksaan Gratis

Tidak hanya memberikan modal usaha, program ini juga menghadirkan pelatihan, pendampingan usaha, pengelolaan keuangan, hingga pengembangan kapasitas usaha.

Hingga kini, PNM telah melayani lebih dari 22,9 juta nasabah perempuan melalui jaringan yang menjangkau 58 kantor cabang dan 6.165 kecamatan di seluruh Indonesia.

Sepanjang 2025, PNM juga telah menyelenggarakan 52.394 pelatihan dengan jumlah peserta mencapai 1.853.170 orang.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak hanya dilakukan melalui akses pembiayaan, tetapi juga melalui proses pendampingan yang berkelanjutan di tengah masyarakat.

Bagi para nasabah, kehadiran PNM Mekaar menjadi ruang untuk belajar mengelola usaha sekaligus membangun kemandirian ekonomi.

Pertemuan kelompok tidak hanya menjadi tempat membayar angsuran, tetapi juga wadah untuk saling belajar, saling mengingatkan, dan saling mendukung agar usaha tetap berkembang.

Di dalamnya, modal finansial bertemu dengan modal sosial. Para perempuan pelaku usaha tidak berjalan sendiri karena mendapatkan dukungan dari pendamping dan komunitas yang tumbuh bersama.

Adsense

Salah satu nasabah PNM Mekaar asal Depok, Indriana, yang menjalankan usaha gorengan, mengaku merasakan manfaat besar dari program tersebut.

Baca juga : Gubernur Lemhannas: Pemimpin Nasional Harus Berintegritas dan Visioner

Menurutnya, para ibu yang menjadi penopang ekonomi keluarga perlu lebih bijak dalam memilih akses permodalan.

“Ibu-ibu yang menjadi andalan ekonomi keluarga harus lebih pintar dalam mengelola usaha dan mendapatkan modal. Kalau saya pilih PNM Mekaar,” ujar Indriana.

Ia menambahkan, PNM Mekaar tidak hanya memberikan akses pembiayaan, tetapi juga menghadirkan modal intelektual dan modal sosial yang membantu pengembangan usaha.

“Mekaar memberikan modal finansial, modal intelektual, dan modal sosial. Pokoknya jauhi rentenir dan gabung PNM Mekaar. Sudah banyak keuntungan yang saya dapat dari Mekaar,” kisahnya.

Pengalaman serupa dirasakan Selly, nasabah PNM Mekaar lainnya di Depok yang menjalankan usaha salon dan parfum.

Menurutnya, pembiayaan yang disertai pelatihan dan pendampingan membuat pengembangan usaha terasa lebih aman dan terarah.

Selain membantu mengembangkan usaha, Selly mengaku manfaat program tersebut juga dirasakan langsung oleh keluarganya, mulai dari memenuhi kebutuhan rumah tangga, membiayai pendidikan anak, hingga mendukung kegiatan sosial di lingkungan sekitar.

“Jangan terjebak rentenir. Kalau saya tidak mau rentenir, lebih baik ikut PNM Mekaar yang sudah terbukti meningkatkan kemajuan usaha saya dan membuat keluarga semakin sejahtera,” ujarnya.

Baca juga : GAPASDAP Dorong Standar Nasional Pengangkutan Kendaraan Listrik

Pandangan para nasabah tersebut sejalan dengan pendapat Guru Besar Universitas Jenderal Soedirman, Imam Widhiono. Ia menilai salah satu cara paling efektif untuk menjauhkan masyarakat dari praktik rentenir adalah dengan meningkatkan pendapatan mereka.

Menurutnya, pembiayaan yang dibarengi pendampingan menjadi langkah yang tepat agar masyarakat tidak hanya memperoleh modal, tetapi juga mampu mengembangkan usaha secara lebih sehat dan berkelanjutan.

Melalui PNM Mekaar, PNM berupaya menghadirkan pilihan yang lebih aman bagi masyarakat yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap layanan keuangan formal.

Pembiayaan tidak berdiri sendiri sebagai pinjaman, melainkan menjadi pintu masuk bagi proses pemberdayaan yang lebih luas.

Di dalamnya terdapat pendampingan, literasi keuangan, pelatihan usaha, serta ruang untuk bertumbuh bersama.

PNM meyakini, ketika perempuan pelaku usaha ultra mikro memperoleh akses pembiayaan yang tepat dan pendampingan yang berkelanjutan, mereka tidak hanya mampu mengembangkan usaha, tetapi juga menata masa depan keluarga.

Dari usaha kecil yang dijalankan setiap hari, tumbuh keberanian untuk mandiri, meningkatkan kesejahteraan, dan melangkah lebih jauh tanpa harus kembali pada jalan pintas yang justru dapat menimbulkan kesulitan di kemudian hari.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense