Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- KPK Dukung RUU Perampasan Aset, Dorong Penelusuran Berbasis Data
- Dulu Anak Pramuka, Kapolri Ajak Generasi Muda Raih Cita-Cita
- Gempa Darat M2,3 Goyang Kota Bogor, Kedalaman 3 Km
- Kesaksian Ari Lasso Jadi Penumpang Pesawat Garuda Indonesia Yang Alami Pecah Ban
- Borneo FC Siap Berburu Gelar di 4 Kompetisi
Tembus Hutan Rimba Kanekes, PNM Buktikan Pemberdayaan Sampai ke Tanah Baduy
Selasa, 1 September 2026 14:09 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Tak semua layanan keuangan bisa dijangkau dengan kendaraan. Di kawasan permukiman Lebak 2, wilayah Baduy luar, akses menuju rumah-rumah warga mengharuskan perjalanan dengan berjalan kaki, menembus jalur setapak di tengah rimbunnya hutan.
Di tengah keterbatasan akses tersebut, aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan. Hasil bumi diperjualbelikan saat musim panen, warung terus berputar, sementara kain khas Baduy dan tas koja dibuat sebagai bagian dari keterampilan sekaligus sumber penghidupan masyarakat.
Namun, ketika membutuhkan tambahan modal, akses terhadap layanan keuangan formal tidak selalu mudah, terutama bagi perempuan pelaku usaha yang menjalankan aktivitas ekonominya dari rumah.
Kondisi itu pula yang mendorong PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM untuk hadir lebih dekat. Melalui program Mekaar, PNM untuk pertama kalinya menyalurkan pembiayaan kepada tiga perempuan asli suku Baduy di wilayah Baduy luar, yakni Saenah, Juni, dan Sarti.
Ketiganya merupakan warga Lebak 2. Rumah mereka berada jauh di dalam kawasan permukiman dan hanya dapat dijangkau dengan berjalan kaki melalui jalur hutan.
Kehadiran PNM di lokasi tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan keterbatasan geografis tidak menjadi alasan bagi perempuan pelaku usaha di wilayah terpencil kehilangan kesempatan untuk mengembangkan penghidupannya. Saenah menjadi salah satu penerima manfaat.
Baca juga : Kehilangan Rumah dan Usaha, PNM Dampingi Nasabah Mekaar di Desa Sade
Ia menjalankan usaha jual beli hasil bumi, sembari menganyam tas koja dan menenun kain khas Baduy.
Melalui PNM Mekaar, Saenah memperoleh pembiayaan pertama sebesar Rp 4 juta yang digunakannya untuk membeli hasil bumi saat musim panen.
Sementara itu, Juni memperoleh pembiayaan Rp 6 juta untuk menopang usaha warungan dan jual beli hasil bumi. Adapun Sarti menerima pembiayaan Rp 4 juta untuk memperlancar perputaran modal usaha jual beli hasil bumi.
Menariknya, ketiga perempuan tersebut tidak langsung mengenal layanan keuangan formal. Mereka mengetahui PNM Mekaar dari lingkungan terdekat, yakni saudara yang lebih dahulu menjadi nasabah dan merasakan manfaat program tersebut.
Ketika kebutuhan modal datang, terutama saat musim panen, proses pengajuan yang dinilai mudah dan tidak berbelit membuat mereka berani mengambil pembiayaan pertama dalam hidup mereka.
Bagi Saenah, kehadiran modal tersebut memberikan manfaat yang sederhana tetapi nyata. Ia dapat membeli kebutuhan usaha, memperoleh kain, dan menjaga modal usahanya tetap berputar.
Baca juga : Tak Ingin Jamur Terbuang, Astuti Bangun Usaha hingga Pimpin Bank Sampah
“Dengan Mekaar, alhamdulillah itu dapat gitu ya. Barang-barang bisa kebeli. Sudah beli kain, sudah dapet juga buat usaha,” tuturnya.
Kisah dari tanah Baduy tersebut menjadi gambaran bagaimana PNM menjalankan perannya dalam menjangkau wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T).
Bagi PNM, menjangkau wilayah 3T bukan sekadar memperluas titik layanan, melainkan mendatangi masyarakat yang membutuhkan akses, termasuk ketika perjalanan menuju mereka membutuhkan usaha lebih besar.
Di berbagai wilayah dengan tantangan geografis serupa, PNM mengoperasikan ratusan unit layanan yang berupaya menjangkau nasabah di titik-titik yang sulit tersentuh layanan keuangan formal.
Kehadiran tersebut juga tidak berhenti pada pembiayaan. Model bisnis PNM Mekaar menggabungkan modal usaha dengan pendampingan, sehingga nasabah tidak hanya memperoleh kesempatan untuk memulai atau mengembangkan usaha, tetapi juga memiliki ruang untuk terus belajar dan bertumbuh.
Semangat untuk hadir hingga ke titik yang sulit dijangkau itu sejalan dengan pesan Direktur Utama PNM Kindaris. Menurutnya, ukuran keberhasilan PNM bukan semata-mata dari besarnya pembiayaan yang disalurkan.
Baca juga : Bersama BRI, Usaha Mikro Rawat Resep Terasi Kumbe Merauke Raih Pasar Lebih Luas
“Setiap perempuan prasejahtera di Indonesia berhak mendapatkan pembiayaan dan pemberdayaan di mana pun lokasi mereka. Itulah yang terus PNM upayakan, sejauh mana perusahaan mampu menghadirkan harapan bagi masyarakat, bahkan yang berada di wilayah paling sulit dijangkau,” jelas Kindaris.
Di Baduy, harapan tersebut hadir dalam bentuk yang mungkin terlihat sederhana, mulai dari modal untuk membeli hasil bumi, menjaga warung tetap berjalan, hingga membuat usaha terus berputar.
Namun, di balik angka pembiayaan tersebut terdapat keberanian untuk mencoba, kesempatan untuk bertumbuh, dan keyakinan bahwa akses terhadap pembiayaan tidak seharusnya ditentukan oleh seberapa jauh seseorang tinggal dari pusat kota.
Tiga pencairan pertama di tanah Baduy luar pun menjadi lebih dari sekadar catatan penyaluran pembiayaan.
Momen tersebut menjadi penanda bahwa ketika ada perempuan yang ingin mengembangkan usahanya, PNM bersedia menempuh jalan lebih jauh untuk menemuinya.
“Tidak ada wilayah yang terlalu jauh untuk dihadiri PNM memberikan pembiayaan dan pemberdayaan selama masih ada perempuan yang ingin usahanya tumbuh,” tutup Kindaris.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya