Dark/Light Mode

Luhut Dorong Pengembangan Daur Ulang Baterai Kendaraan Listrik Di RI

Kamis, 3 September 2026 22:24 WIB
Foto: DIT/RM
Foto: DIT/RM

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mendorong pengembangan industri daur ulang baterai kendaraan listrik di Indonesia guna memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional sekaligus mengoptimalkan kembali pemanfaatan nikel dari baterai yang telah habis masa pakainya.

Luhut mengatakan, pengembangan battery recycling menjadi bagian penting dalam membangun industri kendaraan listrik yang terintegrasi, mulai dari pengolahan bahan baku hingga pemanfaatan kembali material yang terkandung dalam baterai bekas.

“Saya juga tadi bicara sama BYD di sini untuk kita melihat daur ulang baterai. Jadi recycling baterai itu saya kira penting sehingga nanti penggunaan nikel yang ada di kita bisa kita ekstrak lagi dari mobil atau baterai-baterai dari mobil-mobil yang ada di sini,” kata Luhut saat peresmian pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026).

Menurut dia, teknologi daur ulang baterai membuka peluang bagi Indonesia untuk mengambil kembali material bernilai dari baterai kendaraan listrik yang telah selesai digunakan.

Baca juga : Menperin Kaji Insentif Kendaraan Listrik Berbasis TKDN

Luhut mengatakan, berdasarkan informasi yang diperolehnya, teknologi yang dikembangkan untuk daur ulang baterai bahkan mampu mengekstrak kembali hingga sekitar 99 persen nikel dari baterai bekas.

“Dan mereka, setahu saya, mungkin sekarang sudah bertambah, sudah bisa mengekstrak 99 persen, kalau tidak keliru, nikelnya dari baterai yang sudah selesai dipakai. Dan ini saya kira suatu hal yang sangat istimewa,” ujarnya.

Ia mengatakan, Indonesia perlu mengambil peluang tersebut untuk melengkapi rantai industri kendaraan listrik di dalam negeri. Indonesia, kata dia, tidak cukup hanya mengandalkan sumber daya nikel dan pengembangan industri hulu, tetapi juga perlu membangun industri hilir yang terintegrasi.

Menurut Luhut, ekosistem kendaraan listrik di Indonesia harus terus dikembangkan mulai dari pengolahan bahan baku, produksi komponen, pembuatan baterai dan kendaraan, hingga pengelolaan baterai yang telah habis masa pakainya.

Baca juga : Investasi Mobil Listrik Tembus Rp 24,1 T, Kapasitas Capai 409 Ribu Unit

“Kita sudah punya industri baterai, sudah ada precursor, katoda dan sebagainya. Sekarang bikin baterai, bikin mobil, nanti bikin macam-macam lagi,” katanya.

Luhut juga menekankan pentingnya keterlibatan industri dan talenta dalam negeri dalam pengembangan ekosistem tersebut. Investasi besar, menurut dia, harus mampu melahirkan industri-industri baru serta membuka peluang transfer teknologi di Indonesia.

Ia mengatakan, pemerintah tidak ingin Indonesia hanya menjadi pasar bagi produk kendaraan listrik dari perusahaan global, melainkan menjadi bagian dari rantai produksi dan ekosistem industri yang lebih luas.

“Kita tidak hanya jadi market. Kita tidak mau, kita harus bagian daripada ekosistem itu,” kata Luhut.

Baca juga : Menperin Resmikan Pabrik BYD Di Subang, Perkuat Industri Mobil Listrik RI

Pengembangan industri daur ulang baterai dinilai dapat menjadi salah satu mata rantai penting untuk memperkuat ekosistem kendaraan listrik nasional, terutama seiring pertumbuhan penggunaan kendaraan listrik dan kebutuhan pengelolaan baterai setelah masa pakainya berakhir.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.