RM.id Rakyat Merdeka - Kabar baik datang dari bidang kesehatan masyarakat. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, angka prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 persen, dari 21,5 persen pada tahun sebelumnya. Artinya, ada penurunan sekitar 357 ribu anak dalam setahun terakhir.
Penurunan ini disambut syukur oleh Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka yang menilai capaian tersebut merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, sekaligus kelanjutan dari program pemerintahan sebelumnya.
“Alhamdulillah, ini atas arahan Bapak Presiden, kita berhasil menekan angka prevalensi stunting di 2024 menjadi 19,8 persen atau lebih baik dari proyeksi Bappenas yang 20,1 persen,” ujar Gibran saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Percepatan Penurunan Stunting Tahun 2025 di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (12/11/2025).
Wapres menjelaskan, penurunan angka stunting juga diikuti dengan perbaikan indikator gizi lain, seperti penurunan balita wasting (kurus), overweight, serta anemia pada ibu hamil.
Baca juga : Wapres Gibran Ajak Kerja Keroyokan Turunkan Stunting Jadi 14,2 Persen
Meski begitu, Gibran mengingatkan agar seluruh pemangku kepentingan tetap bekerja keras untuk mencapai target 14,2 persen pada 2029 dan 5 persen pada 2045.
“Kuncinya adalah sinergi antara pusat dan daerah. Semua pihak harus berjalan bersama, mengawal program ini sampai tuntas,” tegasnya.
Ia juga meminta kepala daerah meniru praktik terbaik dari wilayah yang berhasil menekan angka stunting di bawah rata-rata nasional. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, 12 provinsi telah mencatat prevalensi di bawah 19,8 persen, termasuk Jawa Barat yang turun signifikan sebesar 5,8 persen.
Baca juga : MBG Berdampak Nyata: Stunting Turun, Pola Makan Sehat Anak Terbentuk
Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan menyampaikan, penurunan itu hasil dari komitmen pimpinan daerah, kolaborasi lintas sektor, dan pembentukan tim pendamping daerah di setiap kabupaten/kota.
Sementara itu, Kabupaten Klungkung, Bali, menjadi daerah dengan angka stunting terendah secara nasional, hanya 5,2 persen. Bupati Klungkung I Made Satria mengungkapkan inovasi daerahnya melalui program KASINIKAH (Kami Siap Menikah), yang mendorong remaja putri calon pengantin melakukan pencegahan anemia sebelum menikah.
“Kami dampingi calon pengantin sejak dini agar kesehatannya terjamin sebelum menikah. Itu terbukti efektif menekan stunting di generasi berikutnya,” kata I Made.
Dalam kesempatan itu, Wapres juga menekankan pentingnya basis data tunggal nasional agar kebijakan penurunan stunting lebih tepat sasaran.
Baca juga : Kinerja Solid, MDLA Bukukan Pendapatan Rp 11,1 T, Laba Naik 16,3 Persen
“Jangan sampai tiap lembaga punya data berbeda-beda. Semua kebijakan harus berbasis satu data,” tegasnya.
Sebagai bentuk apresiasi, Wapres Gibran menyerahkan Dana Insentif Fiskal (DIF) Tahun Berjalan 2025 kepada sepuluh pemerintah daerah yang dinilai berprestasi dalam menurunkan stunting. Mereka adalah: Provinsi Sumatera Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, serta Kabupaten Bojonegoro, Bintan, Sidenreng Rapang, Morowali, Tangerang, dan Kota Sukabumi serta Blitar.
Wapres hadir didampingi oleh Menko PMK Pratikno, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Muhaji.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.