RM.id Rakyat Merdeka - Residensi Pemajuan Kebudayaan, program yang digagas oleh Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), menjadi wadah kolaborasi seniman lintas negara dalam berkreasi untuk ikut turut serta memajukan kebudayaan Indonesia.
Sebanyak 18 peserta internasional yang berpartisipasi pada program ini telah menyelesaikan pelatihannya selama residensi.
Mereka menghasilkan karya kolaborasi bersama 30 peserta masional serta 23 peserta lokal di masing-masing lokasi pelaksanaan.
Di Pekanbaru, Provinsi Riau yang terbagi menjadi empat grup telah menghasilkan karya kolaborasi musikalisasi dari tradisi lisan melalui karya-karya musikal.
Grup Satu akan menampilkan "UTOPIALLITY Vol. 1. Karya ini merupakan karya musik elektro-akustik eksperimental yang merespon tradisi lisan dari cerita rakyat "Sibongsu dan Sicuriang" yang berasal dari Rokan Hulu, Riau.
Grup Satu merepresentasikan kisah cinta sejoli yang penuh magis dan tragedi itu, melalui komposisi musik yang menggabungkan unsur-unsur tradisi lisan setempat, seperti Koba, Baandung, Badandong, dan Malalak.
Grup Dua menampilkan “The Sansuduong,” yang disajikan secara ansambel dan dimainkan dalam format electro-acoustic.
Baca juga : Jeda Internasional, Persib Bandung Pulihkan Pemain Cedera
Penggunaan soundscape dalam komposisi menekankan suasana yang beragam atas penghayatan alam di Kampar. Basis skala/scale pada karya ini dipengaruhi oleh tradisi lisan Baghandu, Melalak dan Badondong.
Grup Tiga akan menampilkan "Metaphysical Riverside" sebagai interpretasi terhadap keberagaman Sastra lisan di Kampar sebagai bagian dari spiritualitas masyarakatnya, hal ini terlampir pada Sastra Kuno Gurindam 12 pada Rangkap 7.
Adapun Grup Empat akan menampilkan “BONSU”, sebagai rekonstruksi metode pengkaryaan dalam konteks perlindungan sastra.
Atau, upaya untuk menjaga, melestarikan, serta mempertahankan dan mengembangkan sastra agar tetap digunakan oleh masyarakat pemilik sastra sebagai warisan budaya.
Dalam proses pengkaryaannya berupaya membangun pengulangan yang terjadi dalam membentuk struktur musikal, yang terbagi dalam bentuk triologi.
Para peserta residensi yang berlokasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah menghasilkan karya kolaborasi yang merupakan pengembangan Olahraga Tradisional Jemparingan melalui karya Teatrikal, yakni "Manah Jemparingan".
Selain itu, melalui residensi ini juga akan digagas sebuah pameran yang mengangkat Jemparingan "Pameran Olahraga dan Olahrasa".
Baca juga : Anggaran Pertanian Harusnya Dinaikkan
Dengan pameran ini, diharapkan masyarakat akan lebih mengenal lebih jauh akan Jemparingan, bukan hanya sebagai olahraga tradisional, tetapi mengolah rasa melalui kepekaan-kepekaan yang bersumber dari indera manusia.
Untuk lokasi terakhir, yakni di Losari, Cirebon, Jawa Barat, telah menghasilkan karya kolaborasi interdisiplin seni dengan judul “Tarian Agung dari Losari".
Karya ini merupakan museum hidup yang diungkapkan melalui tarian, video, dan buku. Tarian yang akan ditampilkan yaitu Tari Klana Bandopati dan Tari Gonjing.
Untuk video akan dokumenter berdurasi 10 menit mengenai hasil dari perjalanan residensi di Losari.
Lalu terakhir adalah buku yang merupakan upaya pengumpulan data dan infografis tentang budaya Losari melalui Tari Topeng Losari.
Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan, Kemendikbudristek Restu Gunawan mengatakan, aspek pembinaan terhadap Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK) merupakan hal penting dalam rangka menjalankan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Begitupun dengan hasil residensi yang bersumber kepada OPK, yang menurutnya sejalan dengan aspek lainnya, yakni pengembangan.
Baca juga : Siapkan Layanan Internet, Data Lake dan Starlink Genjot Penjualan di e-Commerce
"Keluaran program ini diharapkan dapat menciptakan bentuk-bentuk kolaborasi pelestarian OPK berupa karya kreasi baru atau bentuk lainnya dari hasil residensi atau pembelajaran intensifnya bersama pelaku budaya," ujar Restu.
Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid menyampaikan bahwa hasil program ini sesuai dengan harapannya.
Yakni, para peserta dapat berkolaborasi menghasilkan karya baru yang bermanfaat bagi peningkatan kapasitasnya dalam pemajuan kebudayaan Indonesia dan membangun jejaring pelaku budaya antara Indonesia dan dunia internasional.
"Oleh karena itu, keberlangsungan program ini tentunya perlu didukung, mengingat manfaat jangka panjangnya bagi pelaku budaya Indonesia, yakni memperluas dan memperkuat jejaring pelaku budaya di kancah internasional." tutup Hilmar Farid.
Keseluruhan dari karya kolaborasi dari residensi yang berlangsung sepanjang Agustus 2024 ini akan ditampilkan melalui pertunjukan (THE SHOWCASE: Residensi Pemajuan Kebudayaan 2024) yang diselenggarakan pada 31 Agustus 2024.
Adapun pertunjukan yang berlangsung di Halaman Taman Fatahillah, Kawasan Kota Tua Jakarta, mulai pukul 19.00 WIB ini dapat disaksikan secara gratis oleh masyarakat luas dan disiarkan langsung melalui Youtube Resmi Kemendikbud RI.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.