BREAKING NEWS
 

Dari Sampah Pasar, Zulhaida Bangun Usaha Kerajinan Beromzet Jutaan

Reporter & Editor :
OKTAVIAN SURYA DEWANGGA
Kamis, 17 September 2026 21:23 WIB
Foto: PNM.

RM.id  Rakyat Merdeka - Tumpukan kulit jagung bekas di tempat sampah pasar tradisional justru menjadi awal perubahan hidup Zulhaida Sitanggang.

Dari bahan yang kerap dipandang tidak bernilai, nasabah PNM Mekaar itu mengembangkan usaha kerajinan tangan yang kini mampu menghasilkan omzet hingga Rp 5 juta per bulan.

Kisah tersebut bermula ketika pandemi Covid-19 melanda pada 2020. Zulhaida yang saat itu bekerja sebagai guru harus menghadapi pemotongan upah mengajar secara besar-besaran akibat ketidakstabilan sekolah tempatnya mengajar.

Kondisi tersebut membuatnya memutuskan berhenti mengajar dan mencari cara untuk bertahan dari rumah. Upaya awalnya tidak langsung berhasil.

Usaha berjualan tanaman secara daring yang lebih dulu dirintisnya justru tidak berkembang.

Titik balik datang ketika Zulhaida bergabung dengan komunitas alumni yang mengumpulkan barang bekas untuk disalurkan sebagai bantuan bagi warga terdampak pandemi.

Dari tumpukan gelas dan piring retak yang sudah tidak bisa dijual, Zulhaida melihat peluang. Ia menghias barang-barang tersebut dengan tali dari kain bekas, kemudian menjualnya secara daring.

Sebagian hasil penjualan kembali disumbangkan untuk kegiatan amal. Dua gelas hias pertamanya terjual Rp 100 ribu.

Meski sederhana, penjualan itu membuat Zulhaida semakin tertarik mengeksplorasi bahan bekas lainnya. Ketertarikannya berkembang ketika ia melihat rangkaian bunga berbahan kulit jagung saat berkunjung ke rumah saudara.

Zulhaida kemudian belajar secara otodidak melalui video tutorial dan mulai mengolah kulit jagung bekas yang diambilnya dari tempat sampah pasar tradisional.

Baca juga : Tak Sekadar Beasiswa, PNM Bekali Anak Nasabah Mekaar Jadi Future Changemakers

Hasil percobaan pertamanya belum sempurna. Namun, sebuah unggahan di media sosial menarik perhatian pembeli dan membuka jalan bagi perkembangan usahanya.

Titik penting berikutnya datang dari seorang perajin senior yang membimbing Zulhaida memperbaiki teknik pengolahan agar hasil kerajinannya lebih tahan lama dan tidak mudah berjamur.

Usaha yang kemudian diberi nama Aida Craft itu mulai dikenal melalui berbagai kesempatan.

Zulhaida kerap membagikan rangkaian bunganya sebagai hadiah dalam acara pernikahan dan ulang tahun sekaligus sebagai ajang promosi.

Karyanya pun mulai diliput sejumlah media lokal. Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Zulhaida sempat nyaris menyerah setelah karyanya diremehkan dalam sejumlah pameran.

Ia juga menerima cibiran karena memilih berjualan hasil olahan sampah, meski memiliki latar belakang sarjana dan pernah berprofesi sebagai guru.

Namun, ketekunannya membawa Zulhaida masuk ke jaringan Asosiasi Eksportir Handicraft Indonesia.

Ia juga mengikuti program pembinaan UMKM selama tiga bulan hingga akhirnya meraih sertifikasi BNSP sebagai pelatih kerajinan tangan.

Adsense

Pengembangan usaha kemudian mendapat dukungan pembiayaan dari PNM Mekaar yang dikenalnya melalui ajakan tetangga dan mulai digelutinya sejak 2024.

Dari data mitra binaan, usaha kerajinan tangan Zulhaida kini telah membuka lapangan kerja bagi dua orang karyawan.

Baca juga : Danau Sipin Kembali Bersinar, Leni Rajut Harapan Bersama Holding Ultra Mikro

Omzet bulanannya bahkan sempat mencapai Rp 5 juta, jauh dibandingkan penjualan pertamanya yang hanya Rp 100 ribu.

Menurut Zulhaida, dukungan PNM tidak berhenti pada pembiayaan. Modal awal yang diterimanya sempat digunakan untuk membeli kebutuhan produksi dasar seperti pot dan lem, ketika usahanya belum memiliki banyak modal selain kegigihan dan tumpukan kulit jagung bekas.

Seiring perkembangan usaha, berbagai program pemberdayaan PNM turut mendukung perjalanan Aida Craft.

Mulai dari pendampingan melalui Mba Maya, penguatan jejaring usaha lewat program Klasterisasi, hingga pembekalan kewirausahaan lanjutan melalui Mekaarpreneur.

PNM juga rutin melibatkan Zulhaida sebagai pemateri dalam kegiatan Pengembangan Kapasitas Usaha (PKU) bagi sesama nasabah.

Ia berbagi keterampilan dari satu kelurahan di sekitar Johor hingga daerah lain seperti Berastagi dan Binjai.

“Bersama PNM Mekaar, saya belajar mengembangkan usaha, menambah penghasilan, dan memberi yang terbaik untuk keluarga. Semangat terus untuk semua perempuan hebat di luar sana,” ujar Zulhaida.

Pemimpin Cabang Medan Muhammad Wazir membenarkan peran aktif Zulhaida dalam kegiatan PNM. Menurutnya, Zulhaida kerap dilibatkan sebagai pemateri dalam kegiatan PKU bagi nasabah lainnya di wilayah binaan.

“Bu Aida sering kita ajak untuk jadi pemateri untuk kegiatan PKU buat nasabah lainnya,” ujar Muhammad Wazir.

Direktur Utama PT Permodalan Nasional Madani (Persero) Kindaris mengatakan, kisah Zulhaida menunjukkan bahwa pembiayaan PNM dapat menjadi pintu masuk bagi perempuan untuk mengembangkan usaha dan mandiri secara ekonomi.

Baca juga : Lima Tahun Holding UMi, PNM Perkuat Akses Keuangan dan Pemberdayaan

“Kisah Ibu Zulhaida adalah contoh nyata bagaimana pembiayaan dari PNM bukan sekadar bantuan modal, tapi pintu masuk bagi perempuan Indonesia untuk bangkit dan mandiri secara ekonomi. PNM hadir bukan hanya untuk membiayai, tapi mendampingi hingga nasabah seperti Ibu Zulhaida bisa berbalik menjadi pemberdaya bagi sesama nasabah lainnya. Inilah semangat yang terus kami bawa, tumbuh bersama, berdaya bersama,” ujar Kindaris.

Peran Zulhaida sebagai pemberdaya kemudian meluas hingga ke luar jaringan PNM. Ketika mendapat permintaan untuk mengisi program pemberdayaan di kawasan pesisir yang tidak memiliki kulit jagung, ia mulai menggunakan bahan baku baru berupa limbah plastik.

Langkah tersebut membuat Zulhaida dikenal oleh Ikatan Pemulung Indonesia dan membawanya melatih 175 ibu-ibu se-Kota Medan.

Ia juga mendapat undangan dari Bank Indonesia untuk mempelajari secara langsung pengolahan limbah di Bali.

“Tidak ada yang mustahil ketika kita berusaha dan berdoa. Saya memulai dari sampah, tapi saya tidak pernah merasa hidup saya sampah justru penuh berkah,” kata Zulhaida.

Kini, perjalanan tersebut memasuki tahap baru. Rumah Zulhaida yang sekaligus menjadi ruang pelatihan tengah dipersiapkan untuk menjadi tempat kursus kerajinan bagi siapa saja yang ingin belajar, termasuk mereka yang tidak mampu membayar biaya secara penuh.

Langkah itu menjadi kelanjutan dari perjalanan Zulhaida yang dimulai dari keterbatasan pada masa pandemi, hingga akhirnya mengubah bahan-bahan yang dianggap tidak bernilai menjadi sumber penghasilan sekaligus sarana pemberdayaan bagi orang lain.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense