RM.id Rakyat Merdeka - Pengamat politik Hendri Satrio menilai penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Kamis (22/10/2026) menjadi sinyal awal pulihnya kepercayaan investor terhadap pemerintah.
Hendri Satrio, yang akrab disapa Hensa, mengatakan kenaikan IHSG tidak cukup dilihat sebagai perkembangan di pasar modal. Menurutnya, pergerakan indeks juga dapat mencerminkan penilaian investor terhadap kredibilitas pemerintah.
“Kabar baik ini, tanda kepercayaan ke pemerintah mulai kembali. Sederhananya, investor itu tadinya hanya bertanya satu hal, yaitu pemerintahnya bisa dipegang atau tidak,” kata Hensa dalam keterangannya, Jumat (23/10/2026).
“Hari ini jawabannya mulai mengarah ke ‘bisa’. Tapi baru mulai lagi loh ya, jadi ini memang positif tapi harus tetap kita pantau lagi,” lanjutnya.
Baca juga : Menghijau Lagi, IHSG Tembus 5.397
Pendiri lembaga survei KedaiKOPI itu menilai sikap tegas pemerintah, termasuk Presiden Prabowo Subianto, dalam menghadapi tekanan dari pihak luar seperti MSCI turut memberi pesan politik kepada pasar.
Meski demikian, Hensa mengingatkan ketegasan pemerintah perlu ditunjukkan secara konsisten, bukan hanya ketika menghadapi situasi genting.
“Sikap tegas itu bagus, dan publik menangkap pesannya bahwa pemerintah tidak panik,” ujarnya.
Ia juga menyoroti koordinasi di internal kabinet. Menurut Hensa, kemampuan pemerintah menghadapi tekanan eksternal perlu diimbangi dengan keselarasan langkah antarkementerian.
Baca juga : Singapura Bantah Recoki Bursa Saham Indonesia
“Kadang saya heran, tekanan dari luar bisa dihadapi dengan kepala tegak, tapi koordinasi di dalam kabinet sendiri masih sering jalan masing-masing,” katanya.
Hensa menambahkan, masyarakat kini semakin memperhatikan kesesuaian antara pernyataan pejabat dan pelaksanaan kebijakan. Informasi yang beredar di media sosial turut memudahkan publik membandingkan ucapan pemerintah dengan tindakan nyata.
“Publik sekarang tidak cukup dikasih kata-kata. Mereka buka media sosial, lalu cocokkan apa yang diucapkan dengan apa yang dikerjakan. Kalau keduanya sejalan, kepercayaan datang sendiri tanpa perlu diminta. Kalau tidak sejalan, sebagus apa pun pidatonya, orang akan lupa besok pagi,” tuturnya.
Menurut akademisi Universitas Paramadina tersebut, salah satu risiko bagi kepercayaan publik justru berasal dari pernyataan pejabat pemerintah yang tidak terukur. Pernyataan yang menimbulkan polemik, kata dia, dapat mengurangi dampak positif dari kebijakan yang telah dijalankan.
Baca juga : BRI Siapkan Buyback Saham Tahap II Optimistis Prospek Pertumbuhan Jangka Panjang
Ia mengingatkan para pejabat agar lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan kepada publik, terutama ketika kepercayaan terhadap pemerintah mulai menunjukkan perbaikan.
“Jadi kalau ada menteri yang hobi bikin gaduh, sebaiknya puasa bicara dulu biar kepercayaan yang baru balik ini tidak kabur lagi,” imbuhnya.
Hensa juga meminta pemerintah tetap terbuka terhadap kritik. Menurutnya, kepercayaan publik tidak dibangun dengan menghindari perbedaan pendapat, melainkan melalui konsistensi kerja dan kemampuan merespons kritik secara tenang.
Karena itu, Hensa berharap penguatan IHSG dapat menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola pemerintahan dan menjaga kepercayaan investor. Ia menekankan bahwa sinyal positif di pasar perlu diikuti langkah nyata dan konsistensi kebijakan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.