RM.id Rakyat Merdeka - PTPN I (Persero) Regional 5 mengembangkan model kemitraan dengan petani di Desa Ajong, Kabupaten Jember, Jawa Timur, untuk memperkuat produksi Tembakau Bawah Naungan (TBN) berkualitas ekspor sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Melalui skema ini, petani tidak hanya memperoleh pendapatan dari sewa lahan, tetapi juga tetap bekerja mengelola lahannya sendiri.
Desa Ajong dikenal sebagai salah satu sentra produksi Tembakau Bawah Naungan (TBN) premium yang menjadi komoditas andalan PTPN I Regional 5. Produk tersebut telah dipasarkan ke berbagai negara di Asia, Eropa, hingga Amerika Latin.
Di tengah tingginya permintaan pasar global, PTPN I memilih memperluas kemitraan dengan masyarakat sekitar dibanding mengelola seluruh kebutuhan lahan secara mandiri.
Skema tersebut dinilai mampu meningkatkan serapan tenaga kerja sekaligus menjaga keberlanjutan usaha perkebunan.
Baca juga : Penggeledahan Kasus Korupsi Jumbo, Pengamat Minta Publik Beri Ruang untuk Polisi
Direktur Utama PTPN I Abdul Rivai Ras mengatakan, kemitraan dengan masyarakat merupakan bagian dari amanat negara yang dijalankan perusahaan.
Menurutnya, petani pemilik sawah yang sebelumnya menanam padi maupun palawija kini dapat ikut terlibat dalam rantai pasok tembakau dunia melalui model bisnis yang inklusif dan berkelanjutan.
"Kolaborasi agribisnis di Ajong dirancang sebagai model bisnis yang inklusif sekaligus berkelanjutan. PTPN I memperkuat posisi di pasar internasional melalui TBN, sementara petani menghadirkan potensi lahan yang luar biasa. Dengan skema sewa lahan, petani menerima uang sewa di awal sekaligus tetap bekerja mengelola lahannya sehingga harga diri mereka sebagai pemilik sawah tetap terjaga," ujar Rivai di Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Menurutnya, skema tersebut juga diproyeksikan menjadi model kemitraan agribisnis yang dapat diterapkan di berbagai daerah.
Selain memperoleh kompensasi sewa lahan yang kompetitif, petani tetap memiliki hak penuh atas lahannya dan mendapatkan kesempatan mempelajari teknologi pertanian modern.
Baca juga : Gandeng Ak Bars Rusia, Iperindo Perkuat Industri Perkapalan
"Petani membutuhkan kepastian hasil, keamanan aset, dan rasa percaya diri. Yang lebih penting lagi, mereka dapat belajar praktik pertanian modern seperti smart farming berbasis science farming sehingga ke depan menjadi lebih mandiri dan sejahtera," jelasnya.
Melalui pola kemitraan ini, PTPN I menempatkan petani sebagai mitra strategis dalam pengembangan ekonomi sirkular perusahaan.
Selain memperoleh pendapatan dari sewa lahan, masyarakat juga menerima upah harian karena tetap dilibatkan dalam proses budidaya tembakau.
Salah seorang petani di Desa Ajong, Supardi (48), mengaku merasakan langsung manfaat program tersebut.
Menurutnya, pembayaran uang sewa di awal memberikan kepastian ekonomi bagi keluarganya, sementara keterlibatan sebagai pekerja membuatnya tetap memiliki penghasilan selama musim tanam.
Baca juga : KPK Pantau Pemulihan Yaqut, Penyidikan Kasus Kuota Haji Tetap Berjalan
"Kami merasa sangat beruntung. Uang sewa dibayarkan di depan sehingga bisa menjadi modal dan memenuhi kebutuhan keluarga. Kami juga tetap menggarap lahan sendiri dengan upah yang layak, sehingga tetap bangga menjaga tanah milik kami," ujarnya.
Antusiasme masyarakat terhadap program ini terus meningkat. Dalam setiap musim tanam, ratusan hingga ribuan hektare lahan sawah warga ikut dikerjasamakan melalui skema kemitraan.
PTPN I berharap, kolaborasi tersebut mampu menjaga pasokan tembakau premium untuk pasar internasional sekaligus memperkuat kesejahteraan ekonomi masyarakat Jember.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.