RM.id Rakyat Merdeka - Puluhan tahun lamanya, sejak 1968, napas PT Vale Indonesia Tbk, (Anggota dari Holding Industri Pertambangan MIND ID) hanya berembus di satu sudut bentang alam Sulawesi Selatan: Sorowako.
Di kota penambangan kecil yang dikelilingi danau-danau purba itu, jejak bumi dikeruk, diolah, hingga dipulihkan kembali melalui siklus pascatambang yang presisi.
Namun, panggung tunggal itu kini meluas. Raksasa nikel ini tengah meretas jalan baru, mentransformasi wujudnya dari operasi tunggal (single-operation) menjadi platform industri lintas wilayah (multi-site platform) di jantung Pulau Sulawesi.
Langkah besar perubahan tersebut dipaparkan oleh Head of Strategy and Business Development PT Vale Indonesia Tbk, Mateus Sigit Harisulistya, pada sosialisasi MediaMIND 2026 yang mengangkat tema Hilirisasi Nikel dan Optimasi Nilai Tambah Dalam Negeri, di Jakarta, Senin (14/9/2026).
Dengan raut wajah tenang di atas mimbar, Sigit membeberkan cetak biru perjalanan bisnis perseroan yang kini memegang Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) berlaku hingga 28 Desember 2035. Konsesi seluas total 118.017 hektare (ha) tersebut membentang di tiga provinsi:
Blok Sorowako di Sulawesi Selatan (70.566 ha), Blok Bahodopi di Sulawesi Tengah (22.699 ha), serta Blok Pomalaa dan Sua-Sua di Sulawesi Tenggara (24.752 ha).
"Dahulu kami bergerak sebagai single-operation base. Sekarang, PT Vale bertransformasi menjadi multi-site platform," kata Sigit seraya menunjuk slide presentasi yang menampilkan peta jangkauan baru perseroan.
Transformasi ini bukan sekadar perluasan peta tambang di atas kertas. Di dalamnya bertaut nilai investasi miliaran dolar AS serta pertaruhan teknologi tinggi untuk menjawab pergeseran zaman: transisi energi global menuju kendaraan listrik.
Membangun Tiga Raksasa Hulu–Midstream
Di bawah naungan pilar pertumbuhannya—Indonesia Growth Project (IGP)—PT Vale menancapkan kaki di tiga lokasi utama dengan strategi ganda. Sesuai amanat izin pertambangan, perseroan menggenggam 100 persen kepemilikan pada investasi hulu atau penambangan.
Sementara di sektor pengolahan, Vale menggandeng mitra-mitra global melalui skema joint venture (usaha patungan).
Di Bahodopi, Morowali, deru mesin berat sudah terdengar sejak proses konstruksi tambang dimulai.
Bekerja sama dengan pemain industri kelas dunia seperti GEM dan EcoPro, proyek IGP Morowali ini terdaftar sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) yang menelan investasi hingga 2,0 miliar dolar Amerika Serikat/AS (atau setara Rp35,31 triliun dengan asumsi kurs Rp17,657 per dolar AS), untuk fasilitas tambang dan pabrik pengolahan MHP (Mixed Hydroxide Precipitate).
Dirancang dengan prinsip net zero operation serta didukung jaringan Research and Development (R&D), pabrik HPAL (High-Pressure Acid Leach atau pencucian asam bertekanan tinggi) di Morowali berkapasitas 90 kiloton (kt) Ni/tahun MHP ini ditargetkan rampung pada 2027.
"Penyelesaian mekanis pertama (first mechanical completion) kami targetkan akhir 2026, lalu full mechanical completion pada kuartal pertama 2027," ujar Sigit.
Baca juga : Menambang Kedaulatan: Integrasi Hulu-Hilir Nikel Sulawesi
Per Juli 2025, proyek ini tercatat menyerap lebih dari 3.665 tenaga kerja dan merampungkan berbagai infrastruktur strategis seperti External Road, Nursery, Overpass Provinsi, dan Overpass Tunnel.
Tak kalah ambisius, di bumi Pomalaa, Sulawesi Tenggara, proyek IGP Pomalaa menelan investasi raksasa hingga 4,5 miliar dolar AS (sekitar Rp79,45 triliun). Menggenggam kemitraan strategis bersama Zhejiang Huayou Cobalt Co. Ltd dan produsen otomotif global Ford Motor Company, proyek HPAL yang dikelola PT Kolaka Nikel Indonesia ini memproses bijih saprolit dan limonet.
Lini produksinya ditargetkan menghasilkan 120.000 ton nikel dan 15.000 ton kobalt terhitung dalam produk MHP per tahun, dengan target penyelesaian konstruksi pada akhir tahun 2026.
Sementara itu, proyek IGP Sorowako mengusung inovasi Sorowako Limonite Ore (Sorlim).
Proyek ini memanfaatkan kembali bijih limonet kadar rendah yang dahulu dikategorikan sebagai tanah penutup (overburden) dan dibuang sebagai limbah.
Bermitra dengan PT Huali Nickel Indonesia (HNI), proyek brownfield (pengembangan area operasional yang ada) ini mengoptimalkan cadangan mineral tanpa membuka lahan baru.
Melipat Jarak, Membuka Nilai, dan Komitmen Hijau
Hilirisasi bagi PT Vale bukan lagi sekadar pemenuhan kewajiban regulasi, melainkan sebuah rantai nilai terintegrasi. Di sinilah teknologi HPAL mengambil peran sentral.
"Teknologi ini mengunci dan membuka nilai (unlock value) dari bijih limonet yang tadinya terbuang," terang Sigit.
Ia menambahkan bahwa teknologi HPAL termutakhir tak hanya menekan intensitas modal dan emisi karbon bila dibandingkan teknologi lama, tetapi juga menghasilkan tingkat pemulihan (recovery) nikel yang jauh lebih tinggi. Meski demikian, industri ekstraktif tak pernah lepas dari isu lingkungan.
Penanganan ampas pengolahan (tailing) dan perlindungan ekosistem menjadi pertaruhan reputasi.
Di depan para hadirin, Sigit memancarkan komitmen tegas untuk wajib mengadopsi standar keselamatan terketat. Bentuk nyata komitmen hijau tersebut terlihat langsung di lapangan.
Di Pomalaa, PT Vale telah mengoperasikan fasilitas Nursery Tanggetada di Desa Lalonggolosua yang mampu menampung hingga 1 juta bibit per tahun, dengan tingkat produksi rutin 500 ribu bibit pohon untuk rehabilitasi lahan.
Tak hanya di darat, perlindungan ekosistem perairan diuji di Danau Matano, Danau Mahalona, dan Towuti.
Sebagai pionir di sektor pertambangan, PT Vale menerapkan teknologi LGS (Lamella Gravity Settler) yang dikembangkan bersama BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). Sistem pemrosesan limbah cair (efluen) ini secara efektif mempercepat pemisahan partikel padat dan mereduksi polutan seperti TSS (Total Suspended Solids) serta kromium heksavalen (Cr^{6+}), memastikan air yang dialirkan kembali ke Danau Matano selalu memenuhi standar baku mutu lingkungan.
Baca juga : Atasi Karhutla Mempawah, Dirut ANTAM Turun Langsung Tinjau Pemadaman
"Ini adalah komitmen jangka panjang. Pengembangan HPAL di Indonesia diproyeksikan memberikan nilai tambah tinggi bagi ekosistem baterai dan kendaraan listrik nasional," tegas Sigit menutup pemaparannya, disambut gemuruh tepuk tangan peserta.
Menyambung Rantai: IBC dan Penguasaan Sektor Hilir
Upaya PT Vale di sektor hulu dan midstream (sektor tengah) menemukan muara idealnya di sektor hilir.
Indonesia Battery Corporation (IBC) kini resmi melangkah ke ranah produksi sel baterai kendaraan listrik dan Battery Energy Storage System (BESS atau Sistem Penyimpanan Energi Baterai), menandai keberadaan tegak Indonesia di panggung rantai pasok global.
Direktur Utama IBC, Aditya F. Arif, memaparkan bahwa posisi IBC saat ini berfokus pada ranah tengah hingga hilir (downstream) serta daur ulang (recycling).
Melalui kemitraan strategis joint venture bersama manufaktur baterai asal China, CATL, IBC telah mengoperasikan pabrik pembuatan sel baterai melalui PT HKP sejak Juli 2024.
"Di sisi downstream, kami memegang kepemilikan saham 30 persen bersama CATL. Pabrik ini sudah beroperasi sejak Juli dengan kapasitas awal 6,9 gigawatt hour (GWh) dan akan terus kami ekspansi hingga mencapai 15 GWh," ujar Aditya saat memaparkan pembaruan portofolio IBC.
Tak berhenti di fasilitas perakitan sel baterai yang menelan investasi sekitar 1,2 miliar dolar AS (sekitar Rp21,18 triliun) tersebut, IBC dan CATL juga menggarap proyek material baterai di sisi midstream bernilai 460 juta dolar AS (sekitar Rp8,12 triliun) dengan kapasitas awal 30.000 ton.
Pabrik terintegrasi di Karawang tersebut dirancang efisien: bahan baku diproses di dalam fasilitas sel sepanjang satu kilometer, lalu dialirkan langsung ke fasilitas pengemasan (packing) di sebelahnya untuk memenuhi kebutuhan Electric Vehicle (EV atau kendaraan listrik) dan BESS. Integrasi ini juga menggerakkan komoditas mineral nasional lainnya.
Dalam satu unit baterai, tidak hanya nikel yang dibutuhkan, tetapi juga terdapat porsi aluminium sekitar 33 persen dan tembaga sekitar 8 persen—komoditas yang seluruhnya melimpah di tanah air.
Guna menembus pasar internasional, IBC mengunci penerapan standar Environmental, Social, and Governance (ESG atau Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola).
"ESG bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan sebuah keharusan. Melalui bauran energi bersih dan daur ulang di akhir masa pakai baterai, sebagian besar emisi karbon dapat di-offset (dinetralkan). Ini kunci agar produk Indonesia kompetitif di pasar global," tegas Aditya.
Kemandirian ini kian kokoh lewat transfer pengetahuan (knowledge transfer). Sebanyak 600 tenaga kerja lokal disekolahkan dan dilatih langsung di China untuk memastikan operasional pabrik berjalan mandiri di tanah air.
Ujian Kedaulatan: Dampak Sosial dan Realita Lapangan
Sinergi raksasa industri ini terbukti mengubah peta ekonomi nasional secara drastis, khususnya di wilayah Indonesia Timur.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, melihat pergeseran ini secara nyata di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
Baca juga : Inalum Perkuat Penanganan Karhutla Di Mempawah, 60 Relawan MIND ID Dikerahkan
"Jika sepuluh tahun lalu ekonomi kedua daerah ini ditopang oleh sektor pertanian dan tambang mentah, kini lebih dari 75 persen didominasi oleh industri pengolahan," ungkap Faisal.
Namun, Faisal mengingatkan bahwa kedaulatan hilirisasi tidak boleh hanya diukur dari angka pertumbuhan ekonomi murni, melainkan dari sejauh mana industri ini mampu mengangkat derajat hidup masyarakat lokal secara manusiawi.
Gambaran paling jujur mengenai kondisi kerja di kawasan hilirisasi nikel justru tersirat dari cita-cita anak muda setempat. Saat melakukan studi lapangan dan bertanya langsung kepada warga lokal, Faisal menemukan peta pekerjaan impian (dream jobs) pemuda Morowali:
* PT Vale Indonesia: Menjadi pilihan utama karena dinilai memberikan standar kesejahteraan, keselamatan, dan perlindungan kerja yang paling baik.
* Pegawai Negeri Sipil (PNS): Menjadi pilihan kedua demi jaminan kepastian kerja dan masa depan.
* Pekerja Smelter Investor Asing: Bekerja di kawasan smelter (fasilitas pemurnian) berinvestasi asing (khususnya asal China) justru menempati urutan terakhir dalam daftar prioritas mereka.
Preferensi masyarakat lokal tersebut menjadi cermin pembanding yang tajam. Hilirisasi yang sejati tidak boleh sekadar memindahkan cerobong asap, mengalihkan bahan mentah, atau mengeruk perut bumi tanpa memedulikan keselamatan pekerja dan lingkungan sekitar.
Epilog: Menagih Janji Kedaulatan Mineral
Dari ceruk tambang Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa, hingga lini produksi sel baterai di Karawang, Indonesia sedang merajai babak baru sejarah industrinya.
Langkah PT Vale yang membangun ekosistem hulu terintegrasi, ditegaskan lewat teknologi pengolahan presisi LGS hingga penghijauan jutaan bibit di nursery, bersambut dengan IBC yang menguasai teknologi baterai di hilir.
Namun, pesan dari garis depan Morowali memberi peringatan mendasar: kedaulatan negeri atas hasil buminya baru bernilai penuh manakala mampu menghadirkan industri yang ramah lingkungan, aman bagi pekerja, dan menyejahterakan warga di sekitarnya.
Karpet merah hilirisasi tidak boleh mengorbankan standar keselamatan dan kemanusiaan. Ketika nikel dan mineral Nusantara berhasil diolah di tanah sendiri oleh anak bangsa, dengan standar hijau yang diakui dunia dan lingkungan kerja yang memanusiakan manusia, di situlah makna hakiki dari bumi untuk kedaulatan negeri akhirnya tertunai secara utuh.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.