Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pertamina Hulu Energi Dorong Indonesia Jadi Hub CCS Regional
Jumat, 28 Agustus 2026 11:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, mendorong pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS) di Indonesia untuk memperkuat posisi Indonesia dalam membangun jaringan CCS lintas negara di kawasan.
Hal itu disampaikan Direktur Investasi dan Pengembangan Bisnis PHE Dannif Danusaputro dalam International Indonesia CCS Forum (IICCS Forum) 2026 di Jakarta, 26–27 Agustus 2026.
Dannif mengatakan Indonesia memiliki peluang strategis menjadi penggerak konektivitas CCS regional. Peluang itu ditopang potensi geologi, kedekatan dengan negara-negara di kawasan, serta pengembangan infrastruktur bersama.
Salah satu potensi tersebut berada di Asri Basin yang dinilai memiliki kapasitas penyimpanan karbon dan dapat dikembangkan menjadi CCS hub.
Fasilitas itu nantinya dapat mengonsolidasikan volume karbon dioksida (CO₂) dari sumber domestik maupun regional.
Baca juga : Semarak HUT RI ke-81, PHE ONWJ Gelar Upacara Serentak
“Indonesia dapat menjadi jangkar bagi terbentuknya jaringan CCS regional. Pengembangan dalam skala regional dapat dimulai dari satu proyek jangkar, yang kemudian berkembang melalui pemanfaatan infrastruktur bersama,” kata Dannif.
Menurut Dannif, percepatan CCS lintas negara membutuhkan penyelarasan regulasi, kepastian permintaan dan skema komersial, integrasi seluruh rantai nilai, serta kepercayaan terhadap aspek keselamatan.
Penyelarasan tersebut mencakup perizinan, penghitungan CO₂, Monitoring, Reporting and Verification (MRV), akses data, hingga tanggung jawab jangka panjang.
“Seluruh rantai nilai harus direncanakan secara terintegrasi, mulai dari penangkapan, pengangkutan, terminal, jaringan pipa, hingga penyimpanan CO₂,” ujar Dannif.
Untuk mendukung kesiapan tersebut, PHE mengembangkan aspek teknis, kerangka pendukung, pasar, dan ekosistem CCS secara paralel.
Baca juga : PHE Perluas Eksplorasi New Frontier, Bidik Deepwater dan Shale Oil
Dari sisi teknis, PHE mengintegrasikan desain sistem pengangkutan CO₂, terminal, jaringan pipa, sumur, dan fasilitas penyimpanan.
Perseroan juga menyiapkan lingkup kerja untuk memasuki tahap Front-End Engineering Design (FEED), pelaksanaan Hazard Identification Study (HAZID), kajian geomekanika, serta perencanaan Monitoring, Measurement, and Verification (MMV).
Di sisi komersial, PHE menyelaraskan struktur bisnis dengan regulasi CCS di Indonesia.
Perseroan juga mendukung kerja sama antarpemerintah terkait MRV dan pertukaran data. Kolaborasi diperluas dengan industri penghasil emisi CO₂, penyedia jasa, sektor pelayaran, perusahaan rekayasa, hingga pemodal strategis.
Ke depan, PHE akan menyelesaikan sejumlah tahapan penting, antara lain kerangka bilateral dan komitmen dari industri penghasil emisi CO₂, appraisal dan FEED, keputusan investasi, serta peningkatan skala menuju jaringan CCS regional.
Baca juga : PHE Dorong Pemboran Masif dan Teknologi untuk Kemandirian Energi
Dengan pendekatan tersebut, PHE mendorong CCS tidak hanya menjadi fasilitas penyimpanan CO₂, tetapi bagian dari ekosistem dekarbonisasi regional yang saling terhubung.
PHE juga berkomitmen melanjutkan investasi dalam pengelolaan operasi dan bisnis hulu migas yang berkelanjutan sesuai prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Komitmen tersebut dilakukan melalui penguatan budaya kepatuhan, penerapan tata kelola perusahaan yang baik, serta pencegahan fraud untuk mewujudkan lingkungan kerja yang profesional, transparan, dan beretika.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya