Sebelumnya
Chief Economist dari International Energy Agency (IEA), Laszlo Varro mengatakan industri hulu migas Indonesia memiliki banyak keunggulan komparatif, di antaranya adalah kondisi demokrasi yang stabil serta fakta bahwa industri ini sudah beroperasi di nusantara lebih dari seratus tahun dan diminati oleh perusahaan-perusahaan internasional.
Akan tetapi dia mengingatkan bahwa saat ini dunia sedang bertransisi kepada pemakaian energi terbarukan sehingga ke depan investasi di hulu migas akan semakin terbatas.
"Akan ada pemain yang tidak mendapatkan kesempatan karena kompetisi untuk menarik investasi akan sangat ketat," ujarnya.
Baca juga : Bappenas Dorong Penerapan SDGs Hadapi Pandemi Corona
Untuk Indonesia, Laszlo menilai potensi yang sangat besar adalah pengembangan proyek enhanced oil recovery (EOR) dan pemanfaatan gas CO2. Terkait dengan LNG, menurutnya potensi terbesar adalah mengembangkan fasilitas kilang LNG mini untuk memenuhi kebutuhan gas industri domestik.
Ketatnya persaingan seiring meningkatnya penggunaan energi terbarukan juga menjadi salah satu poin yang dibahas oleh Guy Outen, Senior Advisor dari Boston Consulting Group.
Menurutnya, ke depan, proyek-proyek hulu migas harus benar-benar didesain dengan baik. "Hanya proyek terbaik dan paling kompetitif yang akan berhasil (menarik investasi)", ujarnya.
Baca juga : Airlangga Targetkan Aturan Turunan UU Ciptaker Kelar Akhir Bulan Ini
Sementara itu Acting President Indonesian Petroleum Association (IPA) Bij Agarwal mengatakan perusahaan migas menyambut baik kebijakan pemerintah yang mengharuskan operator menggunakan konten lokal serta mengembangkan kapasitas mereka.
Namun, menurutnya, mitra-mitra lokal yang bekerja sama dengan operator juga harus menjalankan upaya mengembangkan kapasitas sumber daya mereka terutama terkait penguasaan teknologi dan efisiensi biaya. "Hal ini penting karena yang kita inginkan adalah menarik investasi ke Indonesia," ujarnya.
Penekanan tentang pentingnya keterbukaan data disampaikan oleh Stuart Payne, salah satu direktur otoritas minyak dan gas bumi Inggris atau the United Kingdom Oil and Gas Authority (OGA).
Baca juga : Elektabilitas DS-Sahrul Tertinggi Dari 3 Paslon
Menurutnya, data migas yang tersedia harus memberikan informasi yang cukup bagi investor, baik terkait potensi maupun permasalahan yang mungkin timbul.
Dia mencontohkan langkah yang dilakukan Inggris pada saat mereformasi industri hulu migas di awal tahun 2019 di mana OGA meluncurkan repository data nasional untuk informasi.
"Kebijakan ini memberikan perubahan besar pada usaha-usaha menarik investasi yang kami lakukan," ujarnya. [JAR]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.