RM.id Rakyat Merdeka - Lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) memberi warning terhadap pasar keuangan Indonesia. Merespons pengumuman tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah langsung tertekan pada perdagangan Jumat (16/10/2026).
Dalam laporan yang dikeluarkan Kamis (15/10/2026), MSCI membuka peluang perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market (pasar negara berkembang) menjadi standalone market (pasar mandiri). Menurut MSCI, status Indonesia sebagai pasar negara berkembang dinilai tidak lagi sesuai dengan kondisi pasar saham domestik.
Keputusan tersebut didasarkan pada kekhawatiran pelaku pasar mengenai transparansi struktur kepemilikan saham, dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi, serta belum terlihatnya bukti penegakan hukum yang memadai. MSCI menyatakan akan mengumumkan keputusan final paling lambat pada 30 Juni 2027.
Selama periode konsultasi, MSCI akan meminta masukan dari pelaku pasar mengenai proposal reklasifikasi Indonesia. MSCI akan menghentikan proposal tersebut jika hasil konsultasi menunjukkan bukti yang jelas mengenai perbaikan dalam tata kelola pasar.
Pengumuman MSCI langsung mengguncang pasar domestik. IHSG rontok pada pembukaan perdagangan Jumat (16/10/2026), turun 469,86 poin atau 8,01 persen ke level 5.393,92. Bursa Efek Indonesia (BEI) kemudian menghentikan sementara perdagangan saham (trading halt) selama 30 menit untuk meredam kepanikan pasar dan mencegah kerugian yang lebih besar bagi investor.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak pada kisaran 5.185,11–5.404,51. Tekanan semakin kuat hingga penutupan, dengan IHSG anjlok 11,57 persen ke level 5.185,11.
Baca juga : Dirut PLN Diganti, Listrik Jangan Blackout Lagi
Tekanan serupa terjadi pada nilai tukar rupiah. Rupiah melemah 100 poin atau 0,56 persen ke level Rp 18.038 per dolar AS pada pembukaan perdagangan. Pelemahan berlanjut hingga sore hari. Rupiah ditutup turun 89 poin atau 0,50 persen menjadi Rp 18.027 per dolar AS.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui, pelemahan IHSG dan rupiah dipengaruhi faktor MSCI. Menurutnya, pengumuman MSCI tersebut terbilang mendadak, terlebih baru saja berlangsung pertemuan antara MSCI dan sejumlah pejabat Indonesia di Bangkok, Thailand, Selasa (13/10/2026).
"Ini kan ada tanda tanya besar. Kemarin di Thailand kenapa (MSCI) enggak ngomong yang ini. Padahal yang kemarin itu seminggu juga belum," kata Airlangga.
Meski demikian, Airlangga menegaskan, Pemerintah tidak ingin terburu-buru berprasangka negatif terhadap pihak tertentu di balik pengumuman tersebut. "Ya, tentu kita lihat saja, tapi kita tidak boleh suuzan," kata Airlangga.
Dari sisi regulator, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menghormati pandangan MSCI dan merespons masukan yang diberikan. Ia optimistis, pasar modal Indonesia tetap prospektif dan menarik.
"Didukung fundamental perekonomian yang terjaga, basis investor yang terus bertumbuh, valuasi saham yang kompetitif, dan kinerja fundamental emiten yang secara umum masih positif," kata Friderica dalam siaran pers, Jumat (16/10/2026).
Baca juga : Sehari Setelah OTT KPK, BNPB Ganti Kepala
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menambahkan, masukan MSCI sejalan dengan Rencana Aksi Percepatan Reformasi Integritas Pasar Modal Indonesia. Salah satu aspek yang menjadi perhatian ialah penegakan hukum secara konsisten dan berkelanjutan.
Sementara itu, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik memastikan, pihaknya bersama OJK telah melakukan berbagai langkah konkret untuk meningkatkan transparansi, integritas, dan kualitas pasar modal Indonesia. BEI juga akan meminta klarifikasi kepada MSCI, khususnya mengenai dasar pertimbangan dan penilaian yang melatarbelakangi pengumuman tersebut.
Jeffrey mengatakan, perbaikan tersebut telah mendapatkan apresiasi dan respons positif dari investor global maupun lembaga penyedia indeks internasional. “Ini mencerminkan komitmen otoritas dan seluruh pemangku kepentingan dalam memperkuat kredibilitas serta daya saing pasar modal Indonesia,” katanya, Jumat (16/10/2026).
Gejolak pasar juga menjadi perhatian DPR. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menyambangi BEI bersama Kapolri Suyudi Ario Seto, CEO Danantara Rosan Roeslani, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, serta Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN Dony Oskaria.
"Kami memonitor serta meminta kepada bursa untuk terus melakukan perbaikan-perbaikan," kata Dasco saat konferensi pers di BEI, Jumat (16/10/2026).
BI Perkuat Intervensi
Baca juga : Dipanggil KPK Kedua Kalinya, Nusron Mangkir Lagi
Di tengah tekanan terhadap pasar keuangan, Bank Indonesia (BI) memperkuat intervensi di pasar valuta asing (valas) untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah setelah menembus level Rp 18.000 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Jumat (16/10/2026).
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea mengatakan, tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan dolar AS. “Hal ini menekan pasar keuangan domestik, arus keluar dana dari aset portofolio domestik diperkirakan masih berlanjut,” kata Erwin dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (16/10/2026).
Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI melakukan intervensi melalui sejumlah instrumen. Instrumen tersebut antara lain transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Erwin menyebut pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan. Secara quarter-to-date (QTD), rupiah tercatat melemah terbatas sebesar 0,28 persen.
Di tengah tekanan tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia tetap terjaga sebesar 146,3 miliar dolar AS pada akhir September 2026. “BI berkomitmen untuk terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamentalnya dan memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik,” tegas Erwin.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.