Dark/Light Mode

Teken Perjanjian Damai Dengan Iran, Trump: Ini Tidak Mudah

Jumat, 19 Juni 2026 07:50 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menandatangani naskah nota kesepahaman untuk mengakhiri perang dengan Iran di Versailles, Prancis, Rabu (17/6/2026). (Foto: Instagram/whitehouse)
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menandatangani naskah nota kesepahaman untuk mengakhiri perang dengan Iran di Versailles, Prancis, Rabu (17/6/2026). (Foto: Instagram/whitehouse)

RM.id  Rakyat Merdeka - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akhirnya meneken perjanjian damai dengan Iran. Meskipun dilakukan lebih cepat sehari dari jadwal yang sudah ditentukan, Trump mengaku, kesepakatan perdamaian ini tidak mudah. 

Nota perjanjian diteken Trump di Istana Versailles di sela agenda konferensi tingkat tinggi (KTT) G7 di Prancis, kemarin. Presiden Prancis Emmanuel Macron yang duduk di samping Trump, ikut menyaksikan momen bersejarah ini. Di belakang Trump dan Macron, berdiri Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. 

Sebelum menandatangani dokumen di atas meja, Trump sempat berbicara di hadapan Macron. "Ini tidak mudah," ucap Trump di unggahan akun X Macron, Kamis (18/6/2026). 

Baca juga : Brazil Vs Haiti, Menang Atau Tersingkir

Tepat setelah dokumen diteken, tepuk tangan Macron dan Rubio, serta seluruh pejabat yang hadir di ruangan, menggema. Trump lalu mengangkat kertas dokumen perjanjian damai itu. 

Macron bilang, momentum ini jadi pintu masuk perdamaian permanen AS dan Iran dan terbukanya Selat Hormuz bagi kapal-kapal dari seluruh dunia. "Ini langkah penting yang memungkinkan penurunan harga energi dalam waktu dekat," sambung Macron di akun X. 

Di hari yang sama, Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menandatangani dokumen kesepakatan damai. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan, memorandum ditandatangani dalam bahasa Inggris dan Farisi.

Baca juga : Landis Makkah Hadir Jadi Keluarga Para Lansia

Penggunaan dua bahasa itu merupakan permintaan dari pihak Iran, mewakili tingkat transparansi tertinggi dalam komunikasi publik. "Teks Memorandum of Understanding Islamabad telah diselesaikan dengan tanda tangan para presiden. Sekarang saatnya menguji implementasi perjanjian tersebut," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dikutip oleh kantor berita negara IRNA. 

Baghaei menerangkan, Pemerintah Swiss sebelumnya mengatakan upacara penandatanganan akan diadakan hari Jumat (19/6/2026) di sebuah hotel mewah di pegunungan yang menghadap Danau Lucerne. Ketua Parlemen Iran Bagher Ghalibaf dan Wakil Presiden AS JD Vance dijadwalkan akan hadir. 

Namun, Baghaei mengatakan, selama 24 jam terakhir, Iran menginginkan penandatanganan virtual, yang dilakukan lebih cepat. "Ketika teks ditandatangani oleh pejabat tertinggi kedua negara, melanggarnya tentu akan menimbulkan biaya yang lebih besar," ingat Baghaei. 

Baca juga : Periksa Bos Maktour, KPK Telusuri Aliran Dana Kasus Kuota Haji Tambahan

Dia kembali menekankan, bagi Iran, gencatan senjata di semua front, termasuk di Lebanon juga sama pentingnya dengan gencatan senjata di Iran. 

Seperti diketahui, berdasarkan draf perjanjian yang dikutip Reuters, pembukaan kembali Selat Hormuz akan dilakukan secepatnya setelah penutupan berbulan-bulan yang memicu lonjakan harga energi global. Kesepakatan juga mencakup pemberian keringanan sanksi terhadap ekspor minyak Iran. Pembahasan soal program nuklir Iran dan potensi insentif ekonomi tambahan, dilakukan dalam perundingan lanjutan. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.