RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah bakal menerapkan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam bidang hilirisasi industri untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas nasional. Penggunaan teknologi ini juga diiringi dengan penguatan ekosistem investasi dan ekonomi digital.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, sejumlah industri seperti PT Vale Indonesia, telah mengimplementasikan AI, khususnya pada area operasional yang berisiko bagi pekerja manusia.
“Kepatuhannya meningkat dari 89 persen menjadi 95 persen dan meningkatkan produksi tambahan 182 ton nikel per tahun. Ini hanya bisa dilakukan oleh AI,” kata Airlangga melalui keterangan resminya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Pada sektor manufaktur, penerapan machine-to-machine learning yang didukung Internet of Things (IoT) dan industri 4.0 juga telah berjalan.
“Pabrik mati lampu pun bisa jalan karena mereka sudah menggunakan otomatisasi,” ucapnya.
Baca juga : Please, Tarif Transjakarta Jangan Buru-buru Dikerek
Airlangga mengatakan, AI akan menjadi game changer, sekaligus memicu tumbuhnya industri baru. Yakni pusat data (data center). Potensi ini didukung oleh ketersediaan lahan, energi, air dan pasar domestik yang besar di Indonesia.
Pengembangan ekonomi digital tersebut, lanjut Airlangga, perlu diiringi ketersediaan data berkualitas dan penguatan Sumber Daya Manusia (SDM).
Melalui kerja sama Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) dalam Digital Economic Framework Agreement (DEFA), ekonomi digital kawasan diperkirakan melonjak dari sekitar 1 triliun dolar AS (Rp 17.877 triliun) menjadi 2 triliun dolar AS (Rp 35.754 triliun). Dengan porsi sekitar 40 persen ekonomi ASEAN, Indonesia memiliki peluang besar menjadi penggerak pertumbuhan kawasan.
Guna mendukung transformasi tersebut, Pemerintah memperkuat program vokasi dan kolaborasi dunia usaha. Termasuk pengembangan talenta AI dan semikonduktor.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, di tengah ketidakpastian global yang tinggi, Pemerintah terus memperkuat fondasi perekonomian melalui ekosistem hilirisasi dan industri bernilai tambah tinggi.
Baca juga : Tango Terakhir Lionel Messi
Sejumlah indikator risiko eksternal menunjukkan perbaikan. Hal itu tercermin dari penurunan Geopolitical Risk Index (GPR) hingga Agustus 2026, serta melandainya Trade Policy Uncertainty (TPU) sejak April 2026.
Kendati demikian, risiko disrupsi rantai pasok, volatilitas harga komoditas dan kondisi keuangan global tetap diwaspadai. Termasuk dampak konflik di Selat Hormuz terhadap biaya logistik (logistic cost) dan kepastian bahan baku.
Meski menghadapi berbagai tantangan, kinerja investasi nasional tetap positif. Realisasi investasi pada semester I-2026 telah mencapai Rp 1.010 triliun atau hampir 50 persen dari target tahun ini sebesar Rp 2.041 triliun.
Untuk menjaga daya tarik investasi di tengah perubahan kebijakan perpajakan global—seperti penerapan Global Minimum Tax sebesar 15 persen—Pemerintah terus meninjau skema insentif fiskal dan memperluas akses pasar internasional.
Upaya ini diperkuat lewat berbagai skema kerja sama seperti Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dan Free Trade Agreement (FTA).
Baca juga : Sukses Di Asian Games 2026, PBSI Bidik Emas Olimpiade 2028
“Ini yang terus kita dorong, sehingga kita mendapatkan dua manfaat sekaligus. Pertama, membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia. Kedua, membuat Indonesia semakin menarik bagi investor,” jelas Susiwijono. DIR
Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 10, edisi Kamis, 8 Oktober 2026 dengan judul "Tingkatkan Efisiensi & Produktivitas AI Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Industri Di Indonesia"
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.