Sebelumnya
Libatkan Masyarakat Adat
Namun, pengelolaan tailing tidak semata-mata berbicara soal lingkungan. Toni menegaskan masyarakat adat di sekitar kawasan tailing juga dilibatkan secara langsung dalam kegiatan ekonomi yang tumbuh dari pengelolaan kawasan tersebut.
"Masyarakat suku Kamoro" menjadi salah satu kelompok utama yang terlibat. Aktivitas pengelolaan tailing berdampak pada lima desa, yakni Tipuka, Koprapoka, Ayuka, dan Ayaro serta wilayah masyarakat sekitarnya.
Melalui program rekognisi, kata Toni, PT FI telah membangun berbagai sarana dan prasarana untuk masyarakat. "Ada sekitar 3.000 rumah yang kita bangun buat mereka, jalan, jembatan, dan fasilitas lainnya," ujarnya.
Dia juga memastikan masyarakat diberi kesempatan untuk bekerja sebagai karyawan maupun kontraktor untuk terlibat dalam pengelolaan tailing ini. Bahkan, sejumlah kontraktor lokal dari masyarakat Kamoro telah berkembang menjadi pelaku usaha dengan kapasitas besar.
Baca juga : BNI Perkuat Fundamental Bisnis, Dukung Transformasi BUMN
Toni mencontohkan perusahaan PT. Putra Otomona milik Gary Okuware yang menurutnya dibina sejak awal hingga berkembang menjadi salah satu kontraktor lokal yang mengerjakan berbagai kegiatan di kawasan tailing dan wilayah dataran rendah.
"Pengelolaan tailing terutama di daerah pesisir ini memang seluruhnya dikerjakan oleh kontraktor lokal, termasuk untuk membuat kanal-kanalnya kemudian untuk melakukan penanaman mangrove di situ," katanya.
Tailing Mulai Dimanfaatkan untuk Infrastruktur
Dalam kesempatan tersebut, Toni juga menegaskan bahwa tailing bukan material yang harus selamanya dipandang sebagai sesuatu yang tidak memiliki nilai. Sejak 2008, PT FI telah memanfaatkan tailing untuk kebutuhan konstruksi.
Tailing antara lain telah digunakan untuk pavement di bandara, pembangunan jalan, jalan tambang dan sejumlah infrastruktur lainnya. Material tersebut bahkan pernah dikirim ke Nabire dan Merauke untuk melihat peluang pemanfaatannya.
Baca juga : MIND ID Pertahankan 90 Persen Pemasok Lokal demi Kedaulatan Ekonomi
"Kita lagi bangun satu rencana bangun bersama dengan Lanal. Ada dermaga angkatan laut yang akan kita perbesar supaya kita bisa melakukan transportasi tailing dengan lebih dekat dan lebih murah sehingga tailing ini bisa kemudian lebih dimanfaatkan lagi terutama untuk pengganti sirtu," ungkapnya.
Peluang pemanfaatan tailing sebagai material konstruksi dinilai penting karena wilayah tertentu di Papua tidak memiliki pasokan material seperti sirtu dalam jumlah memadai. Karena itu, pemanfaatan tailing berpotensi sekaligus mengurangi beban biaya material dan transportasi.
Masih Ada Emas dan Mineral Ikutan
Di sisi lain, tailing ternyata masih mengandung mineral ikutan. Toni mengungkapkan, emas masih terdapat dalam material tersebut karena tingkat recovery pengolahan bijih berada sekitar 80 persen. "Antara 10 sampai 20 persen itu ada di tailing," katanya.
Hasil riset PT FI mengungkapkan kandungan emas dalam tailing diperkirakan sekitar 0,1 part per million (ppm), sedangkan tembaga sekitar 0,1 persen.
Baca juga : Transformasi BUMN Berbuah Manis, Laba Pupuk Indonesia Melonjak 253 Persen
Unsur tanah jarang juga terdeteksi, tetapi menurut Toni kadarnya masih sangat kecil dan belum ekonomis untuk dimanfaatkan. PT FI bahkan telah memberikan data terkait kandungan tersebut kepada BRIN untuk dikaji lebih lanjut.
"Memang itu sebarannya luas sekali, tapi dari data yang kami punya logam tanah jarangnya kadarnya kecil sekali," ujarnya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.