RM.id Rakyat Merdeka - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pasar saham Indonesia telah menunjukkan ketahanan, resiliensi, dan kemampuan beradaptasi di tengah tekanan dan ketidakpastian sejak lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengusulkan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Usulan ini diumumkan pada 15 Oktober 2026 dan belum menjadi keputusan final.
"Ini tentu patut kami apresiasi. Perkembangan ini memberikan alasan bagi kita untuk tetap optimis sekaligus waspada, dan terus bekerja keras dalam memperkuat kepercayaan, serta menggulirkan dan menuntaskan agenda-agenda reformasi berintegritas di pasar modal Indonesia," kata Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (26/10/2026).
Baca juga : Strategi Dua Jalur
Hasan menjelaskan, pergerakan pasar di sepanjang pekan lalu telah menunjukkan perkembangan kondisi yang lebih baik.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan sebesar 4,9 persen di sepanjang pekan lalu (19-23 Oktober 2026), setelah sempat mengalami penurunan signifikan dan menyentuh titik terendah 4.907,37 pada Senin (19/10/2026).
Di sesi penutupan perdagangan pada Jumat (23/10/2026), IHSG ditutup pada level 5.439,2 atau naik signifikan.
Baca juga : Polemik MSCI Belum Reda, IHSG Bangkit Lagi
"Yang menarik, minggu lalu sekaligus menjadikan Bursa Efek Indonesia sebagai indeks dengan kinerja mingguan terbaik di antara indeks-indeks bursa utama dunia," papar Hasan.
Hasan menambahkan, berbagai upaya dan respon kebijakan cepat yang dilakukan untuk merespon pengumuman MSCI, mampu meredam kepanikan ataupun kekhawatiran pasar untuk tidak berlanjut dan terus terjadi.
Kebijakan yang diambil antara lain berupa penyesuaian batasan auto rejection bawah menjadi minus 7 persen di semua pasar, serta buyback saham yang memang masih diberlakukan.
Baca juga : Singapura Bantah Recoki Bursa Saham Indonesia
Selain itu, juga ada pertemuan dengan para pelaku pasar, media, para investor baik domestik maupun investor global, dan para penyedia indeks global. Serta pengawasan dan pemantauan kondisi pasar dari waktu ke waktu. Ditambah informasi penegasan tentang penegakan hukum.
"Ini semua alhamdulillah telah dapat memberikan setidaknya informasi yang berimbang dan faktual mengenai kondisi yang terjadi, dan apa yang akan kita lakukan di saat-saat mendatang," tutur Hasan.
"Kami yakin, ini telah digunakan dengan baik oleh para investor sebagai referensi dalam menentukan strategi perdagangan di sepanjang minggu yang lalu," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.