BREAKING NEWS
 

Rel Sumbar dalam Peta Besar Konektivitas Kereta Api Sumatra

Reporter & Editor :
OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Jumat, 19 Juni 2026 11:15 WIB
Foto: KAI.

RM.id  Rakyat Merdeka - Sumatera Barat menjadi salah satu wilayah penting dalam peta besar pengembangan konektivitas kereta api di Pulau Sumatra.

Dengan jaringan rel sepanjang sekitar 312,2 kilometer, provinsi ini menyimpan jejak panjang sejarah perkeretaapian sekaligus memiliki potensi besar untuk mendukung mobilitas, logistik, dan pariwisata di masa depan.

Pemerintah, melalui arahan Presiden Prabowo Subianto, tengah mendorong penguatan jaringan kereta api yang terhubung dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung.

Dalam kerangka tersebut, Sumatera Barat dinilai memiliki peran strategis karena masih memiliki layanan aktif yang langsung dimanfaatkan masyarakat.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, Sumatera Barat memiliki posisi unik dalam sejarah perkeretaapian nasional.

Rel di wilayah ini lahir dari kebutuhan menghubungkan kawasan tambang, pelabuhan, kota, dan masyarakat.

“Sumatera Barat menunjukkan bagaimana kereta api sejak awal menjadi penghubung ekonomi, kota, pelabuhan, dan masyarakat. Jejak itu tetap relevan untuk membaca kebutuhan konektivitas Sumatra hari ini,” ujar Anne dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (19/6/2026).

Sejarah perkeretaapian Sumatera Barat bermula pada akhir abad ke-19 ketika jalur rel dibangun untuk mengangkut batu bara dari Tambang Ombilin di Sawahlunto menuju Pelabuhan Emmahaven atau Teluk Bayur di Padang.

Stasiun Padang mulai dibangun pada 6 Juli 1889, sedangkan Stasiun Pulau Air dibangun pada 1891 oleh Staatsspoorwegen ter Sumatras Westkust dan diresmikan pada 1 Oktober 1892.

Dari Padang, jaringan rel kemudian berkembang menuju Kayu Tanam, Padang Panjang, Solok, Muaro Kalaban, Sawahlunto, Pariaman, hingga Naras.

Jalur-jalur tersebut dibangun melintasi medan yang berat, mulai dari perbukitan, lembah hingga tanjakan curam. Dari sinilah lahir lokomotif uap bergerigi legendaris Mak Itam yang hingga kini menjadi ikon perkeretaapian Sawahlunto.

Baca juga : ASDP Pastikan Konektivitas Penyeberangan Aceh Tetap Terjaga & Layanan Optimal

Miliki Rel Sepanjang 312 Kilometer Berdasarkan data Divre II Sumatera Barat, total panjang jalur kereta api di wilayah tersebut mencapai 312,232 kilometer spoor (kmsp).

Dari jumlah tersebut, sepanjang 110,910 kmsp merupakan jalur aktif, sedangkan 201,322 kmsp lainnya berstatus nonaktif.

Selain itu, Sumatera Barat memiliki 20 stasiun dan shelter penumpang serta empat stasiun angkutan barang yang masih mendukung operasional perkeretaapian.

Saat ini, layanan penumpang yang beroperasi meliputi KA Pariaman Ekspres relasi Pauh Lima–Padang–Naras dan KA Minangkabau Ekspres relasi Pulau Air–Padang–Bandara Internasional Minangkabau.

Kemudian, KA Lembah Anai relasi Kayu Tanam–Duku–Padang serta KA Wisata Mak Itam relasi Muaro Kalaban–Sawahlunto.

Sementara layanan barang melayani relasi Indarung–Bukit Putus untuk distribusi semen curah dan klinker.

Kereta api masih menjadi moda transportasi yang diminati masyarakat Sumatera Barat. Sepanjang Januari–Mei 2026, layanan kereta api penumpang Divre II Sumatera Barat melayani 913.674 pelanggan.

Rinciannya terdiri dari:

- Januari: 172.548 pelanggan

Adsense

- Februari: 151.768 pelanggan

- Maret: 188.425 pelanggan

Baca juga : Pemerintah Kebut Bangun Rel Kereta 10 Ribu Kilometer

- April: 202.282 pelanggan

- Mei: 198.651 pelanggan.

Di sektor angkutan barang, KAI Divre II Sumatera Barat mengangkut 492.220 ton barang selama periode yang sama, terdiri atas 299.070 ton semen dan 193.150 ton klinker.

Menurut Anne, angkutan berbasis rel berperan penting dalam menjaga kelancaran distribusi industri sekaligus mengurangi beban kendaraan berat di jalan raya.

Dalam lima tahun terakhir, jumlah pelanggan kereta api di Sumatera Barat menunjukkan tren positif. Volume pelanggan meningkat dari sekitar 1,09 juta orang pada 2021 menjadi 1.978.241 pelanggan pada 2025.

Artinya, terjadi pertumbuhan sekitar 81 persen dalam periode 2021–2025, dengan rata-rata kenaikan sekitar 16 persen per tahun.

KA Pariaman Ekspres menjadi layanan dengan jumlah pelanggan terbesar. Pada 2025, jumlah pengguna mencapai 1.615.996 pelanggan atau meningkat 15,61 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebanyak 1.399.691 pelanggan.

Sementara itu, KA Lembah Anai juga mencatat lonjakan pengguna setelah dilakukan penyesuaian relasi perjalanan.

Pada Januari–Maret 2026, jumlah pelanggan meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Potensi pengembangan kereta api di Sumatera Barat juga didukung sektor pariwisata yang terus tumbuh. Data BPS menunjukkan perjalanan wisatawan nusantara meningkat dari 8,4 juta perjalanan pada 2021 menjadi 20,7 juta perjalanan pada 2025.

Sejumlah destinasi unggulan seperti Jam Gadang, Danau Singkarak, Sawahlunto, Padang Panjang, dan Bukittinggi dinilai dapat semakin terkoneksi melalui layanan kereta api.

Baca juga : Kementan Genjot Produksi Susu Untuk Program MBG

Sawahlunto memiliki nilai strategis karena menjadi bagian dari Warisan Tambang Batu Bara Ombilin yang ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia pada 2019.

Di kawasan ini, rel kereta api tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari warisan sejarah dan pendidikan.

Selain itu, Sumatera Barat masih memiliki sejumlah jalur nonaktif yang berpotensi direaktivasi, antara lain: Naras–Sungai Limau Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Limbanang Muaro Kalaban–Sawahlunto Padang Panjang–Batubual Batubual–Solok Solok–Muaro Kalaban

Salah satu lintas yang dinilai prospektif adalah Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Payakumbuh sepanjang sekitar 67,363 kmsp.

Jalur ini berpotensi mendukung mobilitas masyarakat, distribusi barang, dan pengembangan destinasi wisata unggulan di Sumatera Barat.

Bagian dari Konektivitas Sumatra Dalam peta besar konektivitas rel Sumatra, pengembangan jaringan kereta api dinilai penting untuk memperpendek waktu tempuh antardaerah, menekan biaya logistik, memperkuat sektor pariwisata, serta meningkatkan mobilitas masyarakat.

Kajian reaktivasi menunjukkan bahwa ketika jalur Lembah Anai terputus, kendaraan logistik harus menempuh rute alternatif yang lebih jauh sehingga biaya operasional meningkat sekitar 22 persen dibandingkan kondisi normal.

“Sejarah rel Sumatera Barat memberi pelajaran penting bahwa konektivitas bukan sekadar jalur, tetapi juga akses, pertumbuhan wilayah, dan kesempatan yang lebih merata bagi masyarakat,” tutup Anne.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense