BREAKING NEWS
 

Prof Didik: Vietnam Unggul Karena Tarik Investasi Berkualitas

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Minggu, 5 Juli 2026 15:12 WIB
Prof Didik J Rachbini. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ekonom Indef sekaligus Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini menilai perbedaan kualitas investasi menjadi salah satu faktor utama yang membuat Vietnam mampu melesat menjadi negara berpendapatan menengah atas.

Menurut Didik, Vietnam sejak dua hingga tiga dekade terakhir secara konsisten membangun sektor industri melalui kebijakan yang ramah investasi. Berbeda dengan Indonesia, investasi yang masuk ke Vietnam diarahkan untuk memperkuat sektor manufaktur berorientasi ekspor sekaligus mendorong transfer teknologi dan inovasi.

“Vietnam menjalankan strategi industri dengan masuk terlebih dahulu ke rantai produksi global, kemudian naik kelas secara bertahap. Investasi asing yang masuk benar-benar diarahkan untuk memperkuat industri,” kata Didik dalam keterangannya, Minggu (5/7/2026)

Baca juga : HUT Ke-55, Hikmahbudhi Komit Bangun Kader Intelektual Dan Berintegritas

Ia menjelaskan, strategi tersebut membuat Vietnam berhasil menarik investasi asing langsung (FDI) yang berkualitas, terutama di sektor manufaktur bernilai tambah tinggi. Investasi itu kemudian menjadi motor pertumbuhan ekonomi yang mencapai sekitar 8 persen sekaligus meningkatkan pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita hingga sekitar 4.970 dolar Amerika Serikat.

Capaian tersebut mengantarkan Vietnam masuk kategori negara berpendapatan menengah atas (upper-middle-income country) menurut klasifikasi Bank Dunia pada Juli 2026.

Adsense

Sebaliknya, Didik menilai investasi yang berkembang di Indonesia masih didominasi sektor-sektor yang belum mampu memberikan nilai tambah tinggi bagi perekonomian.

Baca juga : Din Syamsudin: Bung Karno Tokoh Indonesia yang Dikagumi Dunia

“Indonesia lebih banyak menarik investasi yang tidak berkualitas, seperti restoran, jasa perdagangan, atau kegiatan pengemasan. Dampaknya terhadap transformasi industri dan peningkatan produktivitas relatif terbatas,” ujarnya.

Dunia usaha, kata Didik, masih menghadapi berbagai kendala berupa regulasi yang berubah-ubah, birokrasi yang berbelit, serta insentif yang dinilai belum cukup menarik bagi investor.

Ia mengatakan pemerintah perlu kembali menerapkan strategi industrialisasi yang pernah dijalankan Indonesia pada era 1980-an dan 1990-an melalui deregulasi, debirokratisasi, serta kebijakan yang mendorong investasi manufaktur berorientasi ekspor.

Baca juga : Gubernur Kepri Ansar Ahmad Jadikan Permainan Rakyat Daya Tarik Wisata Budaya

“Vietnam menjalankan kebijakan itu secara konsisten sehingga kini mulai memasuki fase ekonomi berbasis inovasi dan teknologi. Indonesia perlu segera memperbaiki kualitas investasi agar tidak semakin tertinggal dalam persaingan kawasan,” kata Didik.

Menurutnya, tanpa pembenahan iklim investasi, Indonesia berisiko terus berada pada pertumbuhan ekonomi moderat tanpa mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense