RM.id Rakyat Merdeka - Masuknya Indonesia menjadi anggota BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa) tidaklah instan. Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono menegaskan, keputusan itu sebagai wujud nyata diplomasi bebas-aktif yang selama ini dijalankan Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Sugiono dalam Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri, di Kantor Kementerian Luar Negeri (Kemlu), Jakarta, Jumat (10/1/2025). Acara ini dihadiri para duta besar negara sahabat. Saking banyaknya duta besar, mobil-mobil berpelat CD memenuhi sekitaran gedung Kemenlu. Bahkan, beberapa ada yang parkir di Kementerian Agama, Hotel Borobudur, di Monas. Hadir juga dua Pimpinan Komisi I DPR: Anton Sukartono Suratto dan Ahmad Heryawan. Ada juga Menlu terdahulu, seperti Hassan Wirajuda dan Alwi Shihab.
Sebelum Sugiono memberikan pernyataan, Kemlu terlebih dahulu memberikan sejumlah penghargaan. Pertama, Digital Diplomacy Awards yang sebelumnya dikenal Social Media Awards. Penghargaan ini dinilai menggunakan Artificial Intelligence. Lalu, memberikan penganugerahan Adam Malik Awards kepada sejumlah media.
Usai memberikan penghargaan, Sugiono naik podium. Ketua DPP Partai Gerindra ini tampil rapi dengan stelan jas hitam, lengkap dengan peci.
Dalam paparannya, Sugiono menyampaikan hal-hal yang akan dicapai dalam setahun ke depan. Paparannya sangat lengkap. Layar besar di belakangnya menyajikan beragam teks, data, gambar, dan video. Hampir 1 jam Sugiono bicara di atas podium.
Baca juga : Kebakaran Hutan Makin Ganas, Los Angeles seperti Neraka
Dia menyebut, Pemerintah telah berani mengambil langkah konkret melalui diplomasi aktif yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto. Banyak harapan dari pemimpin dunia kepada Indonesia untuk berperan lebih di panggung internasional.
Sugiono menerangkan, tugas pertamanya sebagai Menlu, ketika mewakili Prabowo pada pertemuan BRICS Plus Summit, di Kazan, Rusia, Kamis (24/10/2024). "Di sana, Indonesia menyatakan keinginan untuk bergabung dan masuk menjadi anggota penuh BRICS," tutur Sugiono.
Hasilnya, dalam waktu kurang dari 3 bulan, anggota BRICS sepakat dan memutuskan menerima Indonesia sebagai anggota penuh. Kata dia, hal itu menunjukkan bahwa Indonesia dipandang sebagai negara penting.
Dia lalu bicara anggapan sebagian pihak yang menyebut bergabungnya Indonesia ke BRICS sebagai sesuatu yang melenceng. Sugiono tegas menampiknya. Kata dia, justru sebaliknya, keputusan ini sebagai wujud politik luar negeri yang bebas aktif.
"Karena keputusan ini bukanlah hasil kerja semalam. Melainkan buah dari kiprah, konsistensi, dan keteguhan diplomasi Indonesia selama puluhan tahun," tegas mantan Wakil Ketua Komisi I DPR ini.
Baca juga : Soal Pagar Laut Di Pesisir Tangerang, Prabowo Turun Tangan
Dia memastikan, sebagai anggota BRICS, Indonesia akan menjembatani kepentingan negara-negara berkembang dan kawasan Indo-Pasifik. Selain itu, Indonesia juga akan terus aktif mencegah meruncingnya persaingan geoekonomi dan geopolitik.
Menurutnya, keanggotaan Indonesia dalam BRICS bukanlah kebijakan yang terisolir. Sebab, Indonesia juga aktif dalam Group of Twenty (G20), Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), Indo-Pacific Economic Framework for Prosperity (IPEF), Meksiko, Indonesia, Korea, Turki, dan Australia (MIKTA), dan The Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP).
"Dan sekarang, kita sedang dalam tahap aksesi sebagai anggota OECD (The Organisation for Economic Co-operation and Development)," ungkap Sugiono.
Pemerintah menilai, banyak keuntungan dari BRICS. Kata Menteri Perdagangan Budi Susanto, kerja sama di bidang perdagangan akan semakin luas. Sehingga kinerja ekspor akan meningkat.
Budi menegaskan, keanggotan ini bukti bahwa Indonesia terbuka bagi dunia. "Kerja sama ekonomi dengan siapa pun terbuka. Ya, pasti sudah dikaji mendalam keikutsertaan ini, yang mudah-mudahan semuanya lebih baik," ungkap Budi.
Baca juga : Pram Gubernur DKJ, Bukan Gubernur DKI
Dengan Indonesia masuk BRICS, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia membuka kemungkinan membeli minyak dari Rusia. Ia memastikan, Indonesia akan memaksimalkan peluang kerja sama, asal tidak melanggar aturan, dan tentunya menguntungkan.
Hal ini tak hanya berlaku bagi negara anggota BRICS, tetapi juga dengan OECD. "Artinya, semua peluang yang menguntungkan Indonesia, baik bergabung dengan BRICS maupun dengan OECD, itu saya pikir nggak ada masalah," tegas Bahlil.
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan, keanggotan ini memungkinkan aliran investasi dari anggota BRICS lain. Dengan begitu, aktivitas ekonomi akan meningkat pesat.
Meski begitu, Jeffrey belum membahas lebih lanjut terkait kerja sama dengan bursa dari negara lainnya. Saat ini, kerja sama yang telah berjalan dengan bursa asing adalah dengan Hong Kong Exchanges and Clearing Limited (HKEX).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.