Sebelumnya
Teten berharap, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tasikmalaya mampu menjawab kebutuhan bahan baku usaha briket, dengan cara menambah kebun kelapa dan merestorasi kebun bambu. “Pasar ada, tapi belum optimal. Artinya, supply chain belum terhubung dengan baik," imbuh Teten.
Direktur Utama LPDB-KUMKM Supomo menambahkan, sejalan dengan program pemerintah, saat ini produk dari koperasi sektor riil maupun produk UMKM berorientasi ekspor tengah ditingkatkan. Baik dari sisi produksi, akses pasar, tata kelola, dan pembiayaan.
Dari sisi pembiayaan, pemerintah melalui Kemenkop UKM juga mendorong peningkatan pembiayaan koperasi sektor riil melalui LPDB-KUMKM.
Baca juga : Pemerintah Monitor Ketat Kasus Covid-19 Di Daerah
Harapannya, semakin banyak koperasi sektor riil yang mengakses pembiayaan dari LPDB-KUMKM yang mudah, murah, dan cepat. "Juga mampu memberikan pembiayaan yang akuntabel dan profesional kepada para anggota dan pelaku UMKM yang tergabung dalam koperasi," ujar Supomo.
Sementara itu, Direktur CV Mandiri Persada Dewi Sinta mengungkapkan, Mandiri Persada merupakan anggota dari Koperasi Makmur Mandiri (KMM) yang juga mitra LPDB-KUMKM. Sejak dibina KMM dan LPDB-KUMKM, ekspor briket yang tadinya hanya 6 kontainer menjadi 19 kontainer per bulan.
Untuk pembiayaan, produsen briket ini telah mendapatkan pembiayaan dari KMM sebesar Rp 2,5 miliar melalui dua tahap. Yakni, pada 2020 sebesar Rp 1,5 miliar dan 2021 sebesar Rp 1 miliar. “Itu digunakan sebagai modal kerja, mulai dari produksi, proses ekspor, dan pembelian bahan baku," ujar Dewi.
Baca juga : Menteri Teten Lepas 18 Kontainer Kopi Arabica Gayo Ke AS Dan Eropa
Dewi menjelaskan, produk dari CV Mandiri Persada ini menggunakan bahan baku batok kelapa dan arang bambu alami yang ramah lingkungan untuk kebutuhan bahan bakar domestik. Mulai dari memasak, pemanggangan, pengasapan pipa air, serta kebutuhan sisha, hookah, dan argileh.
Ia mengaku, meski permintaan meningkat, masih menemui beberapa kendala seperti ketersediaan bahan baku dan mahalnya ongkos pengiriman.
“Bahan baku tempurung kelapa berasal dari Aceh, Medan, Pangandaran, dan Sulawesi. Kita banyak menolak buyer karena keterbatasan bahan baku," ujarnya.
Baca juga : Begini Jurus Menteri Teten Kerek Ekspor UMKM
Sementara terkait pengiriman, Dewi mengungkapkan, kendalanya terletak pada lamanya pengiriman dan mahal. "Kapal tidak mau mengangkut arang, takut meledak. Padahal, produk kita aman tidak meledak dan sudah disurvei lembaga berwenang," jelas dia. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.