BREAKING NEWS
 

Pupuk Indonesia Jajaki Investasi Pabrik Amonia Dan Urea di Rusia

Reporter & Editor :
ADITYA NUGROHO
Sabtu, 5 September 2026 12:57 WIB
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan P. Roeslani dan Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi saat memberikan keterangan pers di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9/2026). (Foto: Pupuk Indonesia)

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Pupuk Indonesia (Persero) menjajaki peluang kerja sama strategis dalam pengembangan fasilitas produksi amonia dan urea berskala global, Nakhodka Fertilizer Plant Phase 2 (NFP-2), di Primorsky Krai, Rusia.

Penjajakan tersebut dilakukan melalui penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) untuk melakukan studi bersama (joint study) dengan holding JSC Ruschem dalam rangkaian Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan kerja sama kajian tersebut menjadi salah satu strategi jangka panjang perusahaan untuk memperluas alternatif sumber produksi dan pasokan sekaligus memperkuat resiliensi rantai pasok pupuk nasional.

"Penjajakan kerja sama kajian ini merupakan salah satu opsi strategi jangka panjang Pupuk Indonesia untuk mengamankan akses bahan baku dan kapasitas produksi global. Hal ini sejalan dengan arahan Danantara agar Pupuk Indonesia makin berperan dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, sekaligus memperluas peran di industri pupuk global," kata Rahmad, dikutip Sabtu (5/9/2026).

Baca juga : Prabowo-Putin Saling Memuji

Menurut dia, penjajakan kerja sama tersebut juga membuka potensi akses terhadap produksi amonia dan urea berbasis gas alam dengan struktur biaya bahan baku yang kompetitif.

Pengalaman Pupuk Indonesia dalam mengolah gas untuk menghasilkan amonia dan urea, kata Rahmad, menjadi salah satu modal dalam mengkaji peluang pengembangan proyek NFP-2 yang memiliki karakteristik produksi berbasis gas alam.

Proyek Nakhodka Fertilizer Plant merupakan pengembangan kompleks industri metanol, amonia, dan urea berskala global di Primorsky Krai, Rusia Timur, yang dikembangkan oleh JSC Ruschem.

Adsense

Fasilitas tersebut direncanakan memiliki kapasitas produksi sekitar 1,8 juta ton metanol, 2 juta ton amonia, dan 3,5 juta ton urea per tahun, dengan target operasi komersial sekitar 2030.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi [kanan] dan General Director of The Managing Organization JSC Ruschem, Davydov Eduard Malikovich [kiri] saat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Vladivostok, Rusia.

Baca juga : Diplomasi Odin V Pole Ne Voin: Doktrin Primakov dan Poros Eurasia di Vladivostok

Rahmad mengatakan lokasi proyek juga menjadi salah satu pertimbangan strategis dalam penjajakan kerja sama tersebut. Keberadaan Pelabuhan Vladivostok yang menghadap kawasan Samudera Pasifik dinilai membuka peluang untuk memperluas akses Pupuk Indonesia ke pasar Asia-Pasifik.

"Ini menjadi menarik karena Vladivostok menghadap Pasifik, kawasan yang selama ini memang menjadi pasar strategis Pupuk Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan P. Roeslani mengatakan penjajakan kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut konkret dari pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin dalam rangkaian EEF ke-11.

Menurut Rosan, kerja sama tersebut membuka peluang investasi global bagi Pupuk Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan bahan baku dan industri nasional.

Baca juga : Prabowo Undang Pengusaha Rusia: Mari Bangun Industri Bersama di Indonesia

"Pupuk Indonesia ini performance-nya makin lama makin bagus, makin efisien, sehingga mempunyai potensi yang sangat besar untuk berinvestasi di Vladivostok dan dengan pihak Rusia. Diharapkan ini menjadi salah satu langkah strategis yang bisa memperkuat sektor ketahanan bahan baku kita dan juga ketahanan industri kita," katanya.

Penandatanganan MoU tersebut menjadi tahap awal untuk mengkaji secara menyeluruh potensi pengembangan NFP-2. Kedua pihak selanjutnya akan melakukan studi kelayakan (feasibility study) dan uji tuntas (due diligence) terhadap peluang proyek tersebut.

Kajian itu akan mencakup berbagai aspek, mulai dari teknis dan keekonomian proyek, kepastian pasokan bahan baku, struktur pembiayaan, hingga risiko proyek serta kepatuhan terhadap ketentuan hukum dan regulasi yang berlaku.

Melalui kajian tersebut, Pupuk Indonesia akan mengevaluasi potensi kerja sama secara komprehensif sebelum menentukan langkah pengembangan selanjutnya. Penjajakan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya perusahaan memperkuat posisi dalam rantai pasok pupuk global dan mendukung ketahanan pangan nasional.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense