BREAKING NEWS
 

Pesan Luhut Ke Presiden

Waspada, Badai Ekonomi Belum Reda

Reporter : BHAYU AJI PRIHARTANTO
Editor : SISWANTO
Jumat, 19 Juni 2026 07:56 WIB
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan saat bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (21/4/2026). (Foto: BPMI Setpres)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengingatkan Presiden Prabowo Subianto agar tidak terlena dengan mulai membaiknya sejumlah indikator ekonomi. Sebab, tegas Luhut, badai ekonomi global belum sepenuhnya reda dan masih menyimpan berbagai risiko. 

Pesan tersebut disampaikan Luhut saat dirinya bersama jajaran DEN menemui Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan Jakarta beberapa waktu lalu. Luhut menceritakan isi pertemuan itu saat berbicara di Indonesia Summit 2026 di Jakarta Selatan, Kamis (18/6/2026). 

Dalam pertemuan itu, Luhut mengaku mengingatkan pemerintah untuk mencermati perkembangan ekonomi global setelah Juli 2026. Terutama apabila konflik geopolitik yang saat ini berlangsung masih berlanjut. 

Menurut Luhut, kondisi ekonomi Indonesia hingga Juli masih berada dalam situasi yang relatif baik. Namun, setelah periode tersebut, pemerintah perlu meningkatkan kewaspadaan apabila perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum juga berakhir. 

Baca juga : Teken Perjanjian Damai Dengan Iran, Trump: Ini Tidak Mudah

"Jadi kami laporkan bahwa sampai Juli ini keadaan kita masih baik. Setelah Juli kita waspadai kalau perang ini masih berlanjut," ungkap Luhut. 

Meski demikian, ia melihat ada nya perkembangan yang cukup menggembirakan. Munculnya sinyal perdamaian antara AS dan Iran telah mendorong penurunan harga minyak dunia yang sebelumnya sempat melonjak akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. 

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 89 sen atau 1,12 persen menjadi 78,66 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 98 sen atau 1,28 persen menjadi 75,81 dolar AS per barel.

"Kemarin ada kesepakatan damai, kita lihat Brent sudah turun ke level 80 dolar AS per barel bahkan di bawahnya," ujarnya. 

Baca juga : Brazil Vs Haiti, Menang Atau Tersingkir

Di tengah ketidakpastian global tersebut, Luhut menilai Indonesia memiliki peluang untuk melangkah lebih maju dibandingkan banyak negara lain. Namun, peluang itu hanya dapat diwujudkan apabila seluruh elemen bangsa mampu bekerja secara kompak dan mendukung agenda pembangunan pemerintah. 

"Saya bilang ke Presiden, kita ini mungkin one step ahead dari banyak negara lain, asal kita sekarang kompak saja," katanya. 

Ia pun mengajak seluruh pihak memberikan ruang bagi Presiden Prabowo untuk menjalankan berbagai program prioritas yang telah dirancang pemerintah. "Jadi kita kasih kesempatan Presiden untuk eksekusi mimpi-mimpi besarnya," pungkasnya. 

Senada dengan Luhut, Ekonom Senior Indef Prof Didik J. Rachbini juga melihat adanya perkembangan positif pada sejumlah indikator ekonomi. Menurutnya, tekanan dari faktor eksternal yang sempat memicu gejolak pasar keuangan mulai mereda, terutama setelah muncul harapan perdamaian di Timur Tengah. 

Baca juga : Landis Makkah Hadir Jadi Keluarga Para Lansia

Didik mengatakan, meredanya ketegangan antara AS dan Iran telah memberikan sentimen positif bagi pasar global. Harga minyak Brent yang sebelumnya melonjak akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi kini mulai turun. Kondisi ini turut mengurangi tekanan terhadap negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia. 

Adsense

"Pasar memperkirakan ada harapan untuk pulih dan kembali normal setelah muncul kesepakatan damai," ujar Didik dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026). 

Meski demikian, Didik mengingatkan bahwa membaiknya faktor eksternal tidak boleh membuat pemerintah lengah. Risiko ekonomi global masih tetap ada dan sewaktu-waktu dapat kembali memengaruhi pasar keuangan maupun perekonomian nasional. Kredibilitas kebijakan ekonomi, kata dia, harus terus dijaga agar kepercayaan pelaku pasar tetap terpelihara. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense