Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Eksistensi Ideologi Transnasional Ancaman Nyata Bagi Keutuhan NKRI
Sabtu, 6 Juli 2024 15:01 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Telah dicabutnya status badan hukum organisasi transnasional yang membawa paham khilafah ternyata tidak menghilangkan gerakan mereka. Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta Amir Mahmud menjelaskan, hal itu karena pemikiran dan cita-cita khilafah yang sudah mengakar serta tersedianya internet dan media sosial menjadi ladang subur bagi pergerakan mereka.
Ia mengungkapkan, beda halnya dengan keputusan hukum yang sifatnya konkret, militansi kader paham khilafah yang terbentuk dari ideologi sangat sulit untuk dihilangkan. Pemikiran inilah yang mampu bertahan walaupun penggagas awalnya sudah lebih dulu tutup usia.
“Ideologi khilafah seolah mampu menjawab persoalan yang ada di Indonesia. Sama dengan ideologi lain pada umumnya, khilafah secara pemikiran tidak akan bisa benar-benar hilang. Pemikirannya masih bisa kita temukan dan bahkan mampu mempengaruhi generasi muda Indonesia,” ujar Amir, dalam keterangan yang diterima redaksi, Sabtu (6/7/2024).
Baca juga : Bamsoet Ajak Seluruh Kader FKPPI Terus Jaga Keutuhan NKRI
Menurutnya, penganut pergerakan ini juga memiliki proses penggalangan atau pendekatan terhadap lapisan masyarakat tertentu, khususnya generasi muda. Ini dilakukan untuk memastikan ideologi khilafah akan terus bertahan walau zaman berganti. Proses penggalangan ini biasanya diawali dengan mengemukakan narasi yang sedang trending sesuai dengan waktunya.
Misalnya saja, ketika nilai tukar rupiah menurun, penganut paham radikal ini akan melempar propaganda bahwa Indonesia gagal secara ekonomi. Ujungnya, mereka akan “menjual” khilafah sebagai solusi universal seluruh permasalahan Indonesia.
“Mereka memiliki konsep ‘tafa’ul ma’al ummah’ yang berarti mendekatkan diri pada masyarakat. Bahan interaksinya pun sebenarnya bisa dengan mudah kita temukan di internet. Mereka akan menyoroti citra atau isu negatif Pemerintah, lalu mengemasnya sebagai salah satu alasan kenapa sistem khilafah diperlukan,” jelas Amir.
Baca juga : Disebut Cengeng, Timnas Amin Mau Bikin Hotman Paris Nangis Di Sidang MK
Dirinya juga menyebutkan, organisasi terlarang sudah biasa berganti nama sebagai upaya untuk menghilangkan jejak. Walaupun demikian, jaringan ini sebenarnya punya lingkaran pergaulan yang bisa dilacak. Bergantinya nama atau terpecahnya organisasi radikal seringkali tidak dibarengi dengan rotasi kader, sehingga nama-nama lama kembali muncul di organisasi yang baru.
Direktur Amir Mahmud Center ini mengatakan, kelompok radikal telah banyak belajar dari kegagalan mereka diterima oleh masyarakat luas. Maka dari itu, pola pendekatan para kelompok dengan ideologi transnasional menjadi lebih humanis dan terlihat bersahabat dengan warga.
"Mereka mulai mengadakan santunan terhadap warga sekitar, serta mengikuti kegiatan kerja bakti yang rutin dilakukan di beberapa wilayah. Sekilas, yang mereka lakukan ini adalah hal yang baik, namun perlu diingat bahwa perbuatan ini didasarkan pada ideologi mereka yang sudah mengakar dan kebutuhan akan eksistensi dari ideologi itu sendiri,” terangnya.
Baca juga : AHY Beri Kuliah Umum Di Seskoal, Paparkan Tata Ruang Pertahanan RI
Amir berharap, Indonesia bisa tetap kuat dari berbagai upaya destabilisasi yang gencar dilakukan, khususnya dari kelompok dan jaringan teror. Umat Islam di Indonesia sudah sepatutnya bersyukur karena bisa dinaungi Pancasila dan UUD 1945 dalam menjalani kehidupan sebagai warga negara dan umat beragama.
“Marilah kita memperkuat jiwa kita terhadap NKRI ini. Harapannya, akan muncul kedamaian serta ketenangan yang kita harapkan sebagai rakyat Indonesia," ucapnya.
Kata dia, dunia internasional sudah menjadikan Indonesia sebagai role model kehidupan masyarakat dengan beraneka latar belakang. "Jangan sampai NKRI ini diobok-obok, dirusak oleh para pendatang yang seringkali mengglorifikasi simbol keagamaan, nasab, dan sebagainya. Negara Indonesia bukan milik suatu kaum saja, tapi milik seluruh rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, yang setia pada konsensus bernegara,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya