BREAKING NEWS
 

Ekonomi RI Tahan Banting di Tengah Tekanan Global, Ini Penjelasan Pakar ITB

Reporter & Editor :
FIRSTY HESTYARINI
Kamis, 20 Agustus 2026 08:53 WIB
Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB), Dzikri Firmansyah Hakam (Foto: dok. ITB)

RM.id  Rakyat Merdeka - Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB), Dzikri Firmansyah Hakam mengapresiasi ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global dan tekanan pasar keuangan. Pada kuartal II 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) tetap berada di atas 5 persen. Meski lebih rendah dibanding pertumbuhan 5,61 persen pada kuartal I 2026.

Dalam Pidato Kenegaraan pada 14 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan optimismenya terhadap ketahanan ekonomi nasional. Sepanjang semester pertama 2026, realisasi investasi disebut mencapai Rp 1.010 triliun dan menciptakan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja.

"Pertumbuhan tersebut menarik karena berlangsung di tengah berbagai tantangan, mulai dari konflik geopolitik, perang dagang, gangguan rantai pasok, hingga dinamika pasar keuangan dan nilai tukar," kata Dzikri dalam keterangan resmi, Rabu (19/8/2026).

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 dapat dipahami dengan melihat perbedaan antara dinamika pasar keuangan dan aktivitas ekonomi riil.

Baca juga : Perlinsos Rp 500 T Ditebar, Pengusaha Siap Kolaborasi

Perubahan sentimen di pasar keuangan dapat berlangsung jauh lebih cepat, dibanding perubahan pada aktivitas ekonomi masyarakat dan perusahaan.

Sentimen investor dapat berubah dalam hitungan hari, sementara penyesuaian konsumsi, kredit, investasi, produksi, dan tenaga kerja membutuhkan waktu yang lebih panjang.

“Tekanan di pasar keuangan belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi pelemahan aktivitas ekonomi riil,” ujar Dzikri.

Dia menambahkan, kondisi itu antara lain tercermin dari dinamika pasar saham dan isu terkait investability Indonesia. Pada Juni 2026, Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang merupakan perusahaan penyedia indeks dan data pasar keuangan global menyoroti persoalan transparansi pemegang saham dan coordinated trading di pasar saham Indonesia, serta membuka kemungkinan konsultasi mengenai perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market, apabila perbaikan yang diperlukan belum terlihat pada November 2026.

Baca juga : Jaga Optimisme di Tengah Gejolak Ekonomi Dunia

"Tekanan seperti ini pada tahap awal lebih banyak memengaruhi harga aset, alokasi portofolio, arus investasi portofolio asing, risk premium, dan persepsi terhadap daya tarik investasi," papar Dzikri.

Dia bilang, dampaknya terhadap perekonomian riil baru akan semakin terasa apabila berlanjut menjadi kenaikan biaya modal, perlambatan investasi, penurunan ekspansi perusahaan, hingga berkurangnya penciptaan lapangan kerja dan pendapatan masyarakat.

Dzikri menilai, arus modal asing perlu dilihat secara lebih utuh. Pada kuartal II 2026, Bank Indonesia mencatat investasi portofolio asing mengalami net inflow sebesar 8,5 miliar dolar AS. Mayoritas bergerak menuju Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia.

Dengan begitu, tekanan di pasar saham dapat berlangsung bersamaan dengan masuknya modal ke instrumen pendapatan tetap.

Baca juga : Pertumbuhan 6% Bukan Mission Impossible

“Perkembangan tersebut lebih tepat dipahami sebagai perubahan preferensi dan alokasi portofolio, bukan semata-mata keluarnya modal asing secara menyeluruh,” jelas Dzikri.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense