BREAKING NEWS
 

Penyaluran B50 Tembus 73 Ribu KL Per Hari, Pertamina Perkuat Infrastruktur

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Jumat, 28 Agustus 2026 15:24 WIB
Foto: Pertamina

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Pertamina Patra Niaga memastikan kesiapan infrastruktur pencampuran (blending) dan distribusi biodiesel B50 untuk mendukung program Pemerintah dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil melalui pemanfaatan bahan bakar baru dan terbarukan.

Biodiesel B50 merupakan bahan bakar solar dengan komposisi campuran 50 persen Fatty Acid Methyl Ester (FAME) berbasis minyak kelapa sawit dan 50 persen solar fosil. Program tersebut dicanangkan Presiden Prabowo Subianto dan mulai diluncurkan serta didistribusikan secara bertahap sejak 1 Juli 2026.

Direktur Optimasi Hilir dan Distribusi Pertamina Patra Niaga Hari Purnomo mengatakan perusahaan terus memperkuat kesiapan fasilitas dan infrastruktur, pengendalian mutu produk, serta aspek keselamatan. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga keandalan pasokan energi kepada masyarakat.

Dalam implementasi program B50, Pertamina Patra Niaga terlibat langsung dalam seluruh rangkaian proses, mulai dari penerimaan FAME, penyimpanan, pencampuran, hingga distribusi.

Pada tahap awal, FAME diterima dari Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BUBBN) melalui tiga metode transportasi, yakni kapal laut, truk atau mobil tangki, serta jaringan pipa di terminal Pertamina yang lokasinya berdekatan dengan BUBBN.

Setelah diterima, FAME disimpan di dalam tangki penyimpanan sebelum memasuki proses pencampuran dengan solar. Proses blending tersebut dilakukan melalui dua metode, yakni sequential blending dan inline blending.

Baca juga : Pertamina Patra Niaga Raih Impact Commitment Awards di Investortrust CSR 2026

Dalam metode sequential blending, volume FAME dan solar diatur menggunakan alat pengukur masing-masing produk untuk menghasilkan komposisi B50. Sementara itu, metode inline blending dilakukan dengan mencampurkan FAME dan solar secara langsung saat kedua bahan tersebut mengalir melalui sistem perpipaan.

“Ada sequential blending, jadi antara tangki solar dan tangki FAME diblending di tangki untuk menghasilkan produk Biosolar B50. Ada inline blending, jadi disalurkan dari tangki solar dan tangki FAME, kemudian bertemu pada satu pipa, di situ ada proses mixing yang akan memastikan keduanya tercampur dengan baik sehingga menghasilkan produk B50,” kata Hari.

Setelah proses pencampuran, Pertamina Patra Niaga juga telah menyiapkan infrastruktur New Gantry System yang mampu memproses pengisian atau pemuatan B50 ke kendaraan tangki. Fasilitas tersebut telah tersedia di 11 lokasi di berbagai wilayah Indonesia.

Kesiapan infrastruktur itu menjadi bagian dari upaya Pertamina Patra Niaga dalam mendukung kelancaran distribusi B50 dari terminal hingga kepada masyarakat. Perusahaan juga terus melakukan pengawasan terhadap kualitas dan pola suplai produk tersebut.

Hari mengatakan, sepanjang 1 Juli hingga 20 Agustus 2026, realisasi penyaluran B50 rata-rata mencapai sekitar 73 ribu kiloliter per hari. Hingga 19 Agustus 2026, implementasi B50 telah mencakup 120 terminal BBM di seluruh Indonesia.

Adsense

Pertamina Patra Niaga terus memantau pola suplai dan distribusi B50, mengingat kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau. Perencanaan dan pelaksanaan distribusi dinilai harus dilakukan secara tepat untuk memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi.

Baca juga : Pertamina Hulu Energi Dorong Indonesia Jadi Hub CCS Regional

“Untuk proses suplai dari satu terminal ke terminal yang lain, dari satu titik ke titik yang lain, ini membutuhkan tingkat perencanaan dan realisasi yang harus tepat dan akurat agar masyarakat bisa memperoleh bahan bakar tepat waktu sesuai kebutuhannya,” ujar Hari.

Dari sisi kesiapan infrastruktur, Pertamina Patra Niaga telah menyiapkan 40 titik serah FAME dengan kapasitas aman penyimpanan terminal eksisting sebesar 271.691 kiloliter. Perusahaan juga terus meningkatkan kapasitas penyimpanan, fasilitas penerimaan FAME, serta kesiapan armada kapal dan mobil tangki.

Dengan komposisi 50 persen FAME dan 50 persen solar, kebutuhan bahan baku untuk mendukung distribusi B50 rata-rata mencapai sekitar 36,7 ribu kiloliter FAME dan 36,7 ribu kiloliter solar setiap hari.

“Kami berkoordinasi secara intensif, baik dengan Pemerintah, khususnya Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), maupun dengan BUBBN,” kata Hari.

Pemerintah menempatkan Program Mandatori Biodiesel B50 sebagai salah satu instrumen untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Program tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap impor solar, menghemat devisa, meningkatkan penyerapan minyak sawit mentah atau CPO, menciptakan lapangan kerja, serta menekan emisi gas rumah kaca.

Hari optimistis program B50 akan menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat ketahanan energi Indonesia. Selain meningkatkan kemandirian dalam memenuhi kebutuhan solar, program tersebut juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Baca juga : Pertamina Kembali Hadirkan UMK Academy, Dorong Pelaku Usaha Lokal Naik Kelas

“B50 jauh lebih bermanfaat untuk negara kita dalam memastikan kita bisa mencukupi kebutuhan gas oil kita, khususnya solar, secara mandiri. Dengan implementasi ini, sampai hari ini kita masih terus menjaga agar tidak melakukan impor produk solar,” kata Hari.

Sementara itu, Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Hamdan Hamedan mengatakan, implementasi B50 merupakan bagian dari perjalanan panjang pengembangan biodiesel di Indonesia selama 18 tahun.

Menurut Hamdan, ketahanan energi menjadi bagian integral dari upaya Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat ketahanan nasional. Pendekatan tersebut dilakukan melalui berbagai langkah, mulai dari meningkatkan produksi energi, memperkuat kapasitas kilang, memperluas penggunaan bahan bakar nabati seperti B50, hingga mempercepat pengembangan energi terbarukan.

Ia menilai implementasi B50 juga menunjukkan keberanian Indonesia dalam mengambil langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Program tersebut, menurut dia, menjadi bagian dari upaya mewujudkan kemandirian energi.

“B50 adalah sebuah perjalanan panjang selama 18 tahun sampai ke titik ini, dan bagaimana Pertamina mengakselerasi ini adalah bentuk keberanian dalam mengambil keputusan yang menentukan bahwa Indonesia bisa mandiri energi,” kata Hamdan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense