RM.id Rakyat Merdeka - Rupiah kepayahan di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Satu dolar AS nyaris kembali menyentuh Rp 18.000. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto memastikan terus memonitor kondisi tersebut.
Sepanjang pekan ini, rupiah terus mengalami pelemahan. Pada pembukaan perdagangan Senin (21/9/2026), berada di level 17.793 per dolar AS. Sedangkan pada penutupan perdagangan Jumat (25/9/2026), rupiah di level Rp 17.902 per dolar AS. Bahkan, sehari sebelumnya, nilai tukar rupiah sempat menyentuh di Rp 17.916 per dolar AS.
Airlangga mengatakan, fluktuasi nilai tukar merupakan hal yang biasa terjadi di pasar. Namun, Pemerintah terus memantau pergerakannya. “Kita monitor,” ujarnya, di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Airlangga tidak menjelaskan lebih jauh langkah yang akan dilakukan pemerintah. Ia hanya memastikan, perkembangan nilai tukar terus dipantau.
Bank Indonesia (BI) menyebut, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi kondisi global dan dalam negeri. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, salah satu faktor yang menekan rupiah adalah perkiraan pasar bahwa bank sentral Amerika Serikat, The Fed, bakal memperketat kebijakan moneternya.
Baca juga : Kunjungi Korban Banjir Sumbar, Gibran Tampung Keluhan Warga
“Kondisi tersebut mendorong yield US Treasury 10 tahun naik hingga 5,11 persen, tertinggi sejak 2007,” kata Erwin, dalam keterangannya, dikutip Jumat (25/9/2026).
Kenaikan bunga surat utang AS membuat dolar kembali banyak diburu investor. Ketidakpastian konflik di Timur Tengah juga ikut menekan rupiah karena memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak dunia.
“Sehingga harga minyak Brent kembali di atas 100 dolar AS per barel,” ujar Erwin.
Dari dalam negeri, lanjutnya, kebutuhan dolar meningkat menjelang akhir kuartal III-2026. Salah satunya berasal dari importir yang membutuhkan dolar untuk membayar pembelian barang dari luar negeri. Selain itu, sebagian investor asing menarik dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong memperkirakan, tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut. Menurutnya, pelemahan dipengaruhi penguatan indeks dolar AS dan kenaikan bunga surat utang pemerintah AS. Pergerakan tersebut terjadi seiring meningkatnya ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober 2026.
Baca juga : Mansur: Belum Ada Kebijakan Khusus Bagi Guru Swasta
“Rupiah diperkirakan masih melemah terhadap dolar AS, dengan indeks dolar dan imbal hasil obligasi AS yang terus menanjak oleh meningkatnya prospek kenaikan suku bunga oleh The Fed di Oktober,” ucap Lukman, Jumat (25/9/2026).
Meski begitu, Lukman melihat ada sejumlah faktor yang dapat menahan pelemahan rupiah. Salah satunya harapan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Penurunan harga minyak mentah dunia pada perdagangan Jumat pagi juga dinilai dapat membantu rupiah bertahan.
“Harapan kesepakatan AS-Iran dan harga minyak mentah dunia yang turun di pagi ini (Jumat pagi, red) bisa menahan pelemahan yang lebih besar,” lanjutnya.
Lalu, bagaimana mengatasi pelemahan rupiah? Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian mengatakan, tekanan terhadap rupiah tidak selalu harus diatasi dengan menaikkan suku bunga. Ia memandang, BI dapat menggunakan kebijakan lain yang lebih sesuai dengan sumber masalah.
Fakhrul menyebut, tingginya suku bunga global, kenaikan harga minyak, dan meningkatnya risiko dolar menjadi sejumlah faktor yang menekan rupiah. Karena itu, BI dapat memperkuat fasilitas pertukaran dolar dan rupiah serta membantu pelaku pasar mengurangi risiko perubahan nilai tukar.
Baca juga : Abdul Fikri Faqih: Nasib Guru Swasta Kerap Dipinggirkan
“Kalau sumber tekanannya terutama berasal dari global yield, minyak, dan tingginya risiko valuta asing, instrumennya juga harus lebih spesifik terhadap sumber masalah tersebut,” ujar Fakhrul, Jumat (25/9/2026).
Ia melihat, BI sudah mulai menggunakan cara tersebut. Pada Agustus, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen sekaligus memperluas insentif untuk menekan biaya perlindungan dari perubahan nilai tukar.
Fakhrul mengatakan, kebijakan tersebut perlu diarahkan agar dana asing yang masuk ke Indonesia tidak hanya datang sesaat, tetapi bertahan lebih lama. “Prinsipnya sederhana: semakin lama modal bersedia tinggal di Indonesia, semakin besar currency-risk intermediation yang dapat diberikan BI,” katanya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.