Sebelumnya
Bukit Asam Ubah Batu Bara Jadi Produk Strategis
Di sektor batu bara, PT Bukit Asam (PTBA) juga menggeser orientasi dari sekadar penambangan menuju pengembangan produk turunan. Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan mengatakan perusahaan memiliki sumber daya batu bara sekitar 5,71 miliar ton dan cadangan sekitar 2,88 miliar ton.
Namun penguasaan PTBA masih relatif kecil dibandingkan sumber daya dan cadangan nasional. Karena itu, strategi PTBA tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi mengoptimalkan batu bara untuk kepentingan industri dan energi nasional.
Baca juga : Cegah Karhutla, Cek Endra Minta Perusahaan Perkebunan Siagakan Mobil Tangki Air
Sejumlah proyek yang dikembangkan mencakup Coal to SNG untuk alternatif pasokan gas, Coal to Methanol yang diarahkan menjadi DME untuk mengurangi ketergantungan impor LPG, Coal to Kalium Humat untuk mendukung ketahanan pangan, PLTU untuk Smelter Aluminium Mempawah, serta Coal to Artificial Graphite and Anode Sheet untuk mendukung industri baterai.
PTBA menargetkan Coal to Kalium Humat beroperasi pada kuartal III 2028, PLTU Smelter Mempawah kuartal III 2029, batu bara menjadi methanol/DME pada 2030 dan Coal to SNG pada 2032. Timah Mulai Bergeser Menjadi Perusahaan Industri Begitu juga di PT Timah.
Anak perusahaan MIND yang berada di Bangka Belitung ini juga mulai mengubah model bisnisnya. Direktur Utama PT Timah Restu Widiantoro mengatakan perusahaan tidak lagi ingin berhenti pada pengelolaan bijih timah hingga ekspor, tetapi bergerak menjadi perusahaan industri.
Baca juga : Rumah BUMN Pertamina Dorong UMKM Aceh Naik Kelas dan Perluas Pasar
Salah satu langkahnya adalah meningkatkan pemanfaatan logam timah di dalam negeri. Jika sebelumnya sekitar 3 persen produksi diproses untuk kebutuhan industri domestik, kini angkanya telah meningkat menjadi sekitar 16 persen atau sekitar 200 ton logam timah. Targetnya mencapai 20 persen pada akhir 2026.
PT Timah juga mulai mengembangkan pemanfaatan slag atau sisa hasil pengolahan sebagai bahan baku untuk pengembangan mineral tanah jarang.
“Jadi sekarang kami bergeser. Jadi tidak hanya perusahaan penambangan, tapi bergeser menjadi perusahaan industri. Karena tugas kepada kami untuk memberikan nilai tambah yang sebesar-besarnya untuk negara,” kata Restu.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.