BREAKING NEWS
 

Pangkas Impor Bensin

Menteri Bahlil Ajak Kampus Kejar Target Program E20

Reporter : NOVALLIANDY
Editor : FAZRY
Selasa, 30 Juni 2026 06:30 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan sambutan saat menghadiri Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta, Sabtu (27/6/2026). Dalam kesempatan tersebut, Bahlil mengajak perguruan tinggi berkolaborasi dalam implementasi Program E20 melalui pengembangan teknologi pengolahan bioetanol berbasis komoditas lokal. FOTO: DOK KEMENDIKTISAINTEK

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah mempercepat implementasi program pencampuran bensin dengan 20 persen bioetanol (E20) demi memperkuat ketahanan energi nasional.

Untuk mengejar target tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggandeng perguruan tinggi untuk mengembangkan teknologi bioetanol berbasis komoditas lokal dan memperkuat rantai pasok dalam negeri.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan, saat ini kebutuhan bensin nasional mencapai sekitar 40 juta kiloliter (KL) per tahun. Namun, kapasitas produksi kilang domestik baru mampu menyuplai sekitar 14,3 juta KL. Dengan begitu, Indonesia masih harus mengimpor hampir 25 juta KL bensin setiap tahun.

“Namun, kilang Balikpapan yang kita resmikan pada Januari 2026 bertambah produksinya 5,5 juta kiloliter bensin, sehingga menyisakan impor bensin sekitar 20 juta kiloliter,” ujar Bahlil dalam Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 di Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Baca juga : Aksi Nyata Warga Bantu Jakarta Jadi Kota Global

Untuk menambal defisit tersebut dan memangkas ketergantungan impor, Pemerintah menyiapkan Program E20 sebagai langkah strategis. Implementasi program ini diperkirakan membutuhkan pasokan sekitar 4 juta KL etanol per tahun.

“Program E20 idenya berangkat dari kesuksesan biodiesel B10 hingga B50. Kita bikin etanol dengan bahan baku dari tebu, singkong dan jagung dengan total produksi yang diperlukan 4 juta kiloliter. Pemerintah akan menjadi off taker produksi etanol yang dihasilkan petani,” jelas Bahlil.

Adsense

Keberhasilan program E20 sangat bergantung pada dukungan dunia akademik. Terutama dalam riset teknologi pengolahan bahan baku hingga aplikasinya pada skala industri. Melalui skema kolaborasi ini, Pemerintah berharap dapat membangun ekosistem ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan.

“Saya mengajak perguruan tinggi berkolaborasi pada Program E20. Ini bisa kita bikin plasma inti dengan rakyat dan jauh lebih jelas off taker-nya negara. Daripada kita impor dari Amerika atau Eropa,” ucap Bahlil.

Baca juga : Pantai Gading Vs Norwegia, Gajah Setara Viking

Selain bioetanol, Pemerintah juga membuka ruang bagi perguruan tinggi terlibat dalam pengembangan teknologi energi alternatif lainnya, khususnya kompor listrik.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi terintegrasi untuk menciptakan nilai tambah di sektor pertanian, sekaligus mengejar target Net Zero Emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat.

Bahkan, Pemerintah mengklaim telah menyiapkan stimulus fiskal untuk mendukung produksi massal teknologi penunjang transisi energi tersebut mulai tahun depan.

“Anggaran pengadaan kompor listrik tahun depan Rp 600 miliar. Kalau ada kampus yang siap bikin, langsung kami pesan pengadaannya,” pungkas Bahlil. NOV

Baca juga : Meksiko Vs Ekuador, Adu Napas Di Azteca

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Selasa, 30 Juni 2026 dengan judul "Pangkas Impor Bensin Menteri Bahlil Ajak Kampus Kejar Target Program E20"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense