BREAKING NEWS
 

Dari Attaka untuk Indonesia: Menjaga Ketahanan Energi di Era Transisi

Reporter & Editor :
FAZRY
Sabtu, 25 Juli 2026 08:49 WIB
Di tengah Laut Kalimantan, pekerja PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) berdiskusi sebelum memastikan setiap proses produksi berjalan aman. Di balik setiap barel minyak dan MMSCF gas yang dihasilkan, ada dedikasi, inovasi, dan komitmen menjaga ketahanan energi Indonesia. (Dok. PHI)

RM.id  Rakyat Merdeka - Matahari baru merayap di ufuk Laut Kalimantan ketika cahaya mulai menyentuh rangka-rangka baja Attaka Field. Di tengah hamparan laut yang nyaris tak bertepi, anjungan minyak dan gas (migas) itu berdiri kokoh menantang ombak dan usia.

Selama puluhan tahun, dari tempat inilah migas mengalir, menjaga rumah-rumah tetap terang, pabrik terus beroperasi, dan roda ekonomi Indonesia berputar.

Namun, sedikit yang mengetahui bahwa di balik energi yang dinikmati jutaan orang, ada para pekerja yang menghabiskan berminggu-minggu jauh dari keluarga demi memastikan satu hal: energi negeri tidak pernah padam.

Bagi Hendra Murdani, Superintendent Production Attaka PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT), bekerja di Attaka bukan sekadar profesi.

Lapangan migas lepas pantai yang telah memasuki usia senja itu adalah amanah yang harus dijaga.

"Ada rasa bangga atas amanah yang ditugaskan kepada saya saat ini. Saya bekerja di Attaka Field, salah satu lapangan migas tertua di Kalimantan Timur. Banyak orang mungkin melihat produksinya tidak sebesar dulu, tetapi bagi kami, setiap barel minyak dan setiap Million Standard Cubic Feet (MMSCF) gas yang masih dapat diproduksikan adalah hasil dari kerja keras, dedikasi, dan inovasi seluruh tim," ujar Hendra dalam keterangan tertulis yang diterima Rakyat Merdeka, Rabu (22/7/2026).

Ucapan Hendra menggambarkan wajah lain ketahanan energi Indonesia. Ketika lapangan migas menua dan produksi alamiah terus menurun, mempertahankan setiap barel minyak justru menjadi pekerjaan yang semakin rumit.

Tantangannya bukan hanya cuaca ekstrem atau gelombang tinggi, tetapi memastikan setiap pipa, katup, dan peralatan yang telah beroperasi puluhan tahun tetap aman dan andal.

"Tantangan terbesar kami bukan hanya ombak, cuaca ekstrem, atau bekerja jauh dari keluarga. Di Attaka Field, setiap hari kami dihadapkan pada berbagai tantangan asset integrity, termasuk kebutuhan inspeksi dan perawatan yang semakin kompleks," katanya.

Baca juga : Menyelamatkan Anak Indonesia Dari Kekerasan Digital Dan Produk Adiktif

Di Attaka, keselamatan menjadi harga yang tak bisa ditawar. Setiap pekerjaan diawali dengan identifikasi risiko, setiap keputusan diukur dengan satu pertanyaan: apakah semua orang akan pulang dengan selamat?

"Tidak ada keberhasilan produksi yang layak dirayakan jika harus mengorbankan keselamatan," tegas Hendra.

Deretan pekerja PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) melintasi bridge penghubung antaranjungan di Attaka Field, Kalimantan Timur. Di balik senyum mereka, tersimpan tanggung jawab menjaga keselamatan, keandalan operasi, dan pasokan energi yang mengalir ke seluruh Indonesia.

Budaya itu membuat Attaka tetap bertahan. Inovasi pun menjadi napas baru lapangan tua ini. Digital monitoring, predictive maintenance, hingga risk-based inspection diterapkan agar fasilitas yang menua tetap mampu menopang kebutuhan energi nasional.

"Di lapangan yang sudah mature seperti Attaka, inovasi bukan merupakan pilihan, tetapi sudah menjadi kebutuhan," ujarnya.

Bagi Hendra, perubahan terbesar justru terjadi dalam cara pandang. Transisi energi tidak dipahami sebagai ancaman terhadap industri migas, melainkan dorongan untuk bekerja lebih efisien dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Optimasi aset, pengurangan kehilangan hidrokarbon, efisiensi energi, hingga penghematan bahan bakar kapal menjadi bagian dari keseharian para pekerja. Mereka tidak hanya menjaga produksi, tetapi juga berupaya memastikan setiap proses meninggalkan jejak karbon yang semakin kecil.

Hendra Murdani, Superintendent Production Attaka PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT). Bagi Hendra, menjaga lapangan migas Attaka bukan sekadar mempertahankan produksi, melainkan mengemban amanah memastikan energi tetap mengalir bagi masyarakat Indonesia melalui operasi yang aman, andal, dan berkelanjutan.

Pandangan itu sejalan dengan penilaian Manajer Riset Dekarbonisasi Sektoral Institute for Essential Services Reform (IESR), Dr. Farid Wijaya, yang menilai masa depan industri hulu migas tidak lagi cukup diukur dari besarnya produksi.

"Keberhasilan perusahaan hulu migas di masa depan tidak dapat lagi diukur hanya dari peningkatan produksi, tetapi juga harus mencakup indikator intensitas emisi, inovasi dekarbonisasi, serta kontribusi terhadap ketahanan energi dan pembangunan dalam kerangka berkelanjutan dengan emisi karbon yang rendah," ujar Farid saat dihubungi Rakyat Merdeka, Selasa (14/7/2026)

Adsense

Farid menilai, Kalimantan memiliki peluang menjadi contoh bagaimana industri migas tetap menjadi penopang ketahanan energi sekaligus bergerak menuju ekonomi rendah karbon.

Baca juga : Di FKP 2026, KADIN Jakarta Timur Dorong Penguatan Sinergi DJP dan Dunia Usaha

Menurutnya, langkah yang paling realistis bukan sekadar mengandalkan teknologi mahal, melainkan memperkuat efisiensi energi, mengurangi emisi metana melalui Leak Detection and Repair (LDAR), menghapus praktik flaring dan venting yang tidak perlu, serta mulai memanfaatkan energi terbarukan untuk mendukung operasi migas.

"Pengelolaan migas yang lebih berkelanjutan di Kalimantan berpotensi menjadi model tentang bagaimana sektor energi dapat menyeimbangkan aspek ekonomi, lingkungan, dan ketahanan energi, jika pendekatan business as usual dapat digeser menjadi pendekatan transisi dan dekarbonisasi yang terukur," katanya.

Pandangan Farid bukan sekadar konsep di atas kertas. Di Kalimantan, upaya menjaga keseimbangan antara produktivitas dan keberlanjutan mulai menemukan bentuknya.

Komitmen itu tercermin dalam langkah yang dijalankan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI).

Di tengah tantangan mengelola lapangan-lapangan migas yang semakin matang, perusahaan tidak hanya menjaga keberlangsungan produksi, tetapi juga memperkuat efisiensi operasi dan pengurangan emisi sebagai bagian dari strategi jangka panjang.

Senior Manager Relations PHI Handri Ramdhani mengatakan, komitmen tersebut berjalan beriringan dengan kinerja operasional perusahaan.

"Pada triwulan I-2026, PHI membukukan realisasi produksi minyak lebih dari 120 persen di atas target dan produksi gas sekitar 104 persen di atas target," ujar Handri.

Angka-angka itu menunjukkan bahwa menjaga keberlanjutan tidak berarti mengorbankan produktivitas. Sebaliknya, inovasi, disiplin operasi, dan budaya keselamatan menjadi fondasi yang membuat keduanya berjalan beriringan.

Komitmen tersebut diperkuat melalui berbagai program dekarbonisasi. Sepanjang 2024, PHI berhasil menurunkan emisi sebesar 222,87 ribu ton CO₂e, meningkat 32,88 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca juga : Menjunjung Tinggi Toleransi

Melalui Project One Sheet (POS), perusahaan juga mampu mengurangi lebih dari 153.600 ton CO₂e, disertai berbagai inisiatif efisiensi energi, optimalisasi penggunaan bahan bakar, dan pemanfaatan energi baru terbarukan pada sejumlah fasilitas operasi.

Hendra Murdani, Superintendent Production Attaka PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT), melakukan inspeksi fasilitas produksi di Attaka Field, Kalimantan Timur. Melalui penerapan budaya keselamatan, inovasi, dan pengelolaan aset yang andal, PHKT terus menjaga keberlanjutan produksi migas dari lapangan tua sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional di era transisi energi.

Bagi Hendra, berbagai capaian itu tidak pernah lepas dari kerja sama seluruh insan PHI, mulai dari pekerja di lapangan, tim pendukung di darat, manajemen perusahaan, hingga keluarga yang setia menunggu mereka pulang dari tengah laut.

"Bagi kami, setiap barel yang masih dapat dipertahankan bukan sekadar angka produksi, tetapi amanah untuk menjaga ketahanan energi Indonesia. Selama Allah SWT memberikan kesehatan dan keselamatan, serta keluarga terus mendoakan kami, kami akan terus mengabdi memberikan yang terbaik bagi negeri," ujarnya.

Ketika senja kembali menyelimuti Laut Kalimantan, lampu-lampu di Attaka tetap menyala. Di anjungan tua itu, para pekerja kembali memeriksa pipa, mengawasi panel kendali, dan memastikan setiap proses berjalan aman.

Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorotan kamera. Hanya pengabdian yang berlangsung dalam diam.

Di Attaka, ketahanan energi bukan sekadar soal migas yang diangkat dari perut bumi. Ketahanan energi lahir dari manusia-manusia yang memilih tetap setia menjaga amanah ketika aset menua, berani berinovasi di tengah keterbatasan, dan terus berubah ketika dunia menuntut energi yang lebih bersih.

Dari anjungan tua di Laut Kalimantan, bara energi Indonesia terus dijaga. Bukan hanya agar lampu tetap menyala hari ini, tetapi agar generasi mendatang mewarisi ketahanan energi yang lebih tangguh sekaligus bumi yang lebih lestari.

Inilah makna sesungguhnya "Dari Kalimantan untuk Indonesia": menjaga energi, menjaga harapan, dan menjaga masa depan bangsa.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense