Sebelumnya
Antam Bangun Ekosistem Baterai
Direktur Utama Antam Tbk Untung Budiarto mengatakan, fokus utama hilirisasi nikel saat ini diarahkan pada pembangunan ekosistem baterai kendaraan listrik yang terintegrasi mulai dari penambangan bijih, pengolahan melalui fasilitas Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) dan High Pressure Acid Leaching (HPAL) hingga material baterai berupa prekursor, katoda dan sel baterai.
Dijelaskan dia, Antam saat ini Antam mengembangkan Proyek Dragon di wilayah PT Sumber Daya Arindo dan Proyek Titan di wilayah PT Nusakarya Arindo, Maluku Utara.
Baca juga : Cegah Karhutla, Cek Endra Minta Perusahaan Perkebunan Siagakan Mobil Tangki Air
Pada Proyek ini, ada enam joint venture (JV) dikembangkan secara paralel dengan progress, JV1 memasuki pengembangan konstruksi area tambang Sangaji Utara, JV2 membangun fasilitas RKEF dan kawasan industri, sedangkan JV3 telah menyelesaikan Final Investment Decision (FID) untuk fasilitas HPAL.
Kemudian di JV4, memasuki penyusunan studi kelayakan dan FID untuk material baterai. JV5 mengembangkan pabrik sel baterai di Karawang, sementara JV6 memasuki tahap pembentukan JV untuk pengolahan black mass.
“Secara keseluruhan progres ini menunjukkan bahwa pengembangan ekosistem baterai Antam berjalan secara paralel dan terintegrasi,” kata Untung.
Baca juga : Rumah BUMN Pertamina Dorong UMKM Aceh Naik Kelas dan Perluas Pasar
Sementara Proyek Titan kini memasuki penyusunan joint viability study sebagai dasar keputusan investasi berikutnya. Vale Perluas Basis Hilirisasi Nikel PT Vale Indonesia juga diarahkan untuk memperluas basis industri nikelnya.
Perusahaan yang telah beroperasi sekitar 58 tahun di Indonesia itu tidak hanya mengandalkan Sorowako, tetapi mulai mengembangkan Pomala dan Bahodopi.
Direktur Utama PT Vale Indonesia Bernarus Irmanto mengatakan perusahaan memiliki konsesi sekitar 118 ribu hektare, tetapi area yang dapat ditambang hanya sekitar 56 ribu hektare. Selebihnya merupakan area pendukung yang harus dijaga untuk mempertahankan daya dukung lingkungan. Salah satu kekuatan Vale adalah penggunaan energi terbarukan.
Baca juga : MIND ID Optimalkan Penerimaan Negara dari Pengelolaan Mineral Nasional
Tiga PLTA yang dibangun perusahaan memiliki kapasitas total 365 MW dan memasok kebutuhan pengolahan di Sorowako. Untuk hilirisasi, proyek HPAL Pomala telah mencapai sekitar 95 persen dan ditargetkan memasuki mechanical completion serta commissioning pada September 2026.
Proyek tersebut dikembangkan bersama mitra dari Amerika Serikat dan China. Sementara proyek Morowali dikembangkan bersama mitra Indonesia, China dan Korea Selatan. “Jadi ada nilai lebih daripada investasi tetapi juga menjaga geopolitik,” kata Bernarus.
Di Bahodopi, pembangunan HPAL telah mencapai sekitar 41,5 persen dengan target satu lini produksi dapat diselesaikan pada Desember 2026. Adapun proyek HPAL Sorowako diarahkan memanfaatkan bijih limonit berkadar rendah yang sebelumnya belum termanfaatkan secara optimal.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.