BREAKING NEWS
 

Dalang Cilik Hingga Game Santri, Kemkomdigi Ajarkan Anak Bijak Di Dunia Digital

Reporter : FAJAR EL PRADIANTO
Editor : BAMBANG TRISMAWAN
Sabtu, 8 November 2025 18:29 WIB
Dalang cilik Adimas Alby Elsani Widyaputra memukau santri dengan lakon wayang bertema tanggung jawab digital di Pesantren Assalafiyyah, Yogyakarta. (Dok. Komdigi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mengajak santri di Yogyakarta belajar jadi warga digital yang cerdas dan beretika. Pesannya disampaikan lewat wayang, permainan tradisional, dan karya santri.

Suasana Pondok Pesantren Assalafiyyah di Mlangi, Yogyakarta, Jumat (7/11/2025), berubah semarak. Tawa anak-anak dan musik permainan tradisional menggema di halaman pesantren. Cara Kemkomdigi untuk membawa misi mendidik anak-anak jadi pengguna gawai yang bijak. 

Kegiatan bertajuk “SAHABAT TUNAS: Bersama Menjaga Ruang Digital Ramah Anak” ini digelar Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media (KPM) Kemkomdigi. Program ini mendukung penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas).

“Melalui kegiatan SAHABAT TUNAS, kami ingin anak-anak memahami hak dan kewajiban sebagai pengguna digital yang bertanggung jawab,” kata Direktur Jenderal KPM Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya dalam siaran pers.

Ia menegaskan, literasi digital bukan hanya soal kecakapan teknis. Anak juga perlu tahu batasan konten yang layak, bisa membagi waktu, dan tidak kehilangan interaksi sosial di dunia nyata.

Baca juga : Nakamichi Hadirkan Inovasi Terbaru di Dunia Car Audio Indonesia

“Pendampingan dari orang tua sangat penting agar anak tidak tersesat di dunia digital,” ujar Fifi.

Pesan itu disampaikan dengan cara yang menarik. Santri dan siswa sekolah dasar (SD) serta madrasah tsanawiyah (MTs) diajak menonton pertunjukan Wayang Golek. Dalang cilik bernama Adimas Alby Elsani Widyaputra tampil memukau lewat lakon bertema tanggung jawab digital.

Dalam pertunjukan itu, Adimas menekankan pentingnya PP Tunas sebagai bentuk perlindungan negara terhadap anak-anak di ruang digital. Wayang dipilih karena dekat dengan budaya pesantren dan mampu menyampaikan nilai moral secara ringan.

Adsense

“Wayang bisa membuat anak lebih mudah memahami pesan moral tanpa merasa digurui,” kata Adimas.

Selain wayang, kegiatan ini juga menampilkan kesenian silat, permainan tradisional seperti congklak dan enggrang, serta pameran aplikasi dan gim buatan santri. Semua dirancang agar anak tetap aktif di dunia nyata, tidak hanya sibuk menatap layar.

Baca juga : Bicara Di She-Connects 2025, Menkomdigi Dorong Perempuan Kuasai Dunia Digital

“Anak-anak perlu ruang aman untuk berkreasi dan belajar, baik di dunia digital maupun di luar gawai,” ujar Fifi.

Kemeriahan acara menjadi bukti bahwa literasi digital bisa dikemas dengan cara yang menyenangkan. Santri diajak mengenal teknologi tanpa meninggalkan akar budaya dan nilai sosial.

Melalui program SAHABAT TUNAS, Kemkomdigi berharap pesantren dapat menjadi pelopor pendidikan digital yang berimbang antara kecerdasan teknologi dan kedewasaan moral.

“Kami ingin membangun generasi anak digital yang sopan, kreatif, dan sadar batas,” kata Fifi.

Kegiatan ini diikuti hampir 300 siswa dari berbagai sekolah di sekitar pesantren. Mereka antusias mencoba gim karya santri dan ikut lomba permainan tradisional.

Baca juga : Erdogan Hingga Modi Sambut Baik Kesepakatan Awal Damai Israel-Hamas

Melalui pendekatan budaya dan edukasi interaktif, SAHABAT TUNAS diharapkan menjadi model baru literasi digital bagi anak di Indonesia.

“Anak-anak harus tumbuh di dunia digital yang aman, ramah, dan beretika,” ujar Fifi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense